
"Kakak harus melepaskan."
"Tidak, sampai kapanpun Kakak tidak akan melepaskannya," jawab Al cepat, tidak terima adiknya berbicara seperti itu.
"Ya sudah, berarti Kak Al harus berjuang, jika Kak Lia sudah tidak mencintai Kakak lagi, berarti Kakak harus membuatnya jatuh cinta lagi. Jadi Kakak jangan menyerah lebih dulu, selagi Kak Lia saat itu belum dimiliki oleh pria manapun, Kak Al berhak memperjuangkan cinta Kak Al."
"Apa yang kalian lakukan?" Jason mendekat menghampiri istrinya dan menyingkirkan tubuh Al yang tidur di pangkuan istrinya hingga terjatuh.
"Akh! Sakit tahu," ringis Al dan mencoba bangun.
"Salah siapa kau mengambil kesempatan dalam kesempitan di saat aku tidak ada di rumah, dan kau sayang kenapa kau biarkan dia tidur di pangkuanmu, yang berhak seperti itu hanya aku, tidak boleh ada pria manapun," ucap Jason merasa kesal pada istrinya yang dengan mudahnya memberikan izin pada Al membagi tempat yang seharusnya hanya untuk sang suami.
"Sayang tapi Kak Al bukan…"
"Walaupun dia bukan orang lain, tetap saja dia seorang pria dan aku tidak suka," potong Jason cepat dan meninggalkan istrinya.
Lily sedih melihat Jason marah padanya, Al yang melihat ekspresi adiknya saat ini, merasa tidak enak.
"Maafkan Kakak Ale, jika saja…"
"Sudahlah Kak, ini sudah terjadi," jawab Lily menatap kepergian suaminya yang Lily yakin pasti masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu kejar dia, kamu bujuk biar tidak marah lagi," ujar Al memberi saran.
Lily menatap kakaknya yang mengangguk.
"Ya sudah Kak, aku susul suamiku dulu ke kamar," kata Lily kemudian bangun dan menuju ke kamarnya.
"Sayang!"
Lily masuk ke dalam kamarnya yang gelap, tampak seperti tidak ada seseorang disana. Tiba-tiba Lily dibuat terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang.
Lily langsung melonggarkan pelukan orang itu dan berbalik.
"Sstt ini aku sayang," ucap Jason.
"Sayang kamu tahu aku begitu terkejut, aku kira siapa, bagaimana kalau ternyata yang melakukan itu orang jahat."
Jason segera melepaskan istrinya dan berjalan menjauh yang ternyata dirinya mengunci pintu kamar.
"Maaf sayang sudah membuatmu terkejut, oh ya sebentar," Jason menyalakan lampu dan mengambil makanan yang tadi dibelinya.
__ADS_1
"Ini pesananmu, katanya kamu mau makan ini," ucap Jason menyerahkan makanan keinginan sang istri.
"Sini ayo duduk dulu, kamu cepat makan, kasihan anak kita," tambah pria itu lagi.
Lily hanya menatap makanan yang dibelikan suaminya.
"Kenapa tidak dimakan?" Tanya Jason yang membuat Lily langsung melihat ke arahnya.
"Kamu tidak marah?" Tanya Lily hati-hati.
"Marah? Memangnya marah kenapa?" Jawab Jason tidak mengerti.
"Tadi kamu, waktu aku sama Kak Al."
"Oh itu, aku tidak marah sayang, mana mungkin aku marah padamu, aku tadi hanya sengaja biar kamu tidak lagi sama kakakmu," jawab Jason yang kemudian bersiap untuk menyuapi istrinya.
"Sekarang kamu makan ya, aaakk…!" Jason meminta Lily membuka mulutnya.
"Memangnya aku anak kecil," ucap Lily cemberut, tapi akhirnya menuruti perintah suaminya, membuka mulutnya menerima suapan dari Jason.
"Jadi kamu tahu aku mau menyusulmu?"
"Hmmm."
"Haha, bagus dong sayang, kalau jadi orang yang percaya diri," ucap Jason bangga pada dirinya sendiri.
"Tau ah, ayo cepat suapin lagi!"
"Oke, apa enak makanannya?"
"Hmm ini enak banget, kamu memang suami terbaik," puji Lily pada suaminya mengacungkan kedua jempolnya.
Jason tersenyum senang mendengar perkataan istrinya. "Tapi ini semua tidak gratis sayang, kau harus membayar mahal," ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
"Ya sudah ayo sekarang!" Jawab Lily begitu semangat.
"Tunggu, kamu habiskan dulu makananmu, karena yang kamu lakukan nanti mungkin akan butuh tenaga ekstra," ucap Jason menahan tangan istrinya yang segera beranjak.
"Hmm tidak, aku sudah kenyang," jawab Lily yang langsung berdiri dan hendak melepaskan pakaiannya.
"Sayang kamu mau ngapain?" Tanya Jason melihat apa yang istrinya lakukan.
__ADS_1
"Melepas ini, memangnya apa lagi, bukankah kita akan…
Jason langsung menyentil kening istrinya.
"Aww sakit sayang," ringis Lily. "Kenapa kau menyentilku, benarkan apa yang aku katakan?"
"Kata siapa? Memangnya apa yang kamu pikirkan hmm?"
"Ya i...itu, memangnya apalagi,"
"Dasar ya kau ini, sepertinya pikiran kotormu ini perlu dibersihkan," ucap Jason tertawa saat tahu apa yang istrinya pikirkan berbeda dengan apa yang sebenarnya dia minta.
"Kenapa dengan pikiranku?"
"Aku itu hanya ingin kau memijatku, badanku terasa pegal-pegal ini, terus kenapa kau malah berpikir ke arah sana, dasar kau ini, ayo sekarang cepat pijit suami kamu ini," Jason pun menarik tangan istrinya pelan menuju ke ranjang mereka.
Tiba-tiba Lily tertawa, membuat Jason mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?" Tanya Jason merasa heran.
"Hmm ini, aku kan belum menghabiskan makananku, jadi lebih baik aku habiskan dulu," ucap Lily yang kini giliran menarik tangan suaminya kembali menuju ke sofa yang tadi mereka duduki.
"Bukankah kamu tadi bilang sudah kenyang, jadi tidak baik jika harus dipaksa lagi, sekarang lebih baik kamu lakukan apa yang aku minta tadi. Ayo sayang lebih baik kamu lakukan sekarang!" Jason kembali mengajak istrinya untuk menuju ke tempat tidur.
Lily melepaskan tangan Jason dari tangannya, Lily tidak punya pilihan, dia harus mengeluarkan jurusnya sekarang.
"Kok kamu gitu sih sayang, kamu perhitungan sama istri dan anak kita? Ya sudah nanti-nanti lagi, aku tidak akan merepotkanmu dengan hal-hal seperti ini lagi," ucap Lily menatap Jason dengan wajah memelasnya.
"Sabar ya sayang, kamu dengarkan Ayah perhitungan dengan kita, kamu jangan minta apa-apa lagi ya, Ayah kamu sepertinya keberatan menuruti keinginan kita," ucap Lily yang kini duduk di atas ranjang membelakangi Jason sambil mengelus perutnya yang rata.
Jason segera menyusul istrinya, dan duduk di samping Lily.
"Sayang hadap kesini! Sayang dengarkan aku, bukan maksudku seperti apa yang kamu katakan tadi, mana mungkin aku perhitungan sama anak dan istriku, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"
"Coba kamu pikirkan, kamu menuruti keinginan anak kita tapi kamu minta imbalan, bukankah itu namanya perhitungan sama anak dan istri," jawab Lily kemudian memalingkan wajahnya.
"Baiklah, aku tidak akan perhitungan seperti itu lagi, aku tidak akan meminta imbalan, aku tulus melakukan ini untuk kalian," ucap Jason meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Jadi…" ucap Lily sengaja menggantung kalimat yang akan dikatakannya.
"Jadi…," Jason mengikuti ucapan istrinya sambil menunggu Lily meneruskan perkataannya, tapi setelah cukup lama, Jason tidak juga mendengar terusan kalimat yang istrinya ucapkan.
__ADS_1
Jason terdiam dan mencoba memikirkan kira-kira apa yang akan wanitanya itu katakan. Dia tidak ingin istrinya kembali marah padanya.