
"Kak Lia!" Lily langsung memeluk Kakaknya begitu masuk ke dalam ruang rawat Dahlia.
"Jangan terlalu erat, Kakak tidak bisa nafas," protes Dahlia yang dipeluk adiknya cukup erat.
"Eh maaf Kak, habisnya aku kangen banget sama Kakak," jawab Lily melepaskan pelukannya.
"Baru aja ketemu kemarin," Dahlia memutar bola matanya malas.
"Oh ya Kak, Ibu kemana?" Tanya Lily sembari memindai seluruh ruangan.
"Ibu sedang keluar, baru saja tadi pergi, beli makanan sepertinya," jawab Dahlia yang kini membenarkan posisinya agar lebih nyaman.
"Oh ya, kamu kesini sama siapa? Suami kamu?" Tanya Dahlia pada adiknya yang mengambil jeruk yang tadi dibawanya, lalu mengupasnya.
"Tidak, Suamiku tadi berangkat pagi-pagi sekali, karena ada pertemuan penting sebelum Tuan Stevano pergi," jawab Lily mengatakan seperti yang tadi suaminya katakan.
"Terus kamu sama siapa Ayahmu? Tapi rasanya tidak mungkin, soalnya tadi pagi-pagi sekali sewaktu aku jalan-jalan di taman bersama Ibu, aku melihat dr Alan, Dahlia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.
"Kok kamu diam saja, kan Kakak bertanya," Dahlia menatap Lily kesal karena merasa adiknya tidak menjawab pertanyaannya tadi.
"Lah kan kakak secara tidak langsung sudah menjawab pertanyaan Kakak sendiri," jawab Lily memasukkan buah jeruk ke dalam mulutnya.
"Ih Lily, kamu niat mau mengupaskan buat Kakak gak sih, kenapa malah dimakan sendiri buah jeruknya," kata Dahlia cemberut.
"Haha maaf Kak, aku lupa, ini deh buat Kakak!" Lily menyerahkan sisa buah yang tadi dikupasnya, yang hanya tinggal beberapa saja.
"Tidak mau, Kakak mau dikupaskan lagi, lagian segitu mana cukup buat Kakak," Dahlia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Manja banget sih, Kakak siapa ini?" Kata Lily yang seakan berucap seperti pada anak kecil.
Bibir Dahlia semakin maju beberapa senti.
"Hahaha, lihat tuh bibir Kakak lucu, kaya ikan," Lily tertawa sambil menunjuk-nunjuk bibir Dahlia yang sengaja dimanyun-manyunkan.
"Seru banget ngobrolnya," kata seseorang yang baru saja masuk.
__ADS_1
Dahlia dan Lily tersenyum begitu melihat siapa yang datang.
Lily langsung mendekat dan menghampiri wanita itu, kemudian memeluknya.
Dahlia tersenyum mendapati pemandangan yang menurutnya indah ini, kapan lagi mereka bisa terlihat seperti itu, intinya Dahlia bahagia, ketika melihat kedua orang yang disayanginya itu tampak akur.
"Ibu, Ibu dari mana saja? Tuh aku tadi pagi, bikinin masakan kesukaan Ibu," Lily menunjuk pada totebag diatas meja yang tadi dibawanya.
"Ibu hanya beli ini, wah kebetulan banget Ibu lapar, tadi Ibu belum jadi beli makanan, tidak tahu kenapa tiba-tiba saja tidak ingin apapun, hmm mungkin karena Ibu merasa kamu akan bawakan Ibu makanan," Vega melepas pelukan dan menatap putrinya.
"Ibu bisa saja, ya sudah, ayo sekarang lebih baik Ibu makan," kata Lily menuntun Ibunya agar duduk di sofa, sementara dirinya menuju ke arah meja, mengambil makanannya.
"Oh ya, aku belum selesai mengupas buahnya," kata Lily saat masih melihat kulit buah yang belum terkelupas semuanya, karena terlalu bahagia, Lily sampai lupa dan begitu saja langsung berhambur memeluk Ibunya.
"Biar Kakak aja sini yang ngelanjutin," Dahlia meminta buah yang tadi ada di tangan Lily, membiarkan Lily agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ibunya.
"Baiklah, aku tinggal kesana dulu ya," pamit Lily dan dijawab anggukan oleh Dahlia.
"Ini Bu, Ibu pasti kangen kan masakan aku," ucap Lily penuh percaya diri, kemudian mengambil tempat makan yang ada di dalam totebag, dan membukanya, kemudian menyusunnya di atas meja.
"Ibu makan yang banyak," kata Lily tersenyum menatap Ibunya yang kini mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kamu tidak makan?" Tanya Vega yang melihat Lily hanya memandangnya.
"Tidak, aku sudah kenyang Bu, tadi sebelum kesini aku sudah makan bersama Suamiku, Kakak dan Ayah," kata Lily dengan senyum yang tidak pudar dari sudut bibirnya.
"Oh ya, Ibu sudah pernah melihat suamiku, tapi Ibu belum mengenalnya kan? Hmm nanti jika dia tidak sibuk, aku pasti akan mengenalkannya ke Ibu ya, tapi nanti Ibu jangan heran ya, suamiku itu pria dingin, dia tidak pernah tersenyum dan mukanya selalu tampak murung, kayak kanebo kering, hehehe," ujar Lily sambil tertawa mengingat suaminya.
Vega hanya tersenyum, "Apa kamu bahagia menikah dengannya?" Tanya Vega menatap wajah putrinya yang sama sekali tidak mirip dengan suaminya, kenapa Vega tidak menyadari hal itu sedari dulu, jika Vega sadar lebih awal, mungkin dirinya tidak akan terlalu membenci putrinya yang selalu menyayanginya, dan rela melakukan apapun agar bisa diterimanya, tapi Vega seperti buta akan semua itu, rasa sakit, kecewa dan luka yang selama ini dia simpan sendiri dia lampiaskan pada Lily yang tidak bersalah, dan hanya korban yang terlibat karena kehadirannya yang tidak tepat.
Tanpa sadar air mata Vega menetes begitu saja.
"Ibu, kenapa Ibu menangis?" Lily dengan cepat menghapus air mata Vega dengan jarinya.
"Ibu aku bahagia, sangat bahagia dengan pernikahanku, walaupun suamiku pria dingin, itu hanya di luaran saja Bu, aslinya dia sangat baik dan sangat menyayangiku, jadi Ibu tidak perlu khawatir," tambah Lily meyakinkan Ibunya.
__ADS_1
"Ibu bahagia, jika kamu bahagia Nak," Vega menatap Lily teduh, dan baru kali ini Lily melihat tatapan seperti itu dari Ibunya.
Lily tersenyum kemudian memeluk Ibunya dari samping.
Rasanya seperti mimpi, itulah yang Lily rasakan saat ini, dan jika ini mimpi, Lily berharap mimpi ini tidak akan berakhir.
Drt
Drt
Ponsel Lily bergetar cukup lama, menandakan bahwa ada panggilan yang masuk.
"Ibu lanjutkan makannya ya, Suamiku menelpon, aku jawab dulu" kata Lily sebelum akhirnya dirinya berpamitan untuk menjawab panggilan teleponnya.
"Iya sayang," ucap Lily begitu panggilan terhubung.
"Sekarang?" Tanya Lily memastikan.
"Tapi…."
"Ya sudah, aku tunggu," jawab Lily kemudian menatap nanar layar ponsel yang kini sudah berganti foto dirinya dan suaminya.
"Kenapa?" Tanya Dahlia yang juga mewakili pertanyaan Ibunya.
"Bu, Kak, maaf ya sepertinya aku harus pulang, tadi suamiku bilang jika dia akan pergi ke luar kota, karena ada pekerjaan yang mendesak yang mengharuskannya terjun langsung ke lokasi, aku harus mempersiapkan apa yang akan dibawanya," kata Lily merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, ada Ibu yang menjaga Kakakmu, oh ya bagaimana kamu pulang?" Tanya Vega yang kini sudah berdiri di depan Lily.
"Suamiku akan menjemput Bu, tapi sepertinya tidak bisa kesini, maaf ya Bu, mungkin perkenalannya lain kali, Lily janji akan memperkenalkan dia dengan Ibu, hmm Ibu tidak usa mengantarku, Ibu disini saja jagain Kak Lia," kata Lily pada Ibunya dan sekarang dirinya mendekat ke arah Kakaknya.
"Aku pulang dulu ya Kak, maaf," kata Lily benar-benar merasa tidak enak.
Dahlia tersenyum, "Kamu sudah menikah dan jadi seorang Istri, suamimu lebih penting, lagian Kakak tidak sendiri, masih ada Ibu," kata Dahlia menenangkan adiknya.
Lily mengangguk, mengambil tasnya, dan kemudian berlalu keluar dari ruangan setelah berpamitan kepada Kakak dan Ibunya.
__ADS_1