
Jason kini duduk di lantai di depan istrinya duduk. Pria itu meraih tangan Lily tapi Lily bersikeras menolaknya. Jason tak menyerah dan berakhir, Lily yang kalah tenaga darinya. Kedua tangan wanita itu, kini sudah ada di genggaman Jason.
"Kenapa cemberut gitu? Mau dicium?" Jason mendekatkan wajahnya, dengan segera Lily menutup bibir suaminya yang sudah dimonyongkan dengan telapak tangannya. Lily celingukan untuk tidak ada yang melihat apa yang suaminya itu lakukan.
"Kenapa ditutup sih sayang?" Jason melepaskan tangan Lily dari bibirnya.
"Ada anak-anak, bagaimana jika mereka melihatnya?"
"Tidak akan, lihatlah mereka sedang sibuk membereskan mainannya," kata Jason menunjuk putri-putri mereka.
Saat Lily lengah, Jason menarik dagu Lily dan dengan segera menyambar bibir sang istri, bukan hanya kecupan, tapi ciuman, bahkan Jason kini melu*mat bibir sang istri.
Pagutan bibir mereka terlepas saat mendengar deheman seseorang.
Jason tetap tenang, apalagi saat Alan kini duduk di samping Lily, sementara itu, Lily justru menundukkan kepala malu, malu karena kepergok ayahnya. Lily mencubit lengan Jason cukup keras, ini gara-gara suaminya yang tidak tahu tempat.
"Untung ayah yang lihat, bagaimana jika anak-anak?" Kata Alan tanpa menatap anak dan menantunya, sebenarnya bukan hanya Lily yang malu karena kepergok, karena jujur saat ini, Alan justru malu sendiri karena memergoki mereka.
Lily menahan tawa melihat ekspresi wajah ayahnya yang begitu canggung dan memilih mengganti-ganti chanel tidak tahu apa yang sebenarnya akan pria itu tonton.
"Kalau mau tertawa-tertawa saja," ucap Alan tanpa menatap putrinya.
Lily tidak bisa menahan lagi tawanya, tawanya menyembur begitu saja hingga sampai Dea akhirnya bergabung dengan mereka.
"Kenapa?" Tanya Dea mengernyitkan dahi bingung.
"Ayah iri pengen ciuman," ujar Lily yang kemudian bangkit dari duduknya, menghampiri sang putri dan membantunya bersiap sebelum pergi dengan ayahnya.
Jason mengikuti kemana sang istri mengajak anak-anak mereka. Jason duduk di atas kasur sambil menunggu, Lily menggantikan pakaian untuk anak-anaknya, dia terus memandangi kemanapun Lily bergerak, termasuk saat Lily kini mengikat rambut Cinta dan Aulia sambil duduk di kursi depan meja rias.
"Hmm sudah cantik anak ibu," ucap Lily puas dengan hasil dandanannya.
"Ya sudah, ayo kesana, ayah sudah menunggu!" Lily menggandeng kedua putrinya di sisi kiri dan kanan menghampiri suaminya yang kini justru merebahkan diri di atas ranjang sambil bermain ponsel.
"Ayah ayo!" Ujar Cinta antusias.
"Eh, kalian sudah siap?" Jason buru-buru bangun dari rebahannya. Melihat kedua putrinya.
Pandangan Jason tertuju pada Lily.
"Loh, sayang kamu tidak siap-siap?"
Lily mengernyit mendengar pertanyaan suaminya.
"Maksud kamu? Memangnya kamu tadi mengajakku?"
__ADS_1
"Oh, aku belum bilang ya," Jason justru menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lupa mengatakan kepada sang istri untuk bersiap juga.
"Ya sudah, kamu bersiap dulu, aku jalan sekarang sama anak-anak."
"Aku ditinggalin? Kalau gitu mending aku tidak usa ikut saja."
"Hah? Oh itu, nanti Nyonya Olive akan kesini menjemputmu."
Lagi-lagi dahi Lily berkerut, sama sekali tidak mengerti maksud ucapan suaminya.
"Kamu akan pergi sama Nyonya Olive, anak-anak biar kami para suami yang akan menjaganya. Kamu perlu memanjakan dirimu sendiri sayang, dan kamu boleh membeli apapun yang kamu mau."
"Serius?"
"Hmm, tentu saja, jadi bersenang-senanglah, selagi suami kamu ini berbaik hati."
"Makasih sayang," Lily berjinjit dan mengecup bibir suaminya berkali-kali, untung anak-anak sedang sibuk membicarakan pakaian baru yang kini mereka pakai.
"Sudah lama rasanya aku tidak keluar sama Jasmine berdua."
Jason tersenyum melihat wajah bahagia istrinya.
"Maaf ya."
"Kenapa minta maaf?"
Lily gemas mencubit kedua pipi suaminya.
"Tidak perlu merasa bersalah, karena itu bukan salah kamu, itu memang keinginan aku yang memang lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan kalian."
"Kamu jaga anak-anak baik-baik, kalau ada apa-apa hubungi aku, ok!"
"Iya, kamu juga ingat, sudah punya suami jadi jaga baik-baik pandangan kamu!" Peringat Jason.
"Haha, tenang saja, aku pasti akan mengingatnya, kalau perlu kamu bisa kasih tanda pengenal di badan, tulis saja sudah punya suami."
"Hmm sepertinya itu ide bagus."
"Sayang ih!" Wajah Lily memberengut, sementara Jason tergelak melihat wajah sang istri.
Cup
Jason mengecup bibir Lily singkat mengingat masih ada kedua putrinya disana.
"Ya sudah aku pergi dulu," pamit Jason lagi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, kita turun bersama," Lily segera berlari ke walk in closet meninggalkan Jason yang kini tersenyum, melihat kebahagian istrinya yang begitu sederhana.
Tak lama, Lily pun keluar dari walk in closet, Jason tak berkedip memandang istrinya, walaupun sudah memiliki dua anak tapi Lily masih terlihat seperti gadis. Rasanya Jason tidak rela membiarkan istrinya pergi hanya dengan Jasmine saja. Jason bahkan sempat berpikir untuk menghubungi Stevano dan mengajaknya untuk pergi bersama-sama saja, tapi Jason kembali mengurungkan keinginan yang sempat terlintas di pikirannya itu.
"Kenapa?"
Jason tersentak saat Lily tiba-tiba sudah ada di hadapannya, bahkan wajah wanitanya begitu dekat dengan wajahnya.
"Penampilanku aneh ya? Tidak cocok?" Tanya Lily memperhatikan penampilannya.
"Tidak aneh, kamu sangat cantik memakainya."
"Benarkah?"
Sudut bibir Lily kembali tertarik ke atas.
"Hmm tentu saja."
Lily mengambil tas nya lalu menggamit tangan suaminya.
"Ya sudah, ayo turun!" Ajak Lily tangan yang tadi menggamit tangan suaminya kini dia lepaskan berganti untuk menggandeng tangan putri pertamanya, sedangkan Jason mengangkat tubuh putri kedua mereka menggendongnya.
*
*
"Jasmine belum datang sayang?"
Lily mendongak menatap suaminya, saat mereka sudah di depan tapi sahabat istrinya itu belum sampai ke rumah mereka.
"Hmm iya ya, padahal tadi Tuan Stevano bilang jika Nyonya akan berangkat, dan ini sudah lima belas menit sejak Tuan Stevano mengatakan itu, harusnya Nyonya sudah sam…"
Ucapan Jason terpotong begitu saja, saat melihat mobil Stevano kini masuk ke pelataran rumah mereka.
Lily tersenyum saat melihat sahabatnya keluar dari kursi samping kemudi. Dia langsung mendekat dan segera saja memeluk Jasmine, mereka sekarang jarang bertemu, tentunya karena kesibukan masing-masing. Dan baru kemarin, mereka bertemu di ulang tahun Aulia.
"Kamu cantik sekali," puji sahabat Lily itu yang membuat Lily tersenyum malu-malu.
"Oh ya maaf, kami datang terlambat, tadi Vian merengek ingin ikut, sudah dibujuk tapi ya begitulah."
Lily kemudian menatap Stevano yang tiba-tiba juga ikut turun dari mobil. Tak hanya Lily, Jason pun melakukan hal yang sama. Pria itu bahkan mengernyit, tatapannya seolah meminta penjelasan.
"Hmm sepertinya kita akan merubah rencana, kita jalan-jalan bersama saja, karena rasanya…"
"Kita tidak rela istri-istri kita menjadi pusat perhatian pria di luar sana," potong Jason cepat yang langsung diangguki Stevano.
__ADS_1
"Ternyata kita sepemikiran," ucap Jason yang langsung melangkah pergi untuk mengambil mobilnya.