
Liora langsung menoleh, dia kembali menghela nafasnya, setelah tahu siapa yang datang saat ini.
"Kamu mau apalagi?"
"Aku ingin bicara El," ucap pria itu.
"Ikut aku!" Ucap Liora yang kemudian membawa Ronald menjauh dari rumahnya, tidak ingin jika Stevano ataupun Jasmine melihatnya.
Liora berhenti, berbalik dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang ingin kamu katakan, aku beri waktu lima menit," ujar Liora.
"Sepuluh menit, beri aku waktu sepuluh menit El."
"Tiga menit!"
"Baiklah lima menit," pasrah Ronald.
"Cepat katakan!"
"Kamu salah paham soal foto-foto yang diberikan Max padamu, salah satunya, dia adalah adikku, dan yang lain…"
"Mantan kekasihmu kan? Sudahlah, aku sudah tahu," kata Liora yang akan berbalik pergi tapi Ronald segera menahannya.
"Benar, jika mereka mantanku, tapi El aku memang sengaja menemui mereka, aku…"
Liora tiba-tiba tertawa, tapi air matanya justru menetes begitu saja.
"Kamu sengaja menemuinya dan menghabiskan malam bersama mereka, itu yang ingin kamu katakan? Kenapa? Kamu melakukan itu untuk mempermainkanku? Karena menurutmu aku sama dengan wanita-wanitamu, dan kamu kecewa karena aku berbeda dengan mereka iya?"
"El, kamu memang berbeda, itulah kenapa aku jatuh cinta padamu, tapi El, sungguh kamu salah paham, aku menemui mereka bukan karena aku melakukan seperti apa yang tadi kamu katakan, tapi aku…"
"Tapi apa? Kenapa diam? Kamu sedang mencari alasan yang tepat agar aku bisa percaya padamu?"
"Bukan seperti itu El, aku datang menemui mereka, karena aku ingin menyelesaikan masalah dengan mereka, aku ingin tenang menjalani hubungan denganmu, dan aku tidak ingin suatu saat ada satu diantara mereka ya, mengganggu hubungan kita nantinya."
"Sudah kan? Kalau sudah aku akan masuk," kata Liora yang kemudian melangkah meninggalkan Ronald.
"Tapi El, satu lagi yang perlu kamu tahu, sungguh aku tidak pernah melakukan sesuatu di luar batas dengan mereka."
Ucapan Ronald sukses membuat langkah Liora berhenti. Gadis itu tidak bisa melanjutkan langkahnya karena ingin mendengar penjelasan Ronald lebih detail, tapi dia juga tidak bisa berbalik, karena dirinya yang terlanjur malu, jika apa yang pria itu katakan benar adanya.
Melihat langkah Liora berhenti, Ronald berjalan mendekati gadis itu dan memeluknya dari belakang.
"Ya, kita memang saling memuaskan, aku membayar mereka, tapi itu dengan cara lain, tidak seperti yang orang-orang pikirkan selama ini. Please El percayalah padaku, aku juga tidak mau membuat diriku terjebak dengan wanita-wanita yang aku tahu bukanlah pilihan dari hatiku."
__ADS_1
"Sungguh, kamu tidak bohong?"
Ronald mengangguk, Liora berbalik, kemudian menatap Ronald, mencari kebohongan di mata pria itu, dan Liora sama sekali tidak menemukan kebohongannya disana.
"Kamu percaya sama aku kan? Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa temui mereka dan tanyakan langsung padanya."
"Bisa saja kamu membayar mereka untuk berbohong."
"Tidak El, sungguh! aku benar-benar menemui mereka karena benar-benar ingin memutuskan hubungan dengan mereka."
"Aku hanya mencintaimu, dan aku akan melakukannya hanya denganmu, tidak dengan wanita lain."
Liora kemudian memeluk Ronald, dia tidak bisa berbohong, bahwa dia sebenarnya sangat merindukan pria di hadapannya itu.
Ronald pun membalas pelukan Liora, dia merasa lega, dan perjuangan untuk mendapatkan kembali cinta gadis itu, tidaklah sia-sia, karena akhirnya Liora akhirnya luluh dan kembali jatuh ke dalam pelukannya.
Liora kemudian melepaskan pelukan Ronald, senyum yang tadi terukir di bibirnya seketika luntur mengingat pesan dari papinya. Wajah Liora berubah sedih, dan Ronald yang melihat perubahan ekspresi pada wajah gadisnya pun akhirnya memutuskan bertanya.
"Kenapa sedih?"
"Ronald sebenarnya besok, orang tuaku akan kembali dan…
"Aku akan bersiap menemui mereka, jadi kamu tidak perlu khawatir, aku akan meminta restu dari mami dan papi kamu, jadi kamu tenang saja."
"Bukan seperti itu, papi dan mami...mereka…"
"Sudah malam, masuk dan istirahatlah!"
"Ronald…"
"Ayo aku akan mengantarmu sampai depan pintu!"
Lagi-lagi Ronald memotong ucapan Liora, pria itu meraih tangan Liora dan menggandengnya, mengantarkan gadis itu kembali, padahal hanya beberapa meter saja, dari posisinya saat ini.
Begitu sampai di depan pintu, Ronald memeluk Liora.
"Aku butuh mengisi daya," ucapnya tersenyum begitu melepaskan pelukan mereka hingga membuat Liora tidak bisa berkata-kata, bahkan tidak tega mengatakan yang sebenarnya, bahwa papinya berencana untuk menikahkannya dengan pria pilihan orang tua.
"Sana masuk!" Ucap Ronald membukakan pintu dan meminta Liora masuk, barulah setelah itu, pria itu pergi dari sana.
Ronald tersenyum memikirkan besok malam, saat akan menemui gadisnya itu.
"Kamu akan segera menjadi milikku baby, dan aku sudah tidak sabar untuk itu," gumamnya memainkan kunci mobilnya dengan melemparnya ke atas lalu menangkapnya kembali sambil bersiul dan segera memasuki mobilnya.
Sementara itu Liora terus saja berjalan mondar-mandir di depan pintu, menyalahkan dirinya kenapa tadi tidak bisa mengatakan tentang perjodohan itu kepada Ronald.
__ADS_1
"Liora kamu masih disitu? Aku kira sudah masuk."
Jasmine datang mengejutkan Liora.
"Ah Kak Olive mengejutkan saja, iya ini sebentar lagi masuk kok," jawab Liora dan diangguki oleh Jasmine.
"Bagaimana keadaan Vira?"
"Demamnya sudah turun, dan dia baru bisa tidur tadi.
Liora manggut-manggut mengerti, dia kemudian berpamitan pada kakak iparnya itu untuk masuk ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Liora buru-buru mengambil ponselnya, dia kemudian menghubungi Ronald, tapi gadis itu tampak kesal karena Ronald yang tak kunjung menjawabnya, hingga Liora membanting tubuhnya di atas ranjang sambil memegangi ponselnya yang kini layarnya sudah mati.
Liora menghela nafasnya, dia benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan saat ini, jika dia bilang sama papinya jika dia sudah mempunyai pilihan sendiri selama kemarin hubungannya dengan Ronald tidak baik-baik saja, apakah papinya akan percaya, itulah yang Liora pikirkan saat ini. Sibuk dengan pikirannya, akhirnya gadis itu pun terlelap.
….
"El bangun sayang, ayo ikut Mami!"
Liora mengerjapkan matanya, dia langsung membuka matanya dan duduk, saat melihat bahwa yang membangunkannya adalah maminya.
"Mami? Mami sudah pulang?"
"Iya, ayo bangun dan ikut mami!" Pinta Tiffa pada putrinya.
"Mau kemana Mi? Ini masih terlalu pagi untuk pergi," kata Liora yang kembali merebahkan tubuhnya, dia masih mengantuk, apalagi dia semalam tidur sudah sangat larut.
Kernyitan tampak di dahi wanita yang masih tampak muda dari usianya itu.
Tiffa mengambil jam digital yang ada di atas meja nakas dan menunjukkannya pada Liora.
"Lihat ini!"
"Jam sepuluh?" Liora kemudian mengambil ponselnya yang ternyata lowbat, ya Liora semalam lupa untuk mengisi daya.
"Mana ponsel Mami?"
Tiffa pun dengan segera memberikan ponsel pada putrinya, dan benar ternyata pukul sepuluh.
"Mami kenapa tidak membangunkanku? Kan aku jadi terlambat ini, mana ponsel aku lowbat lagi," kata Liora yang langsung turun dari ranjang dan berjalan mondar-mandir mencari charger yang sialnya lupa dia letakkan dimana.
"Mami juga baru sampai setengah jam yang lalu, Mami kira kamu sudah bangun dan saat Mami melihat mobilmu di luar, barulah Mami bertanya pada Bibi, dan Bibi bilang, kamu malah belum terlihat turun," jelas Tiffa.
"Ya sudah, El mau siap-siap dulu, El harus berangkat kerja, kita perginya nanti saja," Liora langsung mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi, membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja.
__ADS_1
"Orang kita juga perginya ke butik Liliana kok," gumam Tiffa menggeleng dan keluar dari kamar putrinya.