Please Love Me

Please Love Me
Part 142


__ADS_3

"Kamu kemana saja kenapa seharian ini tidak menjawab telepon dariku?" Al memeluk orang di depannya semakin erat.


"Siapa Bu, malam-malam begini bertamu, bahkan sampai menggedor pintu berkali-kali," ujar seorang gadis yang baru keluar dari kamarnya sambil menguap dan mengucek kelopak matanya.


Pasalnya Dahlia baru saja tertidur, tapi suara ketukan pintu yang tidak ada henti-hentinya membuat dirinya kesal dan dengan terpaksa bangun dari tidurnya, walaupun sebenarnya dirinya masih begitu mengantuk.


Al yang mendengar suara gadis yang dirindukannya seharian ini, langsung melepas pelukannya, dirinya begitu shock saat mengetahui apa yang dilakukannya, yang dia peluk bukanlah Dahlia melainkan Vega Ibunya.


Al menatap Dahlia dan Vega bergantian. Sementara Dahlia dan Vega mengernyitkan dahi menatap Al penuh kebingungan.


Menyadari tatapan kedua perempuan itu Al, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Al tersenyum canggung ke arah mereka.


"Maaf Bibi, bukan maksudku.." 


"Ah tidak apa-apa, Bibi mengerti," kata Vega memotong ucapan Al begitu melirik putrinya, sepertinya dirinya kini paham dengan situasi yang terjadi saat ini di depan matanya.


Dahlia mendekat ke arah Al dan Ibunya masih menatap bingung.


"Kenapa Bu? Dan kenapa Kak Al ada disini malam-malam begini?" Tanya Dahlia memandang Ibunya dan Al bergantian.


"Tidak apa-apa, oh ya kalian mengobrol dulu saja, Ibu mau ke kamar istirahat," pamit Vega meninggalkan kedua anak muda itu.


"Ada perlu apa Kak Al kemari? Ini sudah malam, tidak baik jika dilihat tetangga, lebih baik Kak Al pulang sekarang," Dahlia mengusir Al secara halus, kemudian menutup pintu.


Tapi gerakan Dahlia terhenti, saat tangan Al menahan pintu itu.


"Tunggu Dahlia!"


"Ada apa? Jika ada perlu cepat katakan! Aku mau kembali tidur," Dahlia kemudian mencoba kembali menutup pintu.


"Akh!" Teriak Al sambil mengangkat kakinya yang terjepit karena setelah tadi menahannya dengan tangan, kali ini dia gunakan kakinya untuk menahan pintu yang akan Dahlia tutup. Apalagi Kaki Al saat itu hanya menggunakan sandal jepit.


"Maaf, lagian Kaki Kak Al disana, tidak apa-apakan? Hmm tidak apa-apa, ya sudah kalau begitu aku masuk dulu," ucap Dahlia bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.

__ADS_1


Al menatap tidak percaya pada apa yang didengarnya, dan lebih tidak percaya lagi, tak lama setelah itu, pintu kembali tertutup, hingga Al hanya bisa mendesah kecewa.


Ada sesuatu dalam hatinya yang terasa tidak nyaman saat Dahlia melakukan itu padanya. Al menatap jam di pergelangan tangannya, waktu hampir menunjukkan pukul 10, dan dengan terpaksa Al meninggalkan rumah sederhana itu. Al akan kembali lagi besok untuk menemui Dahlia.


Sementara di dalam rumah itu, Dahlia masih berada di belakang pintu. Ditempelkannya satu telinganya di pintu mencuri dengar suara di luar.


Sebenarnya Dahlia panik luar biasa tadi, tapi dia mencoba biasa-biasa saja. Dirinya juga khawatir, karena melihat pria itu meringis kesakitan, tapi Dahlia harus tetap pada keputusannya, dia harus tetap terlihat tidak peduli.


"Apa Kak Al baik-baik saja?" Gumam Dahlia begitu mendengar suara kaki yang sedikit di seret semakin menjauh.


"Temui tidak ya," Dahlia tampak menimbang-nimbang antara menyusul Al atau tidak, dan akhirnya Dahlia memutuskan tidak menyusul pria itu. Dahlia mematikan lampu di ruang tamu dan kembali ke kamarnya.


Al yang masih diluar menatap nanar rumah yang kini tampak gelap karena lampu sudah dipadamkan.


Dan Al pun dengan langkah gontai menuju ke mobil. Sakit di kakinya tadi sudah hilang, dan kini justru sesuatu di dalam dadanya yang merasakan sakit.


*


*


"Kamu suka rumah seperti ini?" Tanya Jack yang pandangannya tidak lepas dari Liora sedikitpun.


Liora mengangguk antusias, "Iya suka, suka banget malah," ucapnya kemudian menatap Jack.


Pandangan mereka bertemu dan akhirnya Liora lebih dulu memutus pandangannya, hingga keduanya kini sama-sama terlihat begitu canggung.


"Oh ya bagaimana persiapan lainnya?" Tanya Liora mencoba mengusir kecanggungan diantara mereka berdua.


"Semua hampir beres sudah 80 persen. Dan saatnya tiba, Tuan Max sampai semua akan siap 100 persen," jawab Jack yang masih saja memandangi gadis yang berdiri di sampingnya.


"Bagus sekali pemandangan malam dari sini," kata Liora berjalan membuka pintu yang langsung tersambung ke balkon.


Gadis itu tiba-tiba merasa gugup saat tadi dirinya tidak sengaja menoleh ke samping dan melihat Jack masih menatapnya lekat, hingga Liora memilih berjalan cepat ke arah balkon untuk menghindari Jack.

__ADS_1


Liora menatap gedung-gedung pencakar langit yang terlihat jelas dari balkon rumah Kakaknya. 


Jika lampu gedung-gedung itu padam, bintang pasti terlihat cantik jika dilihat dari sini," kata Liora yang masih menatap bangunan yang menjulang tinggi itu.


"Iya dari sini memang begitu cantik," ucap Jack yang tiba-tiba saja, sudah ada di samping Liora, ikut melakukan hal yang Liora lakukan, dan kini Liora yang balik menatap Jack dengan raut wajah tak terbaca.


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang, kamu juga pasti lelah kesana kemari sedari tadi," usul Jack karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Hmmm baiklah, tapi bisakah nanti kita mampir dulu ke suatu tempat?" Kata Liora ragu.


"Hmm tentu," jawab Jack yang meminta Liora masuk sedangkan dirinya menutup kembali pintu yang tadi Liora buka.


Keduanya pun keluar beriringan dari rumah itu dan langsung masuk ke dalam mobil yang tadi diparkirkan di halaman.


Jack mengendarai mobilnya untuk kembali pulang ke rumah Ibu gadis di sampingnya.


Sepanjang jalan hanya keheningan yang menyapa mereka, tidak ada satu katapun terucap dari salah satu mereka.


"Hmm itu kita…" kata mereka berdua bersamaan.


"Kamu aja duluan," ucap mereka berbarengan lagi hingga membuat keduanya tertawa.


"Kamu duluan," ucap Jack mempersilahkan Liora untuk mengatakan apa yang ingin gadis itu sampaikan.


"Kamu aja duluan," kata Liora yang justru mempersilahkan Jack.


Jack pun mengalah, "Hmm maksudku kita jadi mampir?" Tanya Jack yang melirik sekilas ke arah Liora.


"Oh itu, ah iya jadi nanti kita berhenti di depan sana," kata Liora menunjuk ke arah tempat yang akan menjadi tujuannya.


"Restoran cepat saji?" Tanya Jack memastikan.


"Hmm iya, aku sedikit lapar, sebenarnya tadi sudah makan sih di rumah, tapi tidak tahu kenapa aku lapar lagi, lagian jam segini banyak restoran yang sudah tutup, jadi tempat itu pilihan satu-satunya," ucap Liora tanpa malu sedikitpun saat mengatakan itu.

__ADS_1


__ADS_2