Please Love Me

Please Love Me
Bab 169


__ADS_3

Kak kau yakin baik-baik saja?" Tanya Liora yang kembali melihat Jason muntah-muntah, bahkan tubuh pria itu sudah tidak ada tenaganya sama sekali.


"Hmm aku baik-baik saja, kamu bisa keluar sekarang," kata Jason kemudian.


"Tapi Kak…"


"Liora, aku hanya ingin istirahat, kamu bisa kan handle pertemuan kita kali ini, sepertinya aku tidak bisa menemanimu," kata Jason yang masih memejamkan matanya.


"Tapi Kak, aku tidak bisa, bagaimana kalau aku tidak mendapat kerjasama ini? Perusahaan akan rugi besar, lagian aku baru terjun di dunia ini, aku sungguh tidak bisa Kak, aku tidak mau mengecewakan Kak Vano," kata Liora yang tidak mempercayai kemampuannya sendiri.


Jason membuka matanya dan duduk perlahan, "Liora kamu pasti bisa, dan harus bisa, kelak kau yang akan menjadi pemimpin perusahaan yang Tuan Vano pegang sekarang. Dan disini kamu bisa belajar," kata pria itu meyakinkan Liora.


"Baiklah," kata Liora yang kemudian akhirnya meninggalkan Jason, menyetujui permintaan pria itu.


Jason mengurut keningnya yang terasa begitu pusing dan tak lama dirinya kembali menutup mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi.


*


*


*


"Apa kamu senang sekarang?" Tanya Alan pada putrinya mereka sedang berkemas, setelah sehari semalam kemping di tempat itu.


"Senang sekali Ayah, hmm ibu lain kali, kita berkemah sama-sama lagi ya," kata Lily menatap Dea.


Dea dan Alan saling pandang, kemudian Dea pun menyetujui permintaan Lily.


"Lain kali, Ale juga ingin mengajak suami Ale deh," kata Lily entah kepada siapa.


"Kamu sudah beres sayang?" 


"Hmm sudah kok Ya," jawab Lilg menunjuk barangnya yang sudah selesai dikemas.


"Ya sudah sini biar Ayah bawa ke mobil," kata Alan kemudian mengambil barang mereka dan membawanya ke mobil.


"Ayo Bu," kata Lily mengajak Dea untuk ke mobil sama-sama.


"Biar aku bantu Bu," ucap Lily menawarkan diri untuk membantu membawa barang-barang Dea.


"Tidak usah sayang, biar Ibu saja, Ibu bisa kok, lagian kamu sedang hamil, ibu tidak mau terjadi apa-apa sama cucu Ibu," kata Dea yang sudah tidak canggung menyebut dirinya Ibu kepada Lily.


Disaat mereka sedang mengobrol tiba-tiba ada yang merebut barang bawaan Dea, siapa lagi jika bukan Alan pelakunya.


"Mana mobilmu?" Tanya Alan karena dirinya memang tidak tahu.


"Yang itu," kata Dea kemudian menunjuk dimana mobilnya.

__ADS_1


Dan tanpa banyak kata, Alan membawa barang-barang milik Dea ke mobil wanita itu.


Lily hanya mengulum senyumnya melihat interaksi kedua orang itu.


"Kenapa kamu senyum-senyum gitu," tanya Alan begitu kembali bersama kedua wanita itu.


"Tidak apa-apa hanya ingin senyum saja, memangnya tidak boleh?" Ucap Lily tanpa memudarkan senyumannya.


Ketiganya kemudian berjalan beriringan menuju mobil masing-masing.


Dea memeluk Lily, dan menatap Alan, memberi anggukan, sebelum kemudian masuk ke dalam mobilnya. 


"Dah," kata Dea dan kemudian mulai melajukan mobilnya sambil melambaikan tangannya.


"Dah Ibu, hati-hati," ucap Lily.


Dea tersenyum, "Kalian juga hati-hati, Ibu duluan ya," ucapnya berpamitan dan mobil pun mulai melaju.


"Ayo!" Ajak Alan pada putrinya yang masih diam saja memandangi mobil Dea yang semakin menjauh.


"Ayo," kata Lily kemudian masuk ke dalam mobil.


Alan segera mengendarainya begitu putrinya sudah masuk ke dalam mobil.


***


"Ayah Ale masuk dulu," pamit Lily dan Alan pun mengangguk.


"Kak Al ada disini?" Tanya Lily yang melihat kakaknya sedang sarapan di meja makan. Lily yang berniat akan ke kamarnya, mengurungkan niatnya dan sekarang dirinya justru menghampiri sang kakak yang sedang makan dan ikut duduk disana.


"Iya, semalam kakak tidur di rumah, baru pulang?" Tanya Al setelah meneguk minumannya.


"Iya baru saja," jawab Lily yang kemudian ikut mengambil makanan.


"Ayah mana?" Tanya Al yang belum juga melihat keberadaan ayahnya.


"Oh, Ayah tadi bilang mau ke rumah sakit."


Al mengangguk mengerti, kemudian dia yang sudah selesai makan pun langsung beranjak.


"Kak Al mau kemana?" 


"Mau ke kampus."


"Yah Kak Al, aku temani makan malah Kak Al nya pergi."


"Sudah kamu makan aja yang banyak, biar keponakan Kakak sehat," kata Al mengacak rambut Lily dan segera pergi meninggalkan adiknya itu.

__ADS_1


Lily mengambil ponselnya dan menghubungi nomor suaminya, tapi nomor suaminya tidak aktif, "Kok tidak aktif? Apa sedang rapat?" Gumamnya, kemudian dirinya beralih akan menghubungi Liora, barangkali gadis itu bersama Jason, tapi tidak jadi saat tiba-tiba kakaknya menghubunginya, dan bilang jika ibunya sakit dan dilarikan ke rumah sakit.


Lily segera beranjak dan kembali keluar setelah mengambil tasnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Al yang ternyata belum pergi.


"Ibu sakit Kak, aku harus ke rumah sakit sekarang," kata Lily panik.


"Biar Kakak antar," kata Al yang kemudian langsung membuka pintu mobilnya.


"Tapi, bukankah Kakak harus ke kampus?" Tanya Lily karena itulah yang tadi kakaknya katakan.


Al melihat jam di pergelangan tangannya, "Masih sempat, Ayo, aku tidak mau kena amukan suamimu, membiarkan istrinya yang sedang hamil pergi sendiri.


"Baiklah," ucap Lily yang langsung masuk ke dalam mobil kakaknya.


Setelah tahu ke rumah sakit mana, Vega dirawat, Al segera melajukan mobilnya kesana.


Tak lama, mobil Al sampai di halaman rumah  sakit, Lily segera turun, karena begitu paniknya, Lily sampai melupakan tasnya.


"Ale! Ale!" Panggil Al dan tampaknya Lily tidak mendengarnya.


Al menghela nafas, mengambil tas adiknya yang tertinggal di dalam mobil.  Al keluar, niatnya yang hanya cuma mengantar Lily, tapi sekarang dirinya kini justru menuju ke bagian receptionist dan bertanya di ruang mana wanita atas nama Vega dirawat. Setelah mendapat apa yang dicarinya Al pun kemudian mencari ruangan itu.


Sementara di tempat lain, Lily langsung memeluk Vega yang tampak pucat, di tangan wanita itu tertancap selang infus.


"Apa yang sakit Bu?" Sejak kapan Ibu merasa sakit?" Tanya Lily yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Ibu tidak apa-apa, hanya kelelahan saja, mungkin karena sudah tua," ujar Vega sambil tersenyum.


"Apanya yang sudah tua, jelas-jelas Ibu masih muda begini, masih seperti umur belasan tahun" kata Lily merespon ucapan Ibunya.


"Ngaco kamu," Vega tertawa, setidaknya Vega lega, karena Lily masih merespon candaannya.


"Benar Bu, Iya kan Kak?" Tanya Lily meminta persetujuan kakaknya dan Dahlia hanya mengedikkan bahunya.


"Kak Lia tidak asyik," kata Lily yang sudah memajukan bibirnya beberapa senti.


Dahlia hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Bahkan Vega sampai terkekeh melihat tingkah putrinya.


"Hmm ya sudah, Kakak keluar dulu ya, Ibu sama Lily ngobrol aja," pamit Dahlia.


Vega dan Lily pun hanya mengangguk.


Saat keluar, Dahlia tidak sengaja melihat Al. Dahlia akan berbalik dan kembali ke ruang rawat ibunya, tapi tak disangka, Al lebih dulu melihat Dahlia, dan segera menahan tangan gadis itu.


"Tunggu!"

__ADS_1


__ADS_2