Please Love Me

Please Love Me
Bab 222


__ADS_3

Jack mengusap bibir Liora yang belepotan dengan ibu jarinya.


Liora buru-buru bangkit dari duduknya, mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya di depan wajah saat tiba-tiba rasa panas menjalar hampir ke seluruh tubuhnya.


"Jack tolong kamu bereskan, aku mau tidur, rasanya aku tiba-tiba mengantuk sekali," Liora berjalan menjauh dengan pandangan ke arah Jack.


Brak


"Eh!" Jack spontan mengulurkan tangannya, seakan hendak menangkap Liora, saat dirinya melihat Liora menabrak kursi rotan yang memang ada di pinggiran kolam, membuat gadis itu terjatuh.


"Jangan mendekat!" Teriak Liora saat Jack akan mendekat ke arahnya, untuk membantu Liora bangun.


"Stop Jack!" Teriak Liora lagi karena sepertinya Jack tidak mendengar apa yang diucapkannya.


"Tapi Liora…"


"Aku bisa sendiri," Liora segera bangun menahan sakit pada lututnya yang terbentur.


"Aku tidur dulu, selamat malam," ucap Liora yang kemudian segera berlari menjauh.


"Hahaha!" Tawa Jack pecah juga, sebenarnya kasihan tapi entah kenapa melihat Liora tadi bagi Jack begitu lucu.


Setelah melihat Liora benar-benar sudah hilang dari pandangan, Jack pun membereskan bekas bungkus cemilan yang tadi dimakan Liora sambil terus tersenyum mengingat kejadian tadi.


Setelah selesai membereskan, Jack pun menuju ke kamar tamu, dirinya malam ini memutuskan menginap atas perintah William karena mereka baru saja pulang dari luar kota. Tapi Jack yang hendak ke dapur melihat Liora yang berjalan ke arah kolam dengan membawa beberapa cemilan dan minuman, Jack membuka kulkas, mengambil dua minuman kaleng, dan membawanya menyusul Liora.


Sementara itu, Liora segera masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Dirinya merasa malu karena berpikir Jack tadi akan…


Getar ponsel Liora terdengar, buru-buru Liora mengambilnya, berharap jika itu dari Lily. Dan senyum langsung mengembang di bibirnya, saat dirinya melihat nama si pengirim pesan, bahwa ternyata benar-benar Lily orangnya.


"Baiklah," seperti itu bunyi kalimat yang Liora ketik untuk membalas pesan Lily yang mengajaknya untuk bertemu besok. Liora tidak sabar mendengar penjelasan Lily, kenapa wanita itu bisa mengirimkan dirinya foto Ronald, penasaran apa mereka bertemu.


Liora berjalan ke arah ranjang, dan langsung merebahkan diri disana. Memejamkan mata dan akhirnya Liora pun tertidur.

__ADS_1


*


*


"Kamu beneran tidak mau aku antar sayang?" Tanya Jason pada Lily yang sedang memasangkan dasinya.


"Iya, aku diantar sopir saja, kan kamu bilang jika ada rapat pagi ini, aku sudah menculik satu karyawanmu dan jika sampai aku juga menculikmu bagaimana nanti?" 


Jason mengacak rambut Lily, "Dasar kau ini."


Lily berjinjit dan mengecup bibir suaminya. "Sudah ayo kita sarapan!" Lily menggamit lengan suaminya, dan keduanya kini berjalan menuju ruang makan.


"Nanti habis bertemu Liora kamu langsung ke kantor saja sayang, aku tidak mau kamu nanti merasa kesepian di rumah seorang diri, atau kalau tidak kau tetap disana sama Nyonya, nanti biar aku jemput pulangnya" kata Jason setelah keduanya kini sudah duduk di ruang makan.


"Hmm baiklah," jawab Lily dan keduanya pun mulai menyantap makanannya. Selesai makan, Lily pun mengantarkan suaminya ke depan, dan setelah mobil suaminya menghilang, Lily bergegas masuk ke dalam mobil.


"Jalan Pak!" Perintah Lily pada sopirnya dan mobil pun segera melaju meninggalkan pelataran rumah, menuju ke kediaman William, karena Lily janjian sama Liora untuk bertemu disana, sebenarnya mereka ingin bertemu di luar agar bisa leluasa mengobrol, tapi suaminya tidak mengizinkan, hingga Lily pun akhirnya menyetujuinya.


Tak lama mobil yang membawa Lily kini sudah melewati gerbang yang tinggi, dimana pengawal langsung membukakan pintu untuknya.


"Baiklah Nyonya ka…"


"Pak sudah bilang panggil saya Lily saja," kata Lily yang tidak suka dirinya dipanggil Nyonya.


"Baiklah, Nyo...eh maksud saya Lily," ucap sang sopir yang mendapat tatapan tajam dari Lily begitu akan kembali memanggil dirinya Nyonya.


"Nah begitu kan enak di dengar, ya sudah Bapak boleh kembali, saya mau masuk dulu." Kata Lily, dia pun kemudian memencet bel masuk ke dalam setelah pelayan membukakan pintu untuknya.


"Saya mau bertemu Liora Bi," ucap Lily yang kini melangkah mengikuti pelayan yang tadi membukakan pintu untuknya.


"Silahkan duduk Nona, saya panggilkan Nona Liora dulu," pelayan mempersilahkan Lily duduk dan kemudian bergegas naik ke lantai atas menuju ke kamar Liora, memberitahukan bahwa ada orang yang mencarinya.


Lily mengedarkan pandangan, dimana kediaman itu sangat sepi, seperti tidak ada yang berada di rumah. Tak lama terdengar suara seseorang menuruni anak tangga, mendekat dan duduk di samping Lily.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Liora mengambil bantal sofa dan meletakkan di atas pahanya.


"Tidak apa-apa, hanya saja tumben sekali rumah terasa sepi," jawab Lily masih terus menatap ke sekeliling.


"Oh itu, Kak Vano sama Kak Olive pergi ke rumah Ayah Alex, terus Mami ke rumah Kak Flo," jawab Liora menegakkan tubuh mengubah posisi duduknya menghadap Lily.


Liora meraih tangan Lily dan menggenggamnya, "Sekarang kamu katakan padaku, kenapa kamu bisa memiliki foto Ronald? Kalian tidak sengaja bertemu? Dia...dia seperti apa? Mmm maksudku bagaimana dengannya? Apa dia baik-baik saja?" Rentetan pertanyaan langsung diajukan oleh gadis itu.


"Tanyanya satu-satu kenapa? Kan aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu," Lily melepaskan tangan Liora melipat kedua tangannya di depan dada, menyandarkan punggungnya di sofa.


"Jadi kemarin malam aku bertemu sama Ro…" Lily mengernyit saat Liora langsung menyenggol kakinya.


Lily melihat kemana arah pandang Liora dan dia sedikit mengerti kenapa Liora berniat menghentikan ucapannya. Lily melihat pelayan datang membawakan dua gelas minuman dan meletakkannya di atas meja, mempersilahkan Lily untuk meminumnya.


"Terima kasih," ucap Lily dan pelayan itu pun berpamitan untuk pergi.


Mata Liora terus memandang pelayan itu sampai benar-benar hilang dari pandangan.


"Kenapa?"


Liora memegang dadanya melirik tajam, "Ish kau ini, mengagetkan saja," kesalnya saat Lily tiba berbicara cukup keras di dekat telinganya.


"Hehe maaf habisnya Kak Liora malah diam saja, atau jangan ada yang Kak Liora sembunyikan makanya kenapa Kak Liora langsung memberiku kode di saat ada pelayan, agar aku tidak membicarakan tentang Ro…"


Liora langsung menutup mulut Lily dengan telapak tangannya, "Jangan sebut nama itu disini," bisiknya tepat di telinga Lily.


"Kenapa memangnya?"


Kepala Liora menunduk, wajahnya pun langsung berubah sendu, tapi tak lama dia menatap Lily.


"Akan aku ceritakan, tapi tidak disini," Liora bangkit dari duduknya, meraih tangan Lily dan mengajaknya ke kamarnya.


Lily yang bingung saat Liora mengajaknya pergi, hanya bisa menurut, apalagi melihat wajah sedih Liora yang membuat Lily tidak tega jika tidak menuruti gadis itu, dan dengan perlahan Lily pun menaiki anak tangga mengikuti langkah kaki Liora menuju ke kamar gadis itu.

__ADS_1


Sesampai di kamar Liora, Liora buru-buru menutup pintu kamar dan menguncinya. Mengajak Lily untuk duduk di atas ranjangnya, Liora mendekatkan wajahnya ke Lily, kemudian membisikkan sesuatu pada Lily, yang membuat Lily langsung tersenyum. 


__ADS_2