Please Love Me

Please Love Me
Bab 174


__ADS_3

"Aku ke toilet dulu," ucap Liora begitu selesai makan.


Ronald mengangguk mengiyakan, lalu menatap makanan yang tadi mereka makan, lebih tepatnya yang Liora makan, karena nafsu makan Ronald hilang begitu saja, hanya melihat gadis itu yang makan dengan lahapnya, bahkan hampir semua masakan yang tadi dipesannya tandas.


"Apa dia tidak takut gemuk, kebanyakan wanita yang kukenal menjaga pola makannya agar tidak gemuk, tapi gadis itu…" Ronald menggeleng-gelengkan kepalanya, karena dirinya baru menemui gadis seperti Liora.


"Ayo kita pulang!" Ajak Liora yang entah sejak kapan, sudah berdiri di hadapan Ronald.


"Aku mau bayar dulu," ucap Ronald yang langsung bangun.


"Nona ini pesanan Anda," ucap pelayan memberikan paperbag pada Liora.


"Kamu memesan lagi?" Tanya Ronald setelah pelayan yang memberikan pesanan Liora pergi sambil menatap Liora tidak percaya.


"Kenapa? Bukannya kamu yang bilang aku boleh memesan apa saja keinginanku, ya sudah aku pesan lagi saja," jawab Liora cuek.


"Ya sudah, aku tunggu di mobil saja, mana kunci mobilnya," Liora menengadahkan tangannya meminta kunci mobil pria itu.


Ronald pun dengan setengah hati memberikan kunci mobilnya pada Liora. Dan gadis itu segera keluar begitu mendapatkan kunci mobil Ronald. 


"Rasain lo, memangnya enak aku kerjain," Liora tersenyum meninggalkan Ronald yang pastinya sangat kesal.


"Segitu saja tidak cukup, apa gadis itu benar-benar ingin membuatku bangkrut?" Ronald mengusap wajahnya dan menuju ke kasir.


Liora tertawa puas begitu sudah masuk ke dalam mobil, "Dia pasti sangat kesal dan mungkin saja kapok, dan tidak akan main sembarangan mengajakku pergi-pergi lagi," ucapnya.


"Aduh duh, perutku sakit sekali, ini pasti karena aku kekenyangan," tambahnya mengelus perutnya.


"Untungnya aku bukan tipe orang yang langsung gendut ketika makan banyak, jadi aku tidak perlu khawatir lagi kan? Ah sudahlah lebih baik aku tidur saja deh, kalau perut kenyang, mata pasti mengantuk," gumamnya menyandarkan tubuhnya dan saat hampir memejamkan mata, Liora melihat Ronald berjalan ke arah mobilnya dengan langkah gontai.


"Kenapa?" Tanya Liora pura-pura polos.


"Masih tanya," gumam Ronald pelan.


"Kalau kamu tidak ikhlas ya sudah, aku akan keluarkan lagi nih makanannya," kata Liora yang akan bersiap memuntahkan makanannya, dan dengan segera Ronald menghentikannya.


"Apa yang kau lakukan?" 


"Tentu saja mengeluarkannya lagi, habis kamunya tidak ikhlas, aku takut nanti malah sakit perut jadinya."


"Cukup hentikan!" Perintah Ronald tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kamu ikhlas tidak?" Tanya Liora menatap pria itu.


"Hmm ikhlas," jawab Ronald dengan nada suara yang terdengar ketus.


"Kalau ikhlas, bilangnya yang benar jangan seperti itu!" 


"IKHLAS, SANGAT IKHLAS," kata Ronald tersenyum dengan menekan setiap katanya.


"Hmm begitu baru benar, ya walaupun kedengarannya tidak tulus sih, tapi tidak apa-apa lah," Liora kemudian kembali bersandar, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Ronald menghela nafasnya panjang, ternyata berhadapan dengan Liora dia harus banyak-banyak bersabar. 


"Setelah ini kita pulang kan?" Liora kembali membuka matanya dan menoleh memandang Ronald.


Ronald terdiam dan kemudian dia tersenyum penuh arti menatap Liora.


"Kenapa?" Liora bergidik sendiri melihat senyuman Ronald.


"Kita tidak pulang, habis ini baru kita ke tempat tujuan yang sebenarnya."


"Tujuan yang sebenarnya? Maksudnya yang tadi bukan yang sebenarnya.


"Bukan," jawab Ronald.


"Kita mau kemana?"


"Ke tempat yang disukai para gadis mungkin," jawab Ronald kembali membelah jalanan yang kini tampak ramai.


"Lebih baik kita pulang saja, lagian nanti takutnya malah kemalaman, lihatlah jalanan macet seperti itu," Liora menunjuk jalanan di depannya yang memang sangat padat.


"Tidak bisa seperti itu, intinya kamu memang harus ikut denganku," ucap Ronald tidak menerima penolakan.


"Tapi…"


"Tidak ada tapi-tapian."


"Ya sudah terserah kau saja, aku mau tidur dulu, jika sudah sampai bangunkan aku," ucap Liora kembali memejamkan matanya.


*


*


*


"Ale, bisa Kakak bicara sebentar," Al yang baru turun memanggil adiknya yang sedang menonton televisi bersama suaminya.


"Sayang, aku mau bicara dulu sama Kak Al," Lily melepaskan rangkulan suaminya.


"Jangan lama-lama," ucap Jason yang sebenarnya tidak rela karena dirinya ingin selalu dekat dengan istrinya.


"Hmm, cuma sebentar kok," Lily bangun dan mengikuti kakaknya.


"Kenapa Kak?" 


"Hmm itu…."


Lily menunggu dengan sabar sang kakak menyelesaikan ucapannya.


"Itu apa?"


"Tolong bantu Kakak!"

__ADS_1


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Bantu Kakak untuk mendapatkan cinta kakakmu," kata Al dengan suara yang begitu pelan.


"Apa Kak? Bantu Kakak mendapatkan apa?" Tanya Lily barangkali dia salah mendengar.


"Cinta kakakmu."


"Maksud Kak Al, Kakakku Kak Lia?" Tanya Lily memastikan.


"Ya iya Ale, memang siapa lagi Kakakmu," kesal Al karena adiknya terlalu banyak bertanya, bukannya langsung mengiyakan saja.


"Ya kan, Kak Al juga kakakku," kata Lily menekuk mukanya.


"Ya ampun Ale, tapi kan tidak mungkin kan Kakak minta tolong untuk mendapatkan cinta Kakak sendiri, kamu itu gimana sih?" Bukannya mendapatkan saran, Al justru kesal berbicara dengan adiknya itu.


"Sudahlah, percuma ngomong serius sama kamu," Al kemudian pergi meninggalkan Lily.


"Jika Kakak memang ingin mendapatkan cinta Kak Lia, Kakak harus berjuang sendiri, biar Kak Lia bisa merasakan jika Kak Al memang tulus padanya, aku akan memberitahu apa yang Kak Lia suka dan tidak suka, selebihnya itu tugas kakak," ucap Lily menghentikan langkah Al.


Al terdiam memikirkan apa yang adiknya tadi katakan.


"Baiklah, terima kasih," Al menoleh dan tersenyum pada adiknya.


"Semangat! Selamat berjuang," ucap Lily dan Al mengangguk mendapat semangat dari adiknya.


"Ya sudah, Kakak pergi dulu," setelah mengatakan itu, Al pun segera berlalu.


"Semoga Kakak dan Kak Lia bisa bersama," harap Lily melihat kepergian kakaknya.


Lily kemudian segera kembali ke tempat suaminya berada.


"Kenapa Kakakmu?" Tanya Jason yang kembali merentangkan tangannya membiarkan sang istri bersandar di lengannya, dan Jason kembali merangkul istrinya.


"Tidak apa-apa," ucap Lily sambil menggambar pola abstrak di dada suaminya.


"Sayang," kata Lily manja.


"Hmm kenapa? Apa kamu ingin sesuatu?" Jason langsung peka saat istrinya menginginkan sesuatu.


"Iya," jawab Lily sambil mengangguk.


"Kamu ingin apa?" 


"Bukan aku yang ingin tapi anak kita," ucap Lily mengoreksi ucapan suaminya.


"Sama saja sayang."


"Beda tahu, ini beneran keinginan anak kita," Lily masih tidak mau terima saat suaminya bilang keinginan anaknya sama juga dengan keinginannya.


"Baiklah, jadi anak kita mau apa?" Jason memilih mengalah, istrinya sedang sangat sensitif, jadi dia harus lebih mengerti.

__ADS_1


"Anak kita ingin…" Lily kemudian mendekat dan berbisik pada Jason yang kini tersenyum.


__ADS_2