
"Apa yang kamu katakan sayang? Coba ulangi lagi," ucap Jason mencoba menajamkan telinganya berharap apa yang tadi di dengarnya salah.
"Aku sama Dion dulu pernah saling suka," jawab Lily polos, ketika suaminya meminta mengulangi, dia benar-benar kembali mengulanginya bahkan dengan kata yang begitu jelas dan cukup keras.
"Apa? kalian saling suka? Kok bisa? Kenapa kamu bisa menyukainya? Apa yang membuatmu bisa menyukai pria seperti dia?" Tanya Jason dengan nada suara tinggi, tidak terima dengan pengakuan istrinya.
"Namanya suka ya, suka aja, tidak ada alasan, lagian itu cuma saling suka aja kok, aku dan Dion tidak pernah berpacaran atau apapun itu," jelas Lily yang tidak ingin suaminya salah paham.
"Benar, tidak ada hubungan apapun?" Tanya Jason menatap mata istrinya mencari kebohongan disana, dan Jason memang tidak menemukan kebohongan apapun di sorot mata istrinya.
"Hmm tidak ada, oh ya apa yang kalian bicarakan? Kenapa tadi serius sekali?" Tanya Lily penasaran, padahal Jason dan Dion belum saling mengenal, tapi Lily melihat dengan jelas keduanya berbicara dengan serius, layaknya orang yang sudah saling mengenal lama.
"Bukan apa-apa, aku hanya memperingatinya agar tidak dekat-dekat denganmu, karena apa?" Jason menarik pinggang istrinya agar lebih dekat dengannya.
Didekatkan wajahnya ke wajah Lily, "Karena kamu hanya milikku seorang, dan tidak akan aku biarkan siapapun bisa mendekati istriku," bisik Jason tepat di telinga Lily.
Wajah Lily merona malu, belakangan ini suaminya selalu berhasil membuat jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat dan Lily belum siap untuk itu. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan cinta yang begitu besar dari pria yang dicintainya yang sekarang menjadi miliknya.
"Kamu tahu, aku suka melihat wajahmu yang merona seperti ini, membuat aku ingin segera menerkammu saat ini juga," Jason kembali berbisik dan tersenyum senang menggoda istrinya yang wajahnya sudah semakin memerah.
Hingga membuat mata Lily terbelalak, mendengar ucapan suaminya yang tanpa disaring lebih dulu, dan keterkejutan Lily bertambah saat tiba-tiba ada benda kenyal mendarat tepat di bibirnya, rasanya jantung Lily akan melompat dari tempatnya.
"Kamu bikin aku..," belum selesai meneruskan ucapannya Jason sudah kembali membungkam bibir Lily dengan ciuman.
"Hmmpt," Lily mendorong dada Jason, dirinya sudah hampir kehabisan nafas akibat ciuman suaminya.
Jason terkekeh setelah melepas ciuman itu, melihat ekspresi wanita itu saat ini.
"Mandi dulu sana!" Perintah Lily yang langsung bangun dari duduknya.
__ADS_1
Tapi Jason segera menahannya. "Mandinya nanti saja sekalian, daripada sekarang mandi, nanti mandi lagi, ada hal mendesak yang harus kita lakukan dahulu," ujarnya dengan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi.." belum sempat protes, Jason sudah kembali mencium bibir Lily, ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi luma*tan. Keinginan Jason langsung terjadi juga saat itu.
*
*
*
Drt
Drt
Untuk kesekian kalinya ponsel Dahlia terus saja bergetar, tapi sepertinya seorang gadis enggan untuk menjawab panggilan telepon yang masuk. Bukan enggan lebih tepatnya, tapi berusaha keras untuk tidak menjawab, apalagi begitu dia lihat nama pemanggil.
Gadis itu merasa lega saat panggilan berakhir, tapi jantungnya kembali berdegup kencang saat panggilan itu terdengar kembali.
"Tidak Bu, tidak penting, oh ya Bu, habis mencuci ini, Lia ke kamar dulu ya," pamitnya pada sang ibu, mengambil piring bekas makan mereka berdua dan langsung mencucinya.
Seperti katanya tadi, Dahlia pun langsung menuju ke kamarnya setelah mencuci piring.
"Kenapa tidak berhenti-berhenti juga sih, bagaimana nanti kalau aku luluh dan akhirnya menjawab panggilan itu," keluh Dahlia meletakkan ponselnya yang kembali bergetar.
Hal seperti itu sudah terjadi sejak pagi, tapi saat pagi, tidak sesering saat ini, hingga membuat Dahlia begitu gusar, dirinya merasa bimbang antara menjawabnya atau tidak.
Jika terus seperti itu, Dahlia takut pertahanannya runtuh. Tapi Dahlia mengingat saran Dion, bahwa untuk membuat membuktikan Al cinta tidak padanya adalah dengan mencoba dulu untuk menghindarinya, kata Dion kebanyakan pria akan menyadari perasaannya yang sesungguhnya adalah dengan membuat sang gadis jauh dari hidupnya. Dan Dahlia akan mencoba saran Dion, walaupun sesungguhnya ada ketakutan tersendiri di dalam hatinya. Bagaimana jika Al tidak mencintainya, dan di saat dirinya menjauh Al akan dekat dengan gadis lainnya yang akan Al temui, itulah yang Dahlia pikirkan.
"Tapi tidak ada salahnya bukan jika aku mencobanya, jika kedepannya seperti itu, mungkin saja aku dan Kak Al memang tidak ditakdirkan untuk bersama," gumam Dahlia.
__ADS_1
Dahlia menarik dan menghembuskan nafas perlahan, Dahlia tidak mau usaha yang seharian ini dia lakukan akan sia-sia, jika Dahlia luluh saat ini. Dahlia menonaktifkan ponselnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari ini Dahlia akan tidur lebih awal dan bangun lagi esok hari bersiap menghadapi hari-harinya yang akan penuh dengan tantangan yang sulit, karena apa? Karena musuh terbesar adalah dirinya sendiri.
.
.
Sementara di tempat lain, seorang pria terlihat gusar, karena panggilannya yang dilakukan di tengah-tengah kesibukannya tadi pagi, tidak pernah dijawab satu kalipun oleh orang yang dihubunginya.
Begitupun setelah memarahi adiknya yang ssebenarnya tidak salah, Al mencoba kembali menghubungi nomor itu, tapi tetap saja tidak dijawab lagi. Begitu seterusnya hingga membuat Al di buat kesal sendiri.
Pukul 9 malam, "Berkunjung ke rumah orang jam segini kurasa tidak apa," gumamnya, kemudian mengambil kunci mobil dan dompet karena ponselnya sedari tadi masih ada dalam genggamannya tanpa terlepas sedetikpun.
Al berlari kecil menuruni anak tangga agar segera sampai di lantai bawah, begitu sampai dan hendak membuka pintu, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba sang Ayah berada di belakangnya.
"Kau mau kemana Al?" Tanya Alan yang melihat putranya membawa kunci mobil.
"Aku mau pergi sebentar Yah," pamit Al yang kemudian mencium punggung tangan ayahnya.
Al segera menuju mobilnya, ingin cepat-cepat memastikan alasan kenapa Dahlia tidak menjawab panggilan teleponnya.
Dengan kecepatan tinggi Al membelah jalanan ibukota, berharap kedatangannya bisa membuahkan hasil, rasanya hatinya belum lega sebelum melihat atau hanya sekedar mendengar suara gadis itu.
Selama perjalanan Al mencoba menghubungi Dahlia kembali, tapi sayang nomor ponselnya sekarang justru tidak aktif.
"Tidak terjadi apa-apa dengannya kan?" Gumam Al semakin mempercepat laju kendaraannya.
Tak lama Al sudah sampai di gang dekat rumah Dahlia, dengan buru-buru Al keluar dari mobilnya dan berjalan tergesa-gesa menuju rumah sederhana yang sudah tampak di penglihatan.
Rumah sudah tampak sepi, tapi hal itu tidak mengurungkan niat Al untuk berkunjung ke rumah gadis yang membuatnya gelisah seharian ini.
__ADS_1
Al menarik nafas dan mengetuk pintu, pertama kali tidak ada yang menyahut, hingga Al kembali memutuskan mengetuk pintu hingga berulang-ulang dan tak lama pintu pun terbuka. Al yang merasa lega langsung memeluk seseorang yang membukakan pintu untuknya.