Please Love Me

Please Love Me
Part 64


__ADS_3

Lily yang sudah selesai membuatkan makanan untuk atasannya itu pun berjalan ke lift dan menuju lantai paling atas gedung itu, karena di lantai paling atas lah, ruangan atasannya ada di sana.


Dengan susah payah Lily menekan tombol lift karena dirinya juga sedang membawa nampan yang berisi makanan untuk atasannya tersebut.


"Lantai berapa?" Tanya seorang pria yang juga masuk ke lift itu di saat Lily melihat minuman yang sedikit tumpah di nampan.


Lily sedikit memundurkan tubuhnya, saat mendengar pria itu seperti akan menolongnya.


"Mmm lantai paling atas," jawab Lily dan melihat pria itu menekankan tombol menuju  lantai paling atas seperti yang dikatakannya.


"Terima kasih," kata Lily menundukkan sedikit kepalanya walaupun dia tahu mungkin pria itu tidak melihatnya karena posisi pria itu kini ada di depannya.


"Mm tapi kenapa kau tidak memencet tombol lantai tujuanmu?" Tanya Lily pada pria yang sedari tadi berdiri memunggunginya itu dan tidak melihat pria itu memencet tombol lantai yang ditujunya.


"Aku juga akan kesana," jawab pria itu.


Lily tampak berpikir sesuatu, tapi dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, menepis apa yang tadi terlintas karena rasanya tidak mungkin.


"Apa Anda bekerja disini?" Tanya Lily memecah keheningan.


"Hmm," jawab pria itu singkat.


"Oh, tapi memangnya boleh disini bekerja dengan memakai pakaian seperti Anda?" Tanya Lily menatap pria itu, yang memakai topi dan pakaian santai.


Lily bergeser dan mendongak mencoba menatap pria itu, sayangnya tidak bisa, karena selain tubuh pria itu yang jauh lebih tinggi darinya, pria itu juga menurunkan sedikit bagian depan topi bahkan pria itu juga sengaja memalingkan mukanya ke sisi lain hingga membuat Lily tidak bisa melihatnya.


Ting


Tak lama pintu pun terbuka.


"Anda tidak keluar Nona," kata pria itu membatalkan niat Lily yang ingin tahu wajah pria itu.

__ADS_1


"Ah iya," jawab Lily tergagap karena Lily seperti merasa kepergok pria itu jika dirinya memperhatikannya.


Lily pun keluar dan pria itu hanya menatap kepergian Lily.


"Pagi," sapa Lily pada wanita yang sedang berkutat dengan laptopnya.


Wanita itu pun mendongak dan berdiri, "Kau yang bernama Lily?" Tanyanya ketika melihat penampilan Lily serta nampan yang dibawanya.


"Iya Bu Nathalie, saya mau mengantarkan ini," kata Lily menunjukkan nampan yang di bawahnya.


"Hmm, ikuti saya!" Wanita itu kemudian berjalan lebih dulu menunjuk ruangan bosnya.


Nathalie membuka sebuah pintu lebar-lebar agar Lily bisa masuk.


"Kau letakkan saja makanan itu di meja sofa, bos tadi sedang keluar, mungkin sebentar lagi dia akan kembali," Nathalie menunjuk meja dari posisi dia berdiri yang tepatnya masih ada di depan pintu, mendengar telepon di meja kerjanya yang letaknya tak jauh dari ruangan bosnya itu, Nathalie pun meninggalkan Lily membiarkan gadis itu meletakkan makanan yang dibawanya.


"Kamu letakkan itu, dan setelahnya kau boleh langsung pergi," pesan Nathalie sebelum meninggalkan Lily.


Tapi langkahnya berhenti dan kembali menoleh ke belakang, " Nanti jangan lupa tutup pintunya jika sudah keluar dari ruangan ini," ucapnya yang kemudian kembali berjalan meninggalkan Lily setelah gadis itu mengiyakan ucapannya.


Tunggu tapi Lily sangat mengenal aroma parfum ini, tapi lagi-lagi menepis apa yang ada di pikirannya karena itu rasanya tidak mungkin. Di saat dia sedang berperang dengan banyak hal yang berkecamuk di pikirannya tiba-tiba dia mendengar suara itu berbisik di telinganya, suara yang sangat dia kenali.


"Aku merindukanmu," bisik pria itu di telinga Lily.


Lily mencoba memberanikan diri melepas tangan yang melingkar di perutnya dan berbalik badan, dan matanya terbelalak saat melihat siapa orang yang memeluknya itu, ternyata apa yang tadi dia pikirkan adalah benar. Pria itu adalah pria yang sangat dicintainya.


"Jason ngapain kamu disini?" Tanya Lily yang melihat bahwa pria itu tak lain adalah Jason.


"Jadi yang di lift tadi beneran kamu?" Tanya Lily lagi karena penasaran bahkan Jason pun belum menjawab pertanyaan pertamanya.


"Hmm iya, aku melihatmu kesusahan dan membantumu," jawab Jason sambil menatap dalam perempuan yang berhasil memporak-porandakan hati dan pikirannya.

__ADS_1


"Wah sepertinya ini enak," Jason kemudian menarik Lily dan menyuruhnya duduk di sofa, dan kemudian dirinya ikut duduk di sampingnya.


"Ini tidak boleh," Lily kemudian bangun dari duduknya tapi Jason kembali menariknya hingga terduduk kembali di sofa.


"Apa yang tidak boleh?" Jason menatap Lily bingung, apalagi melihat dirinya terus menatap pintu ruangannya.


Jason mengambil makanan dan hendak menyuapkan ke mulutnya, tapi Lily menahan tangannya.


"Jangan dimakan!" Lily melarang Jason memakan makanan yang tadi dibuatnya.


"Kenapa?" Jason mengernyitkan dahi bingung.


"Apa jangan-jangan ada racun di makanan ini?" Hanya itu satu kemungkinan yang bisa Jason tebak.


Plak


Lily menepuk paha Jason, "Jangan sembarangan menuduh!" Kesal Lily yang kemudian bangun dari duduknya lagi, tapi Jason kembali menahannya.


"Ayo kita pergi sebelum ada orang lain yang masuk! Aku tidak mau di pecat," ucap Lily memelas.


"Siapa yang akan memecatmu?" Tanya Jason heran karena ternyata Lily dari tadi terlihat gelisah hanya karena takut dipecat.


"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja bosku, memang siapa lagi, jawaban seperti itu saja kamu tidak tahu," gerutu Lily yang masih bisa di dengar Jason.


"Oh," kata Jason yang akan kembali menyuapkan makanannya yang sedari tadi masih terlihat sendok berisi makanan yang masih ada tepat di depan mulutnya.


"Hanya Oh," Lily kembali memegang tangan Jason yang hendak menyuapkan makanan dan kembali mengurungkannya padahal perutnya sudah sangat lapar, dia tadi keluar dan sengaja mengganti pakaiannya dengan pakaian santai karena harus menemui Stevano menemani Alno bermain di taman dekat kantornya, karena tidak ingin terlihat mencolok Jason pun hanya memakai kaos polos berwarna hitam dan celana pendek berwarna coklat muda. Melihat penampilan itu yang membuat Lily menepis pikirannya yang sempat mengira itu seperti Jason saat di lift tadi, tapi rasanya tidak mungkin karena semua pakaian Jason berwarna gelap, terutama kebanyakan warna hitam.


"Ayo kita keluar sekarang Jason selagi belum ada yang tahu kamu masuk," Lily mengambil sendok berisi makanan di tangan Jason kemudian menarik pria itu agar berdiri dan segera keluar bersamanya.


Ceklek

__ADS_1


Dan saat hendak keluar terdengar seseorang dari luar akan membuka pintu. 


Lily yang panik langsung menarik Jason untuk bersembunyi di mana saja di ruangan itu yang sekiranya aman, dan orang yang akan masuk tidak melihat mereka.


__ADS_2