
"Sayang!" Gumam Lily yang melihat kedatangan suaminya.
Sementara pria yang tadi merangkul bahu Lily segera melepaskannya, nyalinya menciut melihat wajah Jason yang tampak marah.
Jason langsung mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh pria itu.
"Berani kau menyentuh istriku!"
"Ti..tidak, maafkan aku Pak, aku tidak bermaksud…"
"Sayang lepaskan! Kamu hanya salah paham, dia tadi hanya bercanda," Lily berusaha melepaskan tangan Jason.
"Bercanda ya bercanda saja, tidak perlu sampai merangkul seperti itu," ucap Jason ketus dan langsung menarik tangannya.
"Dan tadi apa dia memanggilku Pak, kukira usia kita tidak jauh berbeda," Jason merasa tidak terima dengan panggilan pria itu.
"Doni sebaiknya kamu pergi, Sinta pasti sudah menunggumu, kasihan dia," kata Lily mengusir pria yang bernama Doni secara halus.
Doni tersenyum, karena ternyata Lily tahu jika saat ini dirinya memang ingin sekali kabur. Doni segera melangkahkan kakinya hendak pergi, tapi dia merasa heran saat justru langkahnya masih di tempat yang sama. Dan begitu Doni menengok ternyata suami Lily menarik baju bagian atas belakangnya.
"Kau pikir bisa kabur semudah itu," Jason tersenyum menyeringai apalagi saat melihat Doni ketakutan.
"Ini ada apa? Sayang kenapa? Lily?" Tanya seorang wanita yang baru datang dengan perut buncitnya, sambil memandang Lily dan pria yang dipanggilnya sayang.
"Sayang?" Jason mengernyitkan dahi bingung.
"Ya kan tadi aku bilang, kamu hanya salah paham, perkenalkan dia temanku Sinta dan ini suaminya," kata Lily memperkenalkan keduanya pada Jason.
"Sayang!" Lily menyenggol tubuh Jason. "Cepat minta maaf," perintah Lily dengan berbisik.
"Tidak mau, dia tadi yang salah," Jason menolak perintah istrinya karena dirinya merasa tidak bersalah.
Lily menghembuskan nafas panjang, "Kak Doni, Sinta, aku minta maaf ya, tadi suamiku hanya salah paham saja," ucap Lily merasa tidak enak pada temannya.
"Oh tidak apa-apa kok aku ngerti, hmm sayang ayo kita kembali ke kamar kita," setelah menjawab Lily, Sinta memandang suaminya dan mengajaknya pergi dari sana.
"Kami permisi dulu Pak, hmm Lily aku pergi dulu ya, oh ya salam buat Olivia, semenjak menikah aku tidak pernah melihatnya lagi," ujar Sinta menggamit tangan suaminya untuk segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Ah iya, nanti aku sampaikan, kalian hati-hati, sekali lagi aku minta maaf," ucap Lily sedikit keras agar Sinta dan suaminya bisa mendengar.
Sinta dan suaminya menoleh sambil tersenyum, kemudian melambaikan tangannya dan Lily pun melakukan hal yang sama.
"Aww!" Ringis Jason saat merasakan cubitan pedas di lengannya, siapa lagi pelakunya jika bukan istri tercinta.
"Sayang kenapa mencubitku?" Kata Jason sambil meringis, cubitan Lily terasa panas, bahkan sampai membekas.
"Itu karena kamu tidak mau minta maaf saat berbuat salah," Ucap Lily dan langsung meninggalkan suaminya untuk kembali masuk ke kamarnya.
"Itu karena aku tidak salah, dia yang salah," kata Jason yang masih saja ngotot bahwa dirinya tidak salah.
Jason tampak berjalan mengekori istrinya. Lily menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian berbalik.
"Dia merangkulku hanya refleks saja, kamu boleh marah, tapi dia juga minta maaf karena tahu salahnya, dan kamu sudah mencengkram kerah kemejanya, dan itu salah kamu, tapi kamu tidak menyadari kesalahanmu bahkan tidak mau minta maaf, dan kamu juga lihat sendiri dia sudah mempunyai istri, bahkan istrinya juga ada bersama kita tadi."
"Maaf," kata Jason merasa apa yang istrinya katakan ada benarnya juga.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi," Lily kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.
"Aku akan meminta maaf secara langsung pada kedua temanmu, jadi kumohon kamu jangan marah lagi."
"Kamu mau apa?" Tanya Jason yang melihat istrinya naik ke atas ranjang.
"Mau tidur siang, aku mengantuk sekali," kata Lily, bahkan dirinya sudah menguap berkali-kali.
"Kamu sudah makan kan? Kalau sudah aku mau istirahat dulu ya," setelah mengatakan itu tak lama Lily pun sudah sampai ke alam mimpinya.
Jason menarik selimut, menutupi tubuh istrinya sebatas dada, kemudian dirinya mengecup kening Lily cukup lama, sebelum akhirnya dirinya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena setelah itu Jason juga memutuskan untuk tidur siang menyusul istrinya ke alam mimpi.
*
*
Al yang duduk di kursi di rumah sederhana milik Dahlia sambil menunggu makan siang yang dipesannya datang, Al tampak sibuk memainkan ponselnya yang ternyata sedang bermain game online.
Dahlia gadis itu, juga duduk di kursi yang tidak jauh dari Al, Dahlia tampak sibuk menatap Al, bahkan tanpa berkedip.
__ADS_1
Di tengah keheningan di antara keduanya, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah sederhana itu.
"Sepertinya makanannya datang," Dahlia hendak bangun dan mengambil makanan itu.
Al segera menahan tangan Dahlia, "Biar aku saja, lebih baik kamu duduk!" Ucap Al yang kemudian berdiri, dan berjalan menuju pintu.
Raut wajah Al berubah begitu membukakan pintu, bahkan kedua tangannya pun mengepal.
"Anda siapa?" Tanya seorang pria yang seperti Al kenal.
"Tapi dimana?" Tanya Al berpikir dalam hatinya.
"Hello!" Kata pria itu menaik turunkan tangan kanannya, tepat di depan wajah Al.
"Harusnya aku yang bertanya kau siapa?" Tidak ada sopan-sopannya sama orang tua. Al tak segan menggerutu bahkan di depan pria itu.
"Siapa Kak kok lama?" Dahlia tiba-tiba muncul di belakang tubuh Al.
"Eh Dion, kok balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Dahlia melihat ke sekeliling barangkali memang ada barang pria bernama Dion, ada yang ketinggalan.
"Balik lagi? Berarti pria ini yang tadi kemari?" Batin Al menatap Dion dingin.
"Hmm tidak ada, aku hanya ingin mengantarkan ini," Dion mengangkat tinggi sesuatu yang dibawanya.
"Itu apa?" Tanya Dahlia pada teman satu kampusnya itu.
"Hmmm makanan kesukaanmu," ucap Dion dengan senyumannya.
"Benarkah? Hmm terima kasih ya," Dahlia menerima makanan yang Dion berikan.
Al langsung menarik tangan Dahlia, dan menyembunyikannya.
"Tidak perlu, lebih baik bawa kembali saja, kami sudah memesan makanan, mungkin sebentar lagi datang," ucap Al menatap Dion datar.
"Kak!" Dahlia protes saat mendengar Al berbicara sesuka hati bahkan tidak disaring lebih dulu.
__ADS_1
"Ayo masuk!" Dahlia mengajak temannya untuk masuk.
"Lebih baik kau pulang!" Perintah Al segera menghalangi langkah Dion yang akan masuk ke dalam rumah Dahlia.