
Semua orang kini telah hadir memenuhi undangan Alan untuk syukuran kelahiran cucu ketiganya. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan saat melihat senyum lebar orang-orang yang dicintainya, mewakili anak dan menantunya, Alan mengucapkan banyak terima kasih pada tamu yang hadir, dari keluarga Stevano, Max juga Ronald, tak ketinggalan pula, William dan Tiffa istrinya juga hadir untuk memenuhi undangan dari dokter Alan.
"Silahkan dinikmati makanannya," ucap Alan, sebelum akhirnya pria itu bergabung dengan para tamu.
Para wanita asyik berbincang membicarakan pengalaman mereka masing-masing, sementara para pria lebih terdengar serius obrolannya karena pembahasan masalah kerjaan.
"Mau nambah lagi Ly?" Tanya Jasmine menyenggol badan sahabatnya.
"Nambah apa? Hmm tidak deh sudah kenyang," jawab Lily dengan pertanyaan ambigu yang diajukan Jasmine.
"Yah pura-pura tidak tahu tuh kak," sahut Liora.
"Ya memang tidak tahu, memangnya apa yang kamu maksud Mine?"
"Maksud kak Jasmine anak, kamu rencananya mau nambah lagi gak?" Bunga ikut menimpali.
"Hmm bagaimana ya, lihat nanti aja deh," jawab Lily yang memang tidak tahu bagaimana nanti kedepannya.
"Sudah-sudah, jangan membahas hal seperti itu, kalian tidak lihat, disini ada Dahlia," potong Tiffa yang melihat Dahlia sedari tadi diam dan menunduk, mungkin tidak tahu, apa yang sedang mereka bahas.
"Jangan sampai pikiran kamu tercemar oleh anak-anak mami sayang," kata Tiffa yang segera diangguki oleh Dahlia.
"Tuh Bi, yang mulai dulu kan Jasmine…"
"Dasar tukang ngadu," potong Jasmine dengan bibir yang maju beberapa senti.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat para wanita tertawa, apalagi melihat ekspresi wajah Jasmine saat ini.
*
*
Jason dan Al kini tengah membantu ibunya beres-beres. Lily berpamitan mau menidurkan putranya lebih dulu, yang tentunya disetujui ketiganya.
"Istirahat sekalian saja sayang, tidak perlu kemari lagi. Biar kami yang membereskan semuanya.
"Hmm ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya, segera menyusul jika sudah selesai."
"Hmm tentu saja."
"Sudah sana, biar aku saja yang lanjutkan," Al merebut pekerjaan yang tengah adik ipar nya lakukan dan meminta Jason segera masuk saja ke kamarnya.
"Serius? Ini masih banyak loh Al?"
"Hmm sudah, sana pergi saja!" Ucap Al dengan tangan yang mengisyaratkan agar Jason segera pergi dari tempat itu.
"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu."
"Hmm."
"Bu, aku ke kamar ya, Al yang akan melakukan sisanya."
__ADS_1
"Hmm baiklah."
Jason segera melangkah menuju kamarnya, di dalam, istrinya tengah mengganti popok putra mereka.
Jason mendekat, melingkarkan tangannya di perut sang istri.
Tanpa berbalik, Lily tahu siapa yang memeluknya saat ini, dari parfum yang menyeruak menyapa indera penciumannya.
"Memangnya sudah selesai?" Lily berbalik saat dirinya telah selesai melakukan kegiatannya.
"Hmm, kak Al yang akan melanjutkan."
Lily kemudian menarik tangan Jason dan mengajaknya berbaring. Jason hanya menurut sama sekali tidak menolak, karena jujur saat ini, dirinya memang begitu lelah.
Jason dan Lily pun tidur dengan saling berhadapan, tangan Jason terulur menyentuh wajah sang istri dengan penuh kelembutan.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang tiada tara. Ketiga anak yang lucu juga kamu yang selalu menemaniku, dan aku berharap kita akan bersama hingga maut memisahkan kita. Tiada kata yang bisa aku umpamakan untuk mengukur kebahagiaan yang aku dapatkan ketika aku hidup bersamamu, aku tidak tahu, apa yang terjadi jika itu bukan kamu, aku mencintaimu Lily, aku sangat mencintaimu, Aleandra Licya, ibu dari anak-anakku," ucap Jason yang kini mendekap tubuh sang istri.
"Aku tidak perlu rasa terima kasih darimu sayang, aku hanya ingin kamu selalu bersamamu, cinta adalah saling memberi dan menerima, menyempurnakan satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kita benar-benar berakhir. Aku bahagia karena kamu membalas perasaan cintaku, hingga kini aku bisa berdampingan denganmu dan memiliki ketiga anak yang begitu lucu, anak-anak yang kini akan semakin melengkapi kebahagiaan kita," Lily mendongak, menatap wajah suaminya, tangannya terulur menyentuh setiap bagian wajah Jason tanpa terkecuali. Sedang Jason langsung menangkap jari-jari Lily kemudian mengecupnya cukup lama. Perlahan wajah mereka mendekat, bibir keduanya saling berpagut mesra hingga tiba-tiba senja menangis, memaksa keduanya menjauhkan wajah masing-masing.
Lily dan Jason saling pandang, kemudian sama-sama tertawa.
END
Terima kasih untuk semua pembaca setia Lily dan Jason, juga pembaca dari kisah Stevano juga Jasmine. Terima kasih untuk dukungan kalian semua🤗. Mohon maaf 🙏🙏 jika masih banyak kesalahan. Terus bersama 1pm untuk karya-karya selanjutnya dan jangan pernah bosan ya🤭😘
__ADS_1