Please Love Me

Please Love Me
Bab 195


__ADS_3

"Apa kamu bisa menyetir dengan keadaan seperti itu?" Liora menatap jari-jari Ronald.


"Hmm sepertinya tidak bisa sih, tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin juga aku menginap disini, apalagi seseorang pernah mengatakan jika tidak baik seorang pria menginap di rumah seorang gadis, terlebih lagi orang tua gadis itu sedang tidak ada di rumah," ucap Ronald mengingatkan Liora akan perkataan gadis itu beberapa waktu yang lalu.


"Mmm bukan begitu, ya sudah ayo, biar aku antar kamu saja," kata Liora yang kemudian mengambil kunci mobilnya dan akan berlalu keluar.


Lagi-lagi Ronald menahan pergelangan tangan gadis itu.


"Tidak perlu kamu pasti lelah, mandi dan istirahat saja, aku bisa pulang sendiri, lagian ini juga luka kecil, jadi jangan khawatirkan aku," ucap Ronald kemudian pergi meninggalkan Liora.


"Tidak ini semua salahku, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya? Nanti apa yang harus aku katakan pada orang tuanya?" Gumam Liora yang kemudian mengambil pakaiannya lengkap dan memasukkannya ke dalam tasnya dan segera berlari keluar menyusul Ronald.


"Untung kamu belum pergi," Liora membungkuk memegang kedua lututnya, dengan nafas terengah-engah karena berlarian.


"Kenapa?" Ronald mengernyitkan dahi dan dirinya yang akan membuka pintu mobil pun mengurungkannya dan kemudian kembali menghampiri gadis yang tadi mengejarnya.


"Tidak apa-apa, biar aku yang mengantarmu," ucap Liora kembali menegakkan tubuhnya.


Ronald mengambil sapu tangan yang selalu ada di kantong celananya kemudian mengusap keringat Liora yang bercucuran membasahi wajah gadis itu.


"Terima kasih, aku bisa sendiri," ujar Liora mengambil sapu tangan dari tangan Ronald dan menghapus keringatnya sendiri.


"Aku kan tadi bilang tidak usa, kenapa tidak mau dengar."


Liora mengembalikan sapu tangan milik Ronald yang tadi dipakainya, "Tidak apa-apa, aku hanya merasa harus bertanggung jawab saja, aku yang membuat jari-jarimu seperti itu," ucap Liora merasa bersalah.


"Ini bukan hanya salahmu, ini juga salahku, jadi kamu tidak perlu bertanggung jawab sampai berlarian seperti ini mengejar hanya untuk mengantarku."


"Tidak apa-apa, Ayo!" Liora menepuk bahu Ronald kemudian masuk ke kursi kemudi.


Tet


Tet

__ADS_1


Liora membunyikan klakson karena Ronald malah diam saja dan tidak kunjung masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu tidak tahu bagaimana aku berusaha bertahan, dan anehnya hanya padamu, tidak dengan wanita lain," gumam Ronald yang akhirnya masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa?" Tanya Liora melihat wajah lesu Ronald.


Ronald tersenyum, "Tidak apa-apa," jawabnya kemudian.


"Oh, oke, kita jalan sekarang!" Ucap Liora mulai menjalankan mobil milik pria itu.


"Boleh aku bertanya?" Tanya Liora memecah keheningan yang terjadi diantara keduanya, entah kenapa Ronald yang tadinya banyak bicara saat ini justru tidak berbicara sepatah kata pun.


"Hmm silahkan!" 


"Wanita kemarin siapa? Dia bukan salah satu dari wanitamu bukan? Mmm maksudku seleramu tidak sampai dengan seorang wanita paruh baya kan?" Tanya Liora hati-hati takut menyinggung perasaan pria itu.


"Dia Ibuku," ucap Ronald dengan suara yang begitu lirih.


"Lalu kenapa…"


"Karena dia pantas mendapatkannya," ucap Ronald memotong ucapan Liora yang sudah dia tebak kemana arah pembicaraan gadis itu.


"Tapi…"


"Dia dulu meninggalkanku dan Ayah hanya demi menikah dengan seorang pria kaya," lagi-lagi ucapan Liora dipotong oleh Ronald.


Mendengar jawaban pria itu, Liora langsung menoleh hanya ingin melihat bagaimana ekspresi wajah Ronald.


Kekecewaan, kesedihan, kemarahan, itu yang bisa Liora lihat.


"Saat keadaan kami terpuruk dia meninggalkan kami demi kesenangan dan kemewahan dan disaat dia kesusahan, dia justru menghampiriku, kenapa tidak anak-anak suami barunya? Aku dan ayah harus berjuang sementara dia bersenang-senang, untungnya paman, saudara ayah membantu kami, sehingga kami bisa bangkit dari keterpurukan, jadi apakah aku salah jika tidak menerimanya lagi?" Ronald menatap Liora dengan mata yang berkaca-kaca.


Liora menepikan mobilnya, dan menghapus air mata Ronald yang tidak tahu jatuh sejak kapan.

__ADS_1


Liora membawa Ronald ke pelukannya. "Aku tidak tahu salah atau tidak, tapi menurutku seburuk apapun dia bukankah dia tetap ibumu, dia sudah berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu, tapi jika kamu kecewa itu wajar, tapi jangan simpan rasa itu terus di hatimu, hingga berakhir menjadi dendam, karena dendam, hanya akan merugikan dirimu sendiri kedepannya."


"Baiklah mungkin kamu butuh waktu, tapi kamu harus pelan-pelan belajar memaafkannya, sebelum nanti akhirnya kamu menyesal, kamu harus bisa berdamai dengan keadaan, bagaimanapun masa lalu tidak bisa di ulang lagi dan hanya bisa dijadikan pelajaran. Mungkin ibumu datang karena dia memang benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki semuanya," tambah Liora yang kini melepaskan pelukannya.


"Ya udah sekarang kita jalan lagi," ucap Liora yang kembali melajukan mobilnya. Dan Ronald hanya terus menatap Liora hingga akhirnya tak lama mereka pun telah sampai di depan gedung apartemen Ronald.


Keduanya pun turun dan berjalan bersama masuk ke dalam lift, memencet angka dimana pria itu tinggal.


"Akhirnya sampai," Liora duduk dan meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal mungkin karena tadi beberapa kali naik turun tangga.


"Oh ya itu apa yang kau bawa?" Tanya Ronald melihat tas milik Liora.


"Baju ganti, aku mau menginap disini malam ini, aku khawatir kamu butuh sesuatu nanti tapi tanganmu sedang sakit, nanti siapa yang akan membantu?" Ujar Liora yang membuat Ronald terkejut atas kepolosan gadis itu.


"Liora, kamu tahu tidak baik menginap di tempat tinggal seorang pria, terlebih lagi kita hanya berdua disini, dan lagian disini hanya ada satu tempat tidur, karena kamar satunya aku gunakan sebagai ruang kerja dan hanya ada sofa kecil disana," kata Ronald menjelaskan situasi apartemennya saat ini.


"Aku bisa tidur disini, jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Kamu anak orang kaya dan bisa tidur di tempat tidur yang empuk dan kini kau bilang akan tidur di sofa?" Kata Ronald menatap Liora tak percaya mengatakan hal seperti itu.


"Aku memang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah selayaknya gadis-gadi lain, tapi aku pernah hidup susah, bahkan tidur hanya beralaskan tikar pun aku sudah pernah merasakannya, jadi kamu tidak perlu khawatir," kata Liora tersenyum meyakinkan bahwa dirinya baik‐baik saja dan tidak masalah jika akan tidur di sofa.


"Tapi…"


"Sudahlah, aku mau pinjam kamar mandi aku ingin membersihkan diri dulu."


"Kamu masuk saja!" Ronald menunjuk kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


"Baiklah, aku mandi dulu," pamit Liora yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi di kamar Ronald.


"Bukan seperti itu maksudku, aku hanya takut tidak bisa menahannya, apa kamu tidak mengerti juga?" gumam Ronald mengacak rambutnya frustasi.


 

__ADS_1


__ADS_2