
"Kak!"
"Hmm!"
Lily membalikkan badannya hingga kini posisinya menghadap Dahlia yang berbaring membelakanginya.
"Kakak belum tidur kan?" Tanya Lily membentuk pola abstrak di punggung Dahlia.
"Hmm," jawab Dahlia lagi hanya dengan gumaman.
"Dari tadi hmmm, hmmm doang," kata Lily kesal.
Dahlia berbalik menghadap adiknya dan kini kakak adik itu, berbaring dengan saling berhadapan.
"Kenapa?" Tanya Dahlia menatap adik yang disayanginya, walaupun tidak ada hubungan darah.
Menyingkirkan helaian rambut menutupi pipinya yang terlihat lebih berisi, bagaimana tidak berisi jika dua hari ini selama tinggal di rumah Ibunya, Lily sering makan dengan porsi lumayan banyak.
"Kakak bukan pergi karena Kak Al kan?" Tanya Lily tak mengalihkan sedikitpun arah pandangnya tepat di mata Dahlia.
Dahlia tampak berfikir, "Hmm sebenarnya hal itu salah satunya, tapi bukan satu-satunya, ada alasan yang lain juga, kan Kakak sudah menjelaskannya padamu waktu itu," kata Dahlia setenang mungkin.
Dahlia teringat kembali saat dirinya berada di apartemen pria itu, yang dia bela-belain tengah malam datang ke tempat pria itu. Dahlia begitu mengkhawatirkan Al setengah mati, tapi di saat Dahlia memberikan obat pada pria itu, Dahlia menemukan bahwa obat itu telah ditukar.
"Apa ini Kak?" Tanya Dahlia saat melihat ada sebagian obat yang tumpah di kasur Al saat pria itu menukar obatnya.
"Hmm itu…"
Dahlia menyingkap kasur tempat tidur Al dan menemukan ada botol vitamin yang kosong, Dahlia bukan gadis yang bo*doh tidak mengerti dengan hal itu.
Dahlia kemudian menatap tajam Al.
"Apa maksudnya ini Kak? Kenapa Kak? Kenapa kau membohongiku?" Teriak Dahlia merasa kecewa karena Al telah membohonginya.
"Dahlia, aku bisa jelaskan, aku…"
"Hanya ingin mempermainkanku, iya kan? Kak Al pikir candaan Kak Al ini lucu? Kau tahu Kak, aku khawatir setengah mati, berlarian tengah malam saat tiba-tiba panggilanmu terputus, tapi apa...kau… kau hanya membohongiku, apa kau senang sekarang? Apa kau puas karena aku langsung datang karena aktingmu yang begitu hebat itu?" Kata Dahlia sambil menghapus air matanya yang tanpa dia duga jatuh begitu saja.
"Dahlia kau salah paham, aku bisa jelas…"
"Salah paham? Salah paham apa yang Kak Al maksud, aku salah paham pada kebaikan Kak Al, iya aku memang salah memahami perhatian Kak Al akhir-akhir ini, aku kira Kak Al…" Dahlia tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya.
Dahlia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Al.
Al segera turun dari ranjang, hingga handuk yang tadi menempel di dahinya terjatuh, tapi Al tidak peduli, Al terus melangkah untuk mengejar Dahlia, menjelaskan pada gadis itu, jika Dahlia hanya salah paham saja tapi sayangnya Dahlia tidak mau mendengar penjelasan Al dan mempercepat langkahnya begitu saja ingin segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Tak sebanding dengan langkah Al yang lebar, hingga akhirnya Al berhasil menahan gadis itu.
"Dahlia dengarkan dulu penjelasanku," kata Al memegang tangan Dahlia agar gadis itu tidak kabur sebelum mendengar penjelasannya.
"Sudahlah Kak, tidak ada yang perlu Kak Al jelaskan, lepas saya mau pulang," ucap Dahlia dingin.
"Sudah tengah malam, biar aku antar.
"Tidak perlu aku bisa sendiri," tolak Dahlia mecoba melepaskan tangan Al dari lengannya.
"Tapi Dahlia…"
"Aku bilang lepas!"
Dan dengan berat hati, Al pun melepaskan tangan Dahlia, membiarkan gadis itu pergi meninggalkan cintanya.
"Kak!"
"Kak!"
Lily menaik turunkan tangannya, di depan wajah Dahlia.
"Hah iya kenapa?" Kata Dahlia yang lamunannya buyar saat mendengar Lily memanggil-memanggilnya.
"Kakak melamun," jawab Lily.
"Kakak belum menjawab pertanyaanku," kata Lily yang memang menunggu jawaban kakaknya.
"Pertanyaan apa?"
"Apa Kak Lia memutuskan pergi karena Kak Al?" Tanya Lily lagi karena belum puas dengan jawaban Dahlia tadi.
"Bukannya tadi sudah Kakak jawab," ucap Dahlia yang memang sudah menjawab pertanyaan adiknya.
"Kenapa Kak? Kenapa Kakak menyerah dengan cinta Kakak?" Kata Lily menatap mata Dahlia.
Dahlia menghela nafasnya.
"Ada saatnya kita menyerah, jika kita tidak yakin dengan akhirnya, jika kita berjuang tapi dianya tidak berjuang, bukankah itu hanya membuat kita lelah, dan jika kita memang sudah lelah, kenapa kita harus terus bertahan pada hal yang membuat kita terluka?"
"Tapi Kak…"
"Sudahlah jangan bahas itu lagi, sekarang tidur sudah malam," kata Dahlia yang lebih dulu memejamkan matanya.
Dan Lily hanya bisa menatap kakaknya dengan pandangan sendu.
__ADS_1
"Kenapa Cinta harus serumit ini? Di saat kita mencintai seseorang, seseorang yang kita cintai tidak mencintai kita, di saat kita di cintai tapi kita tidak mencintainya dan disaat saling mencintai justru tidak bisa bersama," gumam Lily pelan, kemudian mengecup kening kakaknya.
"Good night Kak," kata Lily kemudian ikut memejamkan matanya menyusul kakaknya ke alam mimpi.
*
*
Berbeda dengan Lily yang kini tidur nyenyak bersama kakaknya dua hari ini, Jason justru membolak-balikkan badannya di atas ranjang, dirinya benar-benar tidak bisa tidur tanpa guling hidupnya. Jason baru saja pulang kerja dan hanya itu yang dia lakukan setelah membersihkan badannya.
Biasanya Jason tidur dengan memeluk Lily dan kini saat dirinya hanya tidur sendiri, hal itu membuatnya ada yang kurang.
Jason kembali mengambil ponselnya yang sedang diisi daya, menekan nomor istrinya tapi masih sama, nomornya tidak aktif dan hal itu membuatnya semakin gelisah.
"Kemana sih kamu sayang?" Gumam Jason menatap layar ponselnya dan kembali menghubungi istrinya lagi, dan lagi tapi tetap saja, hasilnya sama.
Jason pun akhirnya menghubungi nomor Kakak Iparnya, Jason berharap Kakak Iparnya itu tahu tentang istrinya.
"Halo," ucap seseorang dengan suara yang serak, Jason yakin jika orang di seberang telepon masih tertidur.
Jason lupa jika waktu tempat mereka tinggal sekarang berbeda.
"Kenapa? Kau mengganggu tidurku saja, kau tahu jam 4 terlalu pagi untuk menerima telepon darimu," gerutu Al yang mungkin sudah tahu siapa yang menghubunginya.
"Maaf, tapi Al, apa aku bisa bicara dengan Lily? Dari kemarin aku pergi sampai sekarang nomornya tidak bisa dihubungi," katanya mengadu pada Al.
"Ale dia sedang tidur di rumah Ibunya, dan jika ponselnya tidak bisa dihubungi, itu karena ponselnya rusak," jawab Al sambil menguap.
"Ponselnya rusak?"
"Hmm, kemarin dia membantingnya," jawab Al enteng.
"Kenapa?"
"Kau tanyakan kenapa padaku? Seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri, istri mana yang tidak merasa cemburu saat suaminya melakukan perjalanan bisnis dengan gadis masa lalunya, sudahlah, aku mau tidur lagi."
"Tunggu Al!"
Tut tut tut
Belum selesai meneruskan ucapannya, Al justru sudah memutuskan panggilan darinya.
"Dasar kurang ajar, untung saja dia Kakak Ipar, kalau bukan sudah pasti aku akan menendangnya," gerutu Jason memaki Al, dan kemudian tanpa sebab Jason justru tersenyum.
"Istriku membanting ponselnya?" Gumamnya menarik sudut bibirnya ke atas.
__ADS_1
Mendengar istrinya sampai membanting ponselnya entah kenapa membuat Jason begitu senang.
"Sudah tidak sabar ingin melihatmu sayang, coba saja aku melihatmu membanting ponselmu, mmm itu pasti sangat menggemaskan" kata Jason yang kemudian menelpon seseorang.