
"Sayang kenapa diam?" Liliana memegang kedua lengan Lily dari samping, saat sahabat putrinya itu menghentikan langkahnya dan menatap bingung apa yang terjadi di depannya.
Jasmine meraih tangan Lily, "Semoga kamu bahagia Lily, hanya itu yang aku harapkan, ayo sekarang datanglah kesana, pria itu, pria yang sangat kamu cintai sekarang sudah menjadi suamimu," kata Jasmine dengan senyum yang tulus.
Lily menatap sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca, dia bingung kenapa sekarang Jason yang menjadi suaminya? Dimana Kak Al?" Lily menatap ke sekeliling dan tidak sulit untuk itu, karena pernikahan mereka hanya dihadiri oleh orang terdekat saja.
Alan berdiri melihat gadis yang dianggap putrinya itu, tidak tapi gadis yang ternyata benar-benar putrinya, berjalan dengan cepat dan menghampirinya, tanpa banyak kata Alan langsung memeluk Lily.
"Maafkan Ayah Ale, maafkan Ayah.." entah sejak kapan kini wajah Alan terlihat dibanjiri oleh air mata.
Lily semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi tatapannya bertemu dengan mata Jason dan tampak jika Jason kini tersenyum padanya.
"Bukankah pria itu akan menikah dengan Liora, kenapa dia malah disini? Bahkan dialah pengantin prianya? Dia Suamiku?" Air mata yang sedari tadi ditahan kini menetes begitu saja tanpa diminta.
Tak lama Lily membalas pelukan Alan, pelukan yang hangat dan nyaman untuknya, tanpa sengaja pandangannya bertemu sang Kakak yang juga menangis, Lily benar-benar sangat bingung melihat situasi ini, karena semua orang tampak meneteskan air matanya, entah karena kasihan atau sedih melihat bahwa pengantin pria ternyata diganti oleh orang lain.
Alan yang sudah bisa mengontrol perasaannya, kini melepaskan pelukan itu, ditatapnya wajah sang putri yang belasan tahun tidak hidup bersamanya, dihapusnya air mata yang terus membasahi wajah cantiknya.
"Nanti akan Ayah jelaskan, sekarang ayo temui Suamimu dulu!" Alan menggantikan Liana menuntun sang putri menuju tempat dimana pria yang berstatus suaminya kini berada.
__ADS_1
Lily menahan tangan Alan, "Tapi Yah, bagaimana dengan Kak Al? Kenapa Kak Al tidak ada disini? Kemana Kak Al? Apa Kak Al marah?" Tanya Lily beruntun karena tidak adanya sosok pengantin pria yang sesungguhnya di tempat itu.
"Kamu tidak perlu khawatir sayang, Kakakmu Al pasti baik-baik saja, Ayah yakin itu," ucap Alan yang kemudian membawa Lily untuk menghampiri Jason, pria yang sudah menjadi suami putrinya.
"Tunggu ini sebenarnya ada apa? Kenapa bisa Jason yang menikah denganku? Kemana Kak Al, dan tadi kalau aku tidak salah mendengar, Ayah memanggilku Ale dan Kakakmu, apa maksudnya itu, aku ingin tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi, tolong jelaskan maksud Ayah sekarang!" Pinta Lily yang tidak bisa menunda-nunda lagi akan rasa penasarannya, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang yang begitu membingungkannya untuknya bahkan hal itu sangat terlihat jelas di wajah cantiknya nya saat dirinya menatap semua orang yang ada di sana meminta penjelasan.
Tanpa menjawab pertanyaan putrinya, Alan mengajak putrinya untuk ke tempat pria yang sudah menjadi suaminya itu dan berbisik, "Nanti Ayah akan jelaskan, lihatlah masih ada beberapa tamu disini," ucap Alan.
Lily kemudian menatap pada beberapa orang yang memang tidak dikenalnya bahkan Lily belum pernah melihatnya, Lily juga tidak tahu mereka siapa.
Lily menoleh dan menatap Alan yang tersenyum dan mengangguk, kemudian Alan dan Lily pun melangkahkan kakinya kembali, Alan membantu putrinya untuk duduk di samping Jason, Jason sedari tadi menatap gadisnya yang terlihat sangat cantik dari biasanya, bahkan senyumannya yang menghiasi wajahnya pun tidak pernah luntur. Dia sangat bahagia, akhirnya dia bisa memiliki orang yang begitu sangat dicintainya.
Lily kemudian mencium punggung tangan Jason dan Jason pun mencium kening Lily dengan penuh kelembutan.
Setelah melanjutkan serangkaian acara, tamu yang baru diketahui Lily teman Ayah Al itu pun berpamitan pulang, begitu juga dengan Stevano dan Jasmine, Stevano tidak tega melihat istrinya dengan kehamilannya yang sudah besar karena usianya yang sudah menginjak umur tujuh bulan tapi sudah seperti usia sembilan bulan sebab anak mereka kembar.
Liliana dan Alex pun juga ikut berpamitan pulang.
"Apa Kakak juga akan pulang sekarang?" Tanya Lily pada Kakaknya yang tidak tahu kenapa malah sekarang meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Tidak, Kakak akan disini sebentar lagi, selamat ya, semoga setelah ini hanya kebahagian yang selalu menyertaimu," kata Dahlia langsung memeluk adiknya, tidak Lily bukan adik kandungnya, Lily hanya seorang anak dari sahabat perempuan Ayahnya, mereka bukan dari Ayah yang sama, mengingat itu Dahlia sedih, itulah penyebab dia menangis saat ini.
"Kakak.." air mata kembali membasahi pipinya, Lily pun membalas pelukan Kakaknya tidak kalah erat. Lily tahu Kakaknya menyayanginya terbukti jika Ibunya memarahi dan menyalahkannya, Kakaknya akan selalu membelanya.
Jason dan Alan memandang keduanya, Alan mendekat, Dahlia yang melihat itu melepaskan pelukannya dengan sang adik.
"Terima kasih Nak, sudah menyayangi Ale dengan tulus dan menganggapnya seperti adikmu sendiri, sampaikan juga terima kasihku pada Ibumu karena telah membesarkannya dengan baik, sampaikan juga maaf Paman karena belum bisa menemuinya, ada beberapa hal yang harus Paman selesaikan terlebih dahulu, nanti paman pasti akan ke rumah kalian untuk mengucapkan hal itu secara langsung pada Ibumu," Alan kemudian memeluk Dahlia, dia sangat berterima kasih kepadanya dan juga Ibunya karena selama ini telah merawat putri kandungnya itu, Alan tidak tahu saja jika Lily selama ini tidak dianggap sama sekali oleh Vega Ibu Kandung Dahlia, karena Vega menganggap Lily anak dari wanita lain bersama Suaminya. Dahlia kembali menangis betapa malunya dia jika Alan sampai tahu yang sebenarnya tapi bagaimanapun Dahlia harus jujur, dia harus mengatakan semuanya jujur pada Alan.
"Maaf Paman sebenarnya selama ini.."
"Ayah sebenarnya ada apa ini, tolong jelaskan sekarang! Aku benar-benar tidak mengerti maksud kalian," ucap Lily memotong perkataan Kakaknya.
Lily kemudian menatap Jason, "Aku juga butuh penjelasan darimu, kenapa bisa kamu yang menikah denganku?" Tanya Lily pada Suaminya itu.
Jason menghembuskan nafas perlahan, "Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu tidak sedikitpun bahagia jika aku menjadi mempelai prianya, padahal aku sangat bersyukur karena Tuhan telah menakdirkan kita untuk bersama dan aku berharap bisa bersamamu selamanya," Jason menatap Lily dengan pandangan sendu. Dari pertanyaan Lily tadi, Jason merasa jika Lily keberatan dirinya yang menikah dengan gadis itu.
"Bukan…bukan maksudku seperti itu," jawab Lily sedikit tergagap.
"Kita bicarakan semua sambil duduk," Alan menepuk bahu Jason kemudian berlalu lebih dulu menuju sofa ruang keluarga.
__ADS_1
Jason pun segera menyusul pria yang sudah menjadi mertuanya, diikuti dengan Dahlia dan Lily.
Dahlia berjalan sambil menggenggam tangan adiknya, "Jangan khawatir semua akan baik-baik saja," ucapnya untuk menenangkan perasaan campur aduk yang mungkin saja dirasakan adiknya saat ini, antara senang, sedih, bingung dan merasa bersalah karena pertanyaan terakhir yang diucapkan pada suaminya.