Please Love Me

Please Love Me
Bab 236


__ADS_3

Ronald tersenyum kemudian melangkah mendekati kekasihnya. Mereka hari ini janjian untuk berkencan, dan tentunya hal itu mereka lakukan diam-diam, karena Max masih saja tidak menyukai Ronald. Untuknya Kakaknya Vano membantunya keluar tanpa sepengetahuan orang suruhan Max yang terus saja mengawasinya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Ronald mengecup kening Liora sebelum akhirnya pria itu duduk tepat di hadapan gadis itu.


"Hmm tidak apa-apa, untungnya disini banyak pria tampan sehingga aku bisa cuci mata selagi menunggumu," jawab Liora.


Ronald langsung menatap ke sekeliling dan benar saja di sana banyak pria yang mungkin masih kuliah duduk di sekitar kekasihnya.


"Oh jadi itu yang kamu lakukan disaat tidak bersama kekasihmu, lagian dibandingkan anak-anak itu, akulah yang paling tampan," ucap Ronald dengan percaya diri.


"Masa sih?" Liora menatap Ronald dan para pria itu, tapi belum juga menatap para pria itu, Ronald justru lebih dulu mengalihkan wajah Liora agar hanya menghadap ke arahnya.


"Cukup lihat aku saja baby! Aku tidak mau kamu kepincut sama anak-anak abg itu," ucap Ronald dan itu membuat Liora tidak bisa menahan tawanya.


"Oh jadi kekasihku ini pria yang posesif," ujar Liora kemudian melepaskan tangan Ronald dari wajahnya dan menggenggamnya erat.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan kepincut sama mereka, karena sudah ada satu cowok tampan di depanku," tambahnya menatap Ronald dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.


"Benarkah?"


"Hmm tentu saja," jawab Liora dan Ronald pun tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Oh ya apa kamu sudah memesan makanannya?"


"Hmm iya, sebentar lagi pasti datang," kata Liora dan benar saja tak lama makanan yang dipesannya pun akhirnya dihidangkan.


"Terima kasih," ucap Liora pada pelayan begitu pelayan itu selesai menghidangkan makanan pesanannya.


"Apa ada yang ingin kamu katakan baby?" Tanya Ronald yang melihat jika Liora seperti ingin berbicara dengannya.


"Aku sudah pulang dari kemarin, setelah aku memikirkan semuanya, aku pikir yang kamu katakan ada benarnya, dan aku pun memutuskan untuk kembali.


"Bagus dong, terus bagaimana?"

__ADS_1


"Hmm ya tidak gimana-gimana, yang jelas mami dan papi senang melihat aku pulang. Tapi Kak Max…"


"Max kenapa?"


"Hmm tidak apa-apa, hanya saja kita perlu berjuang ekstra untuk bisa mendapatkan restu darinya."


"Kamu tidak perlu khawatir biar aku yang berusaha untuk meyakinkan Max bahwa aku pantas menjadi adik iparnya," jawab Ronald.


Mendengar kata adik ipar seketika membuat pipi Liora bersemu merah.


"Kenapa wajah kamu memerah baby? Apa kamu sakit?" Tanya Ronald cemas dan dengan segera menempelkan punggung tangannya di kening Liora.


Liora hanya bisa memalingkan wajahnya, agar Ronald tidak bisa melihatnya. 


"Hahaha," tiba-tiba Ronald tertawa.


Membuat Liora terpaksa langsung menatap ke arah pria itu, apa ada yang salah dengan dirinya sampai Ronald tertawa seperti itu.


"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Liora sambil mengernyitkan dahi bingung.


"Oh jadi begitu?" Liora langsung bangkit dari duduknya.


"Aku bukan wanita-wanitamu, kami jelas orang yang berbeda, jadi jangan banding-bandingkan aku dengan mereka, aku memang menerima masa lalumu, tapi itu bukan berarti kamu menyamakan aku dengannya," tambahnya dan langsung pergi meninggalkan Ronald yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah berucap.


"Baby tunggu! El! Aku bisa jelaskan," kata Ronald yang kini mengejar Liora.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja," ucap pelayan yang tidak sengaja menabrak Ronald.


"Kau!" Ronald menghela nafas, bukan itu yang penting sekarang, yang lebih penting adalah menjelaskan pada Liora tentang ucapannya tadi, dia tidak mau jika sampai Liora marah padanya, apalagi ini pertama kalinya mereka berkencan dan kini mereka justru sedang bertengkar, karena Ronald membicarakan hal yang tidak seharusnya dibicarakan.


Tapi terlambat Liora kini sudah masuk ke dalam mobilnya.


"El buka dulu El, aku minta maaf, aku tahu aku salah bicara, please El jangan marah dong!" Ucap Ronald sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil Liora.

__ADS_1


Entah kenapa Liora benar-benar marah, sebenarnya bukan karena Ronald membicarakan wanitanya, Liora sudah bersiap jika suatu saat memang dirinya harus menghadapi hal itu, baik jika Ronald tidak sengaja membahasnya ataupun jika suatu saat wanita yang pernah ada di kehidupan Ronald datang. Tapi mendengar para wanita Ronald dulu begitu agresif dan menggoda kekasihnya itu, membuat hati Liora meradang, Liora begitu marah dan kesal, tapi Liora juga tidak bisa berbuat apa-apa karena semuanya sudah terjadi. Rupanya dia belum benar-benar siap menerima semua masa lalu Ronald. Liora bahkan tidak membayangkan sejauh apa yang dilakukan kekasihnya kepada wanita-wanita yang dulu pernah berkencan dengannya.


Tanpa menunggu Ronald menjelaskan, Liora langsung menjalankan mobilnya, saat ini dia ingin menenangkan diri dulu, meredakan kemarahannya.


"El! Teriak Ronald.


"Si*al!" Umpat Ronald meninju udara karena Liora tidak mau mendengarkan penjelasannya.


.


.


"Tenang Liora! Tenang!" Ucap Liora pada dirinya sendiri, pikirannya begitu kacau, bahkan perasaannya saat ini, entahlah Liora tidak bisa menjelaskannya, yang jelas ada rasa kecewa, sedih, marah, kesal, cemburu, semua bercampur menjadi satu.


Liora menepikan mobilnya, menelungkupkan wajahnya pada setir kemudi. 


"Apakah aku kekanak-kanakan? Tapi bukankah wajar jika aku marah?" Gumam Liora pada dirinya sendirinya.


Liora yang sedang berperang dengan dirinya sendirinya, teralihkan saat mendengar ponselnya berdering. Liora melihat dan nama Ronald tertera di layar ponselnya. Gadis itu kini tampaknya sedang bimbang antara menjawabnya atau tidak, setelah berpikir cukup lama, akhirnya gadis itu pun memilih untuk menjawab panggilan itu.


"Halo!"


"El aku bisa jelaskan, sekarang kamu dimana? Aku akan kesana sekarang!" Ucap Ronald begitu mendengar suara Liora menjawabnya.


"Sudahlah, aku tidak mau membahas hal itu, lupakan, aku baik-baik saja, dan kamu lebih baik pulang saja. Kita bertemu besok," ucap Liora.


"Tunggu El!" Kata Ronald saat Liora akan memutuskan panggilan telepon mereka. 


"Kenapa?"


"Kamu hati-hati," ucap Ronald dan setelah itu barulah Liora mengakhiri panggilan telepon mereka.


Ronald menghela nafasnya panjang, Liora gadis yang sulit ditebak, tiba-tiba marah, tiba-tiba luluh, entahlah, tapi hal itu yang membuat Ronald semakin penasaran dengan gadis yang kini menjadi kekasihnya itu. Karena biasanya, wanita-wanitanya jika sudah dikasih uang ataupun dibelikan barang-barang branded, pasti tidak bisa marah padanya, justru akan terus semakin menggodanya.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus lebih berjuang untuk mendapatkanmu El," ucap Ronald sambil tersenyum dan kemudian masuk ke mobilnya, tapi saat akan menjalankannya tiba-tiba dia mengerem mobilnya mendadak, saat hampir saja menabrak seseorang.


__ADS_2