
"Kamu mau kemana lagi, malam ini spesial aku akan menemani kamu." Ucap Liora yang kini menoleh menatap Ronald yang kini duduk di kursi kemudi.
"Aku mau kamu," jawab Ronald tersenyum menancapkan gas dan mulai melajukan mobilnya.
"Dasar!"
Ronald terkekeh satu tangannya terulur ke samping mengacak rambut istrinya.
"Oh ya, bagaimana dengan yang lain?" Tanya Ronald yang baru ingat, ayah, ibu dan yang lainnya.
"Mereka sudah pulang, kamu tahu ketiga wanita yang hadir tadi sedang hamil, jadi suami mereka tidak akan membiarkan mereka kelelahan, jadi selesai makan mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Ronald mengangguk, "Aku juga berharap kamu segera seperti mereka."
Liora mengaminkan ucapan suaminya, dia juga berharap yang sama, tidak ingin menunda-nunda lagi, jika dirinya sudah diberi kepercayaan, maka Liora akan dengan senang hati menerimanya.
Ronald dan Liora saling tatap, keduanya sama-sama tersenyum, Ronald menyudahi tatapannya dan kembali fokus pada jalan di depannya. Hingga tak lama mobil Liora berbelok dan masuk ke area gedung tinggi yang tidak asing bagi keduanya.
"Apartemen kamu?"
"Hmm, aku ingin kita menghabiskan malam di sini," ujar Ronald yang tentunya membuat semburat merah muncul begitu saja di kedua pipi Liora.
"Gemas sekali rasanya aku ingin segera menerkamnya saat ini juga," ucap Ronald dalam hatinya.
Ronald mempercepat laju mobilnya, ingin segera memarkirkannya dan mengajak istrinya menghabiskan malam indah dengannya.
Begitu sampai basement dan mobil Liora sudah terparkir rapi. Dengan cepat Ronald keluar mobil dan berjalan menuju sisi satunya membukakan pintu sang istri.
"Ayo turun!" Ronald menarik Liora berjalan menuju lift dan masuk ke dalamnya.
Ting
Lift terbuka, Ronald semakin mempercepat langkahnya menuju kamarnya, bahkan Liora sedikit menyeret langkahnya, dan begitu mereka sampai di depan pintu, Ronald segera memencet beberapa angka, Ronald menarik handle dan membukanya.
Begitu masuk, langsung saja Ronald memepetkan tubuh Liora ke pintu yang sudah tertutup dan terkunci otomatis, segera menyambar bibir istrinya itu.
__ADS_1
Liora mengalungkan kedua tangannya di leher Ronald saat pria itu mengangkat tubuhnya tanpa melepas pagutan bibir mereka. Ronald semakin ganas mencumbu sambil terus berjalan menuju ke kamarnya. Direbahkannya perlahan tubuh Liora di atas ranjang. Dilepasnya satu persatu pakaian yang melekat di tubuh sang istri.
Ronald mendekatkan wajahnya, kembali mendaratkan bibirnya di kening Liora, kedua mata yang terpejam menikmati sentuhan jemari Ronald, dan terakhir ciuman itu turun ke bibir Liora. Tak ada satupun yang terlewat dari cumbuan Ronald. Pria itu beringsut, menanggalkan semua kain yang menempel di tubuhnya, sebelum akhirnya pria itu memposisikan diri di atas tubuh Liora hingga melakukan penyatuan menghabiskan malam panjang mereka.
*
*
Jason baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, dilepaskannya kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Jason kemudian meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, karena ternyata sudah cukup lama pria itu duduk dan sedari tadi fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Jason bangun, lalu memilih keluar dari ruang kerjanya, dia berjalan menuju kamar, tadi sang istri sempat tertidur saat dalam perjalanan pulang setelah makan malam untuk merayakan ulang tahun Ronald yang menurut Jason, lucunya pemilik acara justru meninggalkan mereka dan memilih untuk menghabiskan waktu berdua. Mengingat itu membuat Jason jadi kesal, tadinya dia tidak perlu datang dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan anak dan istrinya. Bahkan Jason tadi terus mengomel tidak jelas sepanjang jalan, yang akhirnya ditegur oleh sang istri, membuat Jason akhirnya bungkam, dan setelah menegurnya, Lily justru tertidur, dan begitu sampai Jason menggendong istrinya ke kamar. Kamarnya di lantai bawah, Merebahkannya perlahan dan menarik selimut sebatas dada, Jason mencium kening sang istri cukup lama, kemudian dilanjut kecupan singkat di bibir, mencium perut Lily yang mulai membuncit, sebelum akhirnya pria itu keluar menuju ruang kerjanya, menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya sempat tertunda.
Jason kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya, dibukanya perlahan pintu itu, hingga bisa dia lihat wanita yang begitu dia cintai kini tengah berbaring di atas ranjang. Jason mendekat, duduk di lantai menatap wajah istrinya yang menurut Jason selalu cantik walau dalam keadaan tidur sekalipun.
"Sayang kenapa?" Tanya Jason yang melihat tidur istrinya tampak gelisah.
Tak lama Lily membuka mata, dia tiba-tiba memeluk suaminya yang kini berdiri menunduk menatapnya.
"Kamu kenapa hmm?" Tanya Jason lagi, Lily mengurai pelukan dan menatap suaminya.
Jason hanya terkekeh padahal sebelum tidur, istrinya sudah makan cukup banyak dan baru beberapa jam, istrinya sudah merasa lapar lagi, ini persis dirinya suatu Lily sedang mengandung Cinta.
"Baiklah, ayo!"
Jason membantu istrinya bangun. Mengulurkan tangan agar mereka jalan bersama. Tapi cukup lama Jason menunggu, Lily tidak kunjung membalas uluran tangannya, wajah sang istri kini justru memberengut membuat Jason mengernyit.
"Kenapa?" Tanya Jason akhirnya.
"Gendong!" Ucap Lily manja.
Jason membungkuk memberikan punggungnya, agar Lily bisa naik.
"Aku mau gendong di depan."
Jason berbalik bersiap menggendong Lily ala bridal, tapi lagi-lagi Lily menggeleng, menyuruh Jason mendekat kemudian mengalungkan kedua tangan di leher pria itu, sedang kedua kakinya kini melingkar di pinggang suaminya.
__ADS_1
"Manjanya istriku," ucap Jason yang gemas hingga mengecup sekilas bibir istrinya sebelum akhirnya berjalan keluar kamar.
Jason menurunkan Lily di atas meja makan, kemudian menarik kursi dan memindahkan sang istri agar duduk di kursi itu.
"Kamu mau makan apa?"
"Hmm apa ya?" Lily tampak berpikir cukup lama dan Jason dengan sabar menunggunya.
"Aku mau nasi goreng, pakai telur ceplok setengah matang."
"Oke, kamu tunggu disini!" Jason kemudian melangkah pergi meninggalkan istrinya.
"Sayang!" Teriak Lily yang masih bisa di dengar Jason karena dapur dan ruang makan memang satu ruangan. Lily bahkan masih bisa melihat jika suaminya kini sedang mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkannya.
"Kenapa?" Jason menatap sang istri yang tengah memperhatikannya.
"Terima kasih," ucapnya tersenyum.
Jason tentu saja membalas senyuman istrinya itu dan mengangguk, dia sama sekali tidak masalah jika harus masak tengah malam demi anak dan istrinya, asalkan mereka senang saja. Dan sebenarnya Lily tidak perlu berterima kasih karena apapun akan Jason lakukan demi orang-orang yang dicintainya.
Jason kembali sibuk membuatkan makanan untuk sang istri, sementara Lily memilih terus memandangi suaminya, entah kenapa tatapannya tidak ingin berpaling sedikitpun dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Melamunkan apa? Jangan melamun apalagi tengah malam begini sayang," tegur Jason yang kini sudah duduk di samping Lily entah sejak kapan, Lily bahkan tidak menyadarinya, dirinya terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga bahkan kini dua piring nasi goreng sudah tersaji di atas meja.
"Kamu juga mau makan?" Tanya Lily menoleh, melihat ke arah Jason apalagi saat di depannya ada dua piring makanan.
"Hmm, memang ibu dan adik doang yang lapar, ayah juga lapar," jawab Jason.
Lily langsung mengambil sendok dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Hmm enak sekali!" Ucap Lily di tengah makannya, yang kini menyuap sendok demi sendok.
"Ayo makan, katanya kamu lapar!" Kata Lily membuyarkan Jason yang kini bergantian melamun.
"Hmm iya," jawab Jason lalu keduanya pun akhirnya, menikmati makan tengah malam mereka.
__ADS_1