
"Sayang hati-hati nanti jatuh," teriak Lily pada putrinya yang beberapa hari yang lalu sudah bisa berjalan.
Lily panik saat tiba-tiba putrinya yang dia beri nama Cinta Almaira itu terjatuh di rerumputan, tapi dirinya tersenyum saat melihat putrinya kembali berdiri dan berjalan ke arahnya sambil terus memanggil-manggilnya. Kini usia Cinta sudah menginjak satu tahun, dan Lily merasa itu begitu cepat, padahal rasanya baru kemarin dia melahirkan, kini sekarang putrinya sudah bisa berjalan.
"Bu, bu, bu!" Celotehnya.
Lily merentangkan kedua tangannya, menangkap Cinta yang kini sudah semakin dekat dengannya.
"Hap, ketangkap," ujar Lily dan menciumi seluruh wajah Cinta, membuat anak itu kegelian sambil tertawa-tawa.
"Nungguin Ayah ya disini?" Tanya seseorang yang sudah sangat Lily hafal suaranya.
Cinta yang mendengar suara ayahnya, meronta dari pelukan Lily dan segera berlari menyambut kedatangan ayahnya.
"Hmm sudah wangi, tapi kenapa kotor gini?" Tanya Jason pada putrinya.
"Atuh Yah," ucapnya mengadu, menyembunyikan wajahnya di leher sang Ayah.
"Tapi Cinta bisa bangun sendiri kan? Tidak dibantu Ibu?"
Anak kecil itu mengangguk.
Lily tersenyum melihat interaksi anak dan suaminya itu, dia yang tadi berjongkok, kini berdiri dan berjalan menghampiri Jason. Mengambil tas kerja milik suaminya, dan Jason pun mengecup kening dan bibir Lily sekilas bergantian.
"Sayang masih ada Cinta," ucap Lily karena putrinya itu ternyata sedang menatapnya.
"Kiss Yah," ucapnya kemudian merasa iri karena tidak mendapatkan ciuman dari sang ayah.
"Oh, princess ayah mau di kiss juga?" Tanya Jason ingin menggoda putrinya.
"Emm," jawabnya sambil mengangguk antusias.
__ADS_1
"Tidak ah, Ayah belum mandi," jawab Jason.
Dan putrinya itu langsung cemberut.
"Jelek tau cemberut gitu, senyum dulu!" Pinta Jason sambil menusuk-nusuk pipi tembem putrinya dengan jari telunjuk.
"Api kiss."
"Sudah pintar tawar menawar ya, Ibu pasti ini yang mengajari," ucap Jason melirik istrinya yang kini menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kiss cini Yah!" Kata Cinta sambil menunjuk-nunjuk kedua pipi dengan jari mungilnya.
"Baiklah!"
Cup
Cup
Cup
"Ayo Cinta sama Ibu, biar Ayah mandi, Ayah bau acem," ucap Lily pada putrinya.
"Dak, Ayah au angi," ucapnya polos setelah menciumi leher ayahnya.
"Tuh sayang, kata Cinta ayah bau wangi, iya kan sayang," tanya Jason pada putrinya memastikan jika benar seperti itu yang putrinya maksud.
"Iya."
"Tapi Ayah harus mandi, ayo Cinta sama Ibu dulu," Lily pun mengambil alih putrinya dari gendongan Jason, kemudian mereka kini melangkah bersama menuju kamar, Lily juga harus mengganti baju putrinya yang kotor.
Jason yang melihat istrinya sibuk mengurus putrinya, dia pun mengurus dirinya sendiri, dia tahu istrinya pasti lelah seharian ini karena mengurus putri mereka.
__ADS_1
*
*
Liora yang melihat papinya pulang langsung bangkit dari duduknya, padahal baru saja Liora duduk disana. Liora tidak ingin, lebih tepatnya belum siap jika papinya menagih janjinya dulu. Ya bukan lagi dua tahun, tapi papinya memberi waktu Liora satu tahun karena jika tidak, Liora akan menikah dengan pria pilihan papinya. Dan kini satu tahun telah berlalu, Liora belum bisa menemukan tambatan hatinya, dan yang Liora lakukan adalah Liora yang belakangan ini selalu menghindar dari papinya.
"Papi ingin bicara!" Ucap William tegas.
Belum sempat kaki Liora menginjak tangga, William lebih dulu menghentikan langkah Liora.
Liora hanya menghela nafas perlahan jika papinya sudah mengatakan hal itu. Dia kemudian dengan malas berbalik dan berjalan menuju sofa, dimana papinya saat ini duduk.
"Duduk!" Pinta William dan Liora hanya menurut.
Liora menunduk merasa gugup, apalagi melihat aura William saat ini, sudah seperti ingin melahap hidup-hidup orang yang ditatapnya.
"Bagaimana? Kamu sudah mempunyai seseorang untuk dikenalkan pada Papi?" Tanya William to the point. Pertanyaan yang sama sekali tidak ingin Liora dengar tapi tetap harus dia dengarkan.
William bahkan tidak tahu jika pertanyaan sepele itu berhasil menohok hati Liora. Apakah Liora sudah seperti tidak laku saja? Sampai ayahnya tetap kekeh ingin menikahkannya dengan pria pilihannya. Kenapa harus cepat-cepat, jika untuk mencari yang terbaik? lagian Liora tidak pilih-pilih, menuntut mencari pasangan yang seperti ini, seperti itu, dia hanya ingin mencari yang terbaik, karena baginya, dia hanya ingin menikah sekali seumur hidup, dia tidak ingin sampai memilih seseorang yang salah hanya karena terburu-buru dan desakan dari orang-orang disekitarnya
"Pi…" belum selesai berucap, William segera memotong perkataan putrinya.
"Sudahlah, Papi tahu jawaban kamu, dan Papi minta malam minggu nanti kamu bersiap, Papi akan mengundang calon suami kamu ke rumah untuk makan malam keluarga," ucap William yang kemudian bangkit dari duduknya setelah mengucapkan kalimat yang Liora tidak ingin dengar, tapi sayangnya keputusan papinya itu tidak bisa diganggu gugat. Karena bahkan perkataan maminya tidak pernah didengarkan oleh papinya, apalagi apa yang Liora katakan, sudah dapat dipastikan William akan mengabaikannya.
"Jadi seperti ini rasanya?" Gumamnya menatap punggung papinya yang kini sudah menjauh.Liora menghela nafas untuk kesekian kalinya, kemudian berjalan gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya, untuk mengambil ponsel dan dompetnya, sepertinya dia butuh udara segar saat ini.
Sudah siap dengan penampilannya kini Liora pergi meninggalkan rumah dengan mobilnya. Dia ingin menenangkan diri untuk saat ini.
Liora melajukan mobilnya ke pantai yang cukup jauh dari kediamannya. Dia turun begitu sampai berjalan dengan kaki telanjang menyusuri pinggiran pantai kemudian duduk di atas pasir. Liora menghidupkan ponselnya. Entah kenapa tiba-tiba dia membuka chat nya bersama Ronald, sejak kejadian itu, Ronald sama sekali tidak menghubunginya dan Liora sangat kecewa dengan pria itu. Waktu itu, Liora memang menyuruhnya pergi, tapi dia beneran pergi? Bukankah seharusnya dia bertahan dan menjelaskan semuanya. Jika Liora tidak luluh saat itu, Ronald bisa datang keesokan harinya, lagi dan lagi, menjelaskan sampai membuat Liora luluh, bukan malah meninggalkan Liora disaat gadis itu butuh pria itu meyakinkannya. Liora ingin melupakannya, tapi semakin dia berusaha, dia justru semakin mengingat pria itu. Tanpa sengaja Liora memanggil nomor itu, tapi Liora harus kecewa saat mendengar hal yang sama seperti satu tahun yang lalu, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Liora kemudian mematikan kembali ponselnya. Wajahnya mendongak melihat langit yang begitu indah sore itu. Tidak seperti perasaannya. Matanya terpejam, merasakan angin menerpa wajahnya, telinganya mendengarkan deburan ombak yang begitu menenangkan.
Mata Liora tiba-tiba saja terbuka saat merasa ada yang tiba-tiba duduk di sebelahnya, Liora menoleh dan terkejut melihat siapa yang ada di sampingnya saat ini.
__ADS_1