Please Love Me

Please Love Me
Bab 139


__ADS_3

"Aku akan menikah dengan pilihan kedua orang tuaku, lebih baik kita akhiri hubungan kita sampai disini Dee, maaf karena aku mengambil keputusan ini dan berhenti memperjuangkan cinta kita, karena aku tahu bagaimana orang tuaku, aku yakin jika mereka tidak semudah itu memberikan restunya untuk kita, daripada kamu berjuang untuk hal yang sia-sia, lebih baik cukup sampai disini, semoga kamu bahagia, dan menemukan yang lebih baik dariku," seorang wanita yang masih cantik di usianya yang sudah menginjak 49 tahun menghapus air matanya kala melihat album foto dimana ada dua orang di foto itu, lebih tepatnya foto dirinya dan sang kekasih.


Sama-sama berjuang menempuh pendidikan di jurusan kedokteran membuat mereka satu sama lain menjadi dekat dan menjadi pasangan kekasih, tetapi sayangnya kedua orang tua dari prianya tidak merestui hubungan mereka, bahkan kekasihnya itu dijodohkan dengan gadis lain oleh kedua orang tuanya, membuat hubungan yang mereka jalani selama dua tahun kandas begitu saja.


"Ibu, Ibu kenapa menangis?" Liora dibuat terkejut ketika melihat Ibunya menangis terisak sambil memeluk album foto yang tertutup.


Dea menggeleng tapi dengan air mata yang terus menetes.


"Bu, jangan bikin Liora cemas," Liora membawa Dea ke dalam pelukannya.


Dea tersenyum menghapus air matanya, "Ibu tidak apa-apa hanya ingat sesuatu saja," Dea melepaskan pelukan putrinya dan menatapnya.


Dea meletakkan album foto itu ke tempatnya semula, "Oh ya, mau mau kemana rapi begini?" Tanya Dea melihat penampilan putrinya yang tampak sudah rapi.


"Kak Max meminta bantuanku, untuk menyiapkan pesta ulang tahun Kak Bunga yang akan datang sebentar lagi," ucap Liora menjelaskan.


"Kakakmu akan kembali?" 


"Hmm kalau Kak Max mungkin sekitar sebulan lagi, kalau Kak Vano, Kak Olive, Mami sama Papi minggu depan juga sudah pulang."


"Hmm Ibu sudah tidak sabar menunggu Mamimu pulang, ibu sangat merindukannya, sudah dekat tapi tetap saja tidak setiap saat bisa bertemu seperti dulu," ucap Dea yang memang sudah jarang bertemu dengan Tiffa. 


"Ibu tenang saja, aku akan aturkan waktu untuk Ibu dan Mami agar bisa bertemu, dan kalian bisa bebas mengobrol seharian," ucap Liora menggenggam tangan Ibunya.


"Baiklah, Ibu percaya padamu, ya sudah sana nanti kemalaman, lagian kenapa jam segini baru keluar, kenapa tidak dari siang saja sih sayang," protes Dea, karena Liora perginya setelah makan malam.


"Ya bagaimana lagi Bu, sempatnya malam, dan lagi, Ibu tidak perlu khawatir karena Kak Max meminta Jack untuk menemaniku, ya sudah Liora pergi dulu, Jack sudah mengabari jika dia sudah ada di depan," kata Liora mencium pipi Ibunya sebelum pergi.


"Biar Ibu antar ke depan," Dea bangun dan  menggamit lengan putrinya untuk menemani putrinya menemui Jack.


"Malam Bibi," sapa Jack melihat Dea.


"Malam Jack, kalian mau jalan sekarang, Jack tidak masuk dulu," tawar Dea.


"Tidak usah Bibi, kami langsung jalan saja, takut kemalaman," jawab Jack menolak Dea secara halus.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian hati-hati ya, Jack Bibi titip Liora ya."


"Iya Bi, Bibi tenang saja, Liora akan pulang dalam keadaan utuh," gurau Jack yang langsung mendapat tabokan dari Liora.


"Memangnya ada yang memakanku, hingga aku berkurang," kesal Liora yang langsung meninggalkan Jack setelah mencium telapak tangan Ibunya menuju ke mobil pria itu.


*


*


Kau!" Al mengacungkan  jari telunjuknya pada seseorang  yang baru saja datang.


Pria itu langsung menarik Lily dan menyembunyikan tubuh Lily di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan? Jadi ini ternyata sifatmu yang sebenarnya, berani membentak perempuan?" 


"Tidak perlu ikut campur, lagian untuk apa kau disini? Sekarang lebih baik pergi dari sini, sebelum aku panggilkan satpam untuk mengusirmu," ujar Al sengit.


Pria itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Sungguh Tuan rumah yang tidak sopan bahkan mengusir tamunya tanpa berbasa-basi, setidaknya beri minuman atau persilahkan duduk," ucap pria itu dengan santainya.


Lily mengernyitkan dahi bingung, siapa orang yang ada di depannya.


Pria itu berbalik badan dan menatap Lily, "Kamu tidak apa-apakan?" Tanya pria itu.


"Jika ada sesuatu katakan, biar aku yang memberi dia pelajaran," ucap pria itu lagi sambil menunjuk ke arah Al.


"Aku tidak apa-apa, tapi kalau boleh tahu siapa kau?" Lily bertanya karena dirinya memang penasaran.


"Lily Anastasya? Kau sungguh tidak mengenalku? Sungguh keterlaluan, padahal aku sudah membela dan melindungimu, tapi kau tidak mengenali aku," pria itu menggelengkan kepala tidak percaya.


"Aleandra Licya Horison itu namanya asal kau tahu," ucap Al mencela dan langsung menarik tangan Lily.


"Kau ganti nama? Kenapa tidak memberitahuku? Atau jangan-jangan kau terbentur dan mengalami amnesia, terus dia memberi nama itu untukmu," ucap pria itu menyentuh kening Lily dan dengan cepat Al menepisnya.


"Jangan pernah menyentuh Ale dengan tangan kotormu!" 

__ADS_1


"Lily ini aku Dion," ucap Dion dengan lantang.


"Dion? Dion Atmajaya?" Tanya Lily menatap Dion dari atas ke bawah.


Dion mengangguk, "Iya aku Dion Atmajaya sekarang kau sudah ingat?"


"Dion Kau kemana saja? Kenapa baru muncul? Kau selama ini tinggal dimana? Kamu benar-benar kembali kan? Kau akan terus disini dan tidak pergi lagi kan? Dan kenapa pergi tidak memberiku kabar bahkan menghilang seperti ditelan bumi?" Rentetan pertanyaan Lily lontarkan untuk menjawab rasa penasaran hampir 4 tahun ini.


Lily langsung melihat mobil yang dikenalnya masuk ke halaman, dirinya tersenyum lebar saat melihat siapa yang turun dari mobil,  dan tanpa banyak kata lagi, dia berlari ke arah suaminya, Jason merentangkan tangannya dan  menangkap tubuh Lily. Kedua tangan Lily melingkar di leher Jason, dan kedua tangan Jason berada di kaki istrinya.


Jason kemudian mengecup bibir istrinya singkat tidak peduli dengan dua orang yang ada di sana.


"Kenapa baru pulang?" Tanya Lily menatap suaminya.


"Siapa dia?" Jason tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya justru bertanya.


"Teman lama, kenapa baru pulang?" Lily kembali bertanya karena belum mendapatkan jawaban dari suaminya.


"Lembur, sepertinya kamu juga baru pulang?" Jason melihat istrinya masih memakai pakaian yang sama seperti pagi tadi.


"Iya, belum lama sampai, kamu sudah makan belum?" Tanya Lily yang melihat wajah lelah suaminya.


"Tidak sempat."


"Kamu selalu seperti itu, terlalu sibuk sampai mengabaikan kesehatanmu sendiri," omel Lily pada suaminya.


"Kan biar cepat selesai sayang, makanya aku fokus ke kerjaan," kata Jason beralasan.


"Alasan saja. Ya sudah ayo masuk! Bersih-bersih terus makan."


Jason pun berjalan dengan Lily masih ada di gendongannya.


"Tuan Jason Louvis!" Laki-laki yang bernama Dion terdengar memanggilnya.


Jason yang tadinya tidak memperdulikan keberadaan kedua orang itu, kini menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Bisakah kita bicara?" Ucap Dion yang menyenggol bahu Al dan berjalan melewatinya begitu saja menghampiri Jason.


__ADS_2