
Dahlia menatap panik adiknya yang terus menjerit kesakitan, apalagi Alan belum juga muncul.
"Kak ayah mana?" Ucap Lily dengan suara tertahan.
"Sebentar ya, sebentar lagi, om Alan pasti sampai."
Benar saja, kini Dahlia melihat Alan yang berlari tergopoh-gopoh dengan Aulia dalam gendongannya.
Dahlia segera mengambil Aulia, membiarkan Alan mengangkat tubuh Lily.
"Lia tolong suruh sopir siapkan mobil om! Kuncinya ada di laci ruang tamu."
"Iya om," Dahlia menurunkan Aulia yang mendadak menangis, mungkin melihat ibunya yang kesakitan.
"Sebentar ya sayang."
"Ibu kenapa?"
"Ibu baik-baik saja sayang," ucap Lily lirih di tengah kesakitannya, menarik tangan putrinya mendekat. Menggenggam seraya menenangkannya.
Sementara itu, Dahlia segera berlari keluar memanggil sopir untuk mengambilkan mobil Alan.
"Cepat ya pak!" Pinta Dahlia.
Buru-buru, sopir Alan menerima kunci mobil yang diberikan oleh Dahlia tadi, berlari cepat menuju garasi yang memang letaknya ada disamping.
Dahlia tampak mondar mandir di depan rumah, bingung harus melakukan apa. Sesekali pandangan gadis itu tertuju pada sebuah mobil yang kini terparkir rapi di depan rumah Alan dan bersamaan dengan Alan yang menggendong Lily. Dahlia dengan segera membuka pintu mobil, agar Alan bisa membawa masuk Lily.
"Kamu tolong disini saja jagain Uli ya, ayah ke rumah sakit dulu," Alan berpesan sebelum akhirnya Alan meminta sopir mengantarkan dirinya ke rumah sakit.
"Sabar ya sayang, kamu harus kuat! Dan ayah yakin kamu pasti bisa melalui seperti sebelum-sebelumnya," Alan menggenggam jemari Lily yang kini meremas erat bajunya.
Lily hanya mengangguk lemah dengan nafas tersengal, kontraksinya baru saja berlalu.
"Kamu sudah mengabari Jason?" Tanya Alan tiba-tiba.
Lily yang sudah tidak merasakan sakit seperti sebelumnya, kini mencari posisi duduk yang nyaman.
"Jason sedang bertemu klien di luar ayah, dan tempatnya cukup jauh, Ale tidak mau suami Ale khawatir dan jadi ngebut pas pulangnya, gara-gara tau keadaan Ale."
"Tapi sayang…"
"Tidak apa-apa ayah, lagian belum tentu juga Ale langsung bisa melahirkan sekarang, Ale baru mengalami kontraksi tadi, mungkin saja hanya baru beberapa bukaan. Jadi biarkan suami Ale bekerja dengan tenang dulu."
Alan hanya bisa pasrah mendengar keputusan putrinya. Sebenarnya Alan kurang suka dengan keputusan Lily, tapi Alan mengerti, Jason pernah kecelakaan dan putrinya mengkhawatirkan itu.
"Baiklah," Alan hanya bisa menerima keputusan putrinya.
*
__ADS_1
*
Sepanjang meeting Jason tampak gelisah, Jason memang berada di tempat meeting, tapi tidak dengan pikirannya yang saat ini terus saja memikirkan istrinya.
Sebenarnya meeting baru saja selesai, dan kini mereka tengah makan siang bersama sambil mengobrol ringan. Jason bahkan hanya menanggapi sesekali saja, jika memang pertanyaan ditujukan untuknya.
"Saya permisi ke toilet dulu," pamit Jason.
Jason sebenarnya tidak benar-benar ke toilet tapi dia menjauh hanya untuk menelpon istrinya.
Panggilan pertama tidak terjawab, Jason kembali memanggilnya, dan dia bernafas lega saat akhirnya panggilannya terhubung. Tapi Jason mengernyit, saat mendengar suara orang di seberang telepon. Jason sangat mengenali suara istrinya.
"Halo ini siapa?"
"Halo Jason, hmm maaf ini aku Dahlia, ponsel Lily tadi ketinggalan," terangnya.
"Dahlia? Oh ya mana istriku, kenapa kamu yang menjawabnya?"
Dahlia pun menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya hingga akhirnya Lily dibawa ke rumah sakit.
"Rumah sakit ayah?"
"Iya."
"Baiklah titip Aulia ya, lalu apa Cinta sudah pulang?"
"Baiklah titip mereka berdua."
"Jason tunggu!" Dahlia mencegah Jason yang akan mengakhiri telepon mereka.
"Kamu hati-hati," pesan Dahlia.
"Hmm Iya."
Setelah itu, panggilan pun benar-benar terputus.
Jason bergegas kembali ke mejanya tadi, meminta maaf karena dirinya harus kembali lebih dulu.
Tak peduli bagaimana tanggapan mereka ke depannya, Jason segera melangkah keluar, dia bahkan melupakan sekretaris yang datang bersamanya.
Jason memanggil taxi, untung saja dia bisa langsung mendapatkannya.
Jason mengatakan tujuannya, meminta sang sopir lebih cepat mengemudi. Untung saja jalanan sudah tidak semacet saat dirinya berangkat tadi, dan berkat sang sopir yang tahu jalan pintas, waktu yang Jason tadi tempuh satu jam lebih kini hanya membutuhkan 45 menitan saja.
"Terima kasih pak, ambil saja kembaliannya," Jason buru-buru keluar dan segera masuk menuju ruangan dimana istrinya kini berada.
Dengan nafas terengah-engah Jason membuka pintu yang tertutup rapat.
"Sayang!" Lily terkejut saat melihat suaminya tiba-tiba sudah ada di hadapannya, tanpa sadar air matanya menetes.
__ADS_1
"Hei kenapa nangis?" Jason mendekat ke ranjang rawat istrinya. Menggenggam tangan Lily erat.
"Maaf karena baru datang," Jason segera memeluk Lily.
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Aku khawatir sama kamu."
Jason menghela nafasnya, kecelakaan tempo hari, sepertinya membuat Lily tidak bisa lepas dari bayang-bayang itu.
"Aku tahu kamu khawatir, aku juga khawatir sama kamu, sama anak kita. Tapi sayang, aku ingin menjadi orang pertama yang terlibat jika itu memang tentang kamu dan anak-anak kita."
"Maaf."
"Sudah sejak kapan kamu sakit seperti ini?"
"Sekitar jam sepuluh. Uh...uh…" ringisan tiba-tiba terdengar kembali, bahkan kini tangan Lily sudah mencengkram kuat-kuat tangan Jason.
Jason ikut meringis, walaupun ini adalah anak ketiganya, tetap saja saat melihat istrinya kesakitan seperti itu, Jason rasanya tidak tega, jika bisa berpindah, Jason rela menjadi pengganti, menerima rasa sakit yang kini dirasakan istrinya.
"Sayang kamu baik-baik saja?" Panik Jason dan Alan, pria itu, kini berlari keluar memanggil-manggil dokter yang akan membantu putrinya bersalin.
"Sabar sayang, sebentar lagi, ayah sedang memanggil dokter."
Tiba-tiba dokter datang, kembali memeriksa Lily. Begitu bukaannya sudah sempurna. Dokter segera membantu Lily melakukan persalinan.
***
Jason menatap penuh haru, bayi mungil yang kini ada dalam dekapannya, bayi laki-laki yang begitu tampan mirip dengannya, yang kini melengkapi sudah kebahagiaannya.
"Mau gendong?"
Lily mengangguk antusias, Jason dengan perlahan meletakkan putranya di atas pangkuan sang istri. Keduanya kini tengah menatap buah hati mereka, dengan tangan Jason yang ada dalam genggaman bayi mungilnya itu.
Alan dan Dea menatap penuh haru, Dea bahkan sampai meneteskan air mata. Alan yang menyadari hal itu segera merangkul sang istri, menenangkannya.
"Siapa namanya Nak?" Tanya Dea setelah beberapa semua tampak terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Senja Girda pratama."
"Nama yang bagus," komentar Dea.
"Selamat datang Senja cucu nenek," tambahnya lagi, mengelus lembut pipi Senja.
Lily tersenyum, mencium kening putranya, rasa sakit luar biasa yang dirasakannya, kini hilang begitu saja dengan kebahagiaan yang membuncah, setelah menggendong putranya.
"Ayah sama ibu keluar dulu, kalau ada apa-apa, segera hubungi ayah," ucap Alan mengajak istrinya keluar, memberi waktu untuk anak dan menantunya.
Lily mengangguk mengiyakan dan setelah pintu tertutup, pandangan Lily kembali tertuju pada putranya dan Jason pun tak mau kalah, dia melakukan hal yang sama seperti yang saat ini tengah istrinya lakukan, memandangi putra mereka penuh rasa haru dan bahagia.
__ADS_1