Please Love Me

Please Love Me
Part 90


__ADS_3

"Aku sangat ingin, tapi…" Lily menunduk saat ingat jika lusa dirinya juga harus kembali bekerja.


"Tapi kenapa hmm?" Tanya Jason menoleh dan melihat istrinya yang tampak murung.


"Aku kan tadi sudah katakan, lusa aku harus bekerja, tidak enak bukan jika aku meminta cuti lagi, sementara aku sudah mengambil cuti cukup lama, apalagi adalah pegawai baru, nanti apa kata-kata yang lain. Lagian aku juga tidak yakin akan mendapatkan izin langsung dari atasan," jawab Lily terlihat sedih mengingat dia sepertinya tidak bisa pergi.


"Kenapa pesimis gitu, belum juga bilang minta izin lagi, tapi sudah tidak yakin akan diberi izin,"


Lily mencebikkan bibirnya kesal, suaminya ini sebenarnya tahu tidak sih tentang aturan sebuah tempat kerja, mana ada atasan yang akan memberikan izin dengan mudah, apalagi jika sebelumnya sudah pernah meminta izin.


"Ya pasti bakal diizinin untuk libur lagi, tapi pasti nantinya di suruh libur selamanya," gerutu Lily.


"Haha," Jason tergelak mendengar gerutuan istrinya itu.


"Terus kamu mau libur selamanya gitu, kan enak tuh dirumah saja tidak perlu capek-capek bekerja," Jason mengulum senyum menatap sang istri ingin tahu jawaban apa yang nanti akan diberikannya.


"Ya dirumah saja, nanti mau makan apa? Makan batu?" Ketus Lily.


Lagi-lagi tawa Jason pecah, istrinya ini memang tidak berubah, mungkin karena hal inilah yang membuat dirinya jatuh cinta, sifatnya yang berbanding terbalik dengannya, yang membuat hidupnya jadi sempurna karena bisa saling melengkapi.


"Kenapa tertawa? Kamu pikir ada yang lucu?" Kata Lily kesal, karena suaminya justru menertawakannya.


"Iya kamu yang lucu sayang," jawab Jason setelah meredakan tawanya.


Mendengar jawaban suaminya membuat bibir Lily semakin maju beberapa senti.


"Sayang jangan menggodaku, ini masih di mobil," goda Jason lagi.

__ADS_1


Lily yang tahu kemana arah perkataan Suaminya langsung saja menutup mulutnya.


"Siapa juga yang menggodamu?"


Lagi-lagi Jason tertawa apalagi melihat wajah istrinya yang kini memerah.


"Sudah jangan menggodaku terus, lihat saja sana jalan di depan, fokus saja saat ini kamu sedang menyetir," kata Lily kemudian menatap keluar jendela, tidak ingin suaminya melihat wajahnya yang Lily yakin jika saat ini memerah karena perkataan suaminya tadi.


"Baiklah sayang, akan ku turuti perintah Istriku ini," jawab Jason yang kembali fokus pada kemudi, tidak ingin menggoda istrinya lagi, takut jika nanti istrinya malah ngambek.


"Istri," mendengar itu rasanya hati Lily sangat bahagia, dirinya masih tidak percaya jika saat ini dia akan berstatus sebagai seorang istri, apalagi dari pria yang sangat dia cintai, Lily kira dunia tidak akan berpihak padanya, nyatanya Tuhan masih sangat menyayanginya, dengan menghadirkan orang-orang yang menyayanginya di hidupnya kini. Dan Lily sangat bersyukur untuk itu.


Lily mengenal jalanan ini, tadi dia tidak fokus jalanan hingga tidak tahu. Lily kemudian menoleh ke arah Jason, menatap suaminya bingung kenapa suaminya membawanya melewati jalan ini.


"Kita mau kemana?" Tanya Lily pada Suaminya.


"Tapi kenapa kita akan kesana?" Tanya Lily yang masih belum mengerti.


"Coba kamu pikirkan saja sendiri," jawab Jason yang memang tidak ingin memberitahu istrinya tujuan kenapa mereka ke tempat yang mereka tuju saat ini.


"Kebiasaan, selalu main rahasia-rahasian," gumam Lily yang kembali menatap keluar jendela.


Tak lama mobil yang Jason kendarai telah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi, tempat keduanya bekerja.


Jason turun dan berlari kecil ke arah sampingnya membukakan pintu untuk sang istri.


Lily turun, "Kamu mau menyuruhku bekerja dengan datang ke tempat ini?" Bisik Lily, dan hanya mendapat respon senyuman dari Suaminya.

__ADS_1


"Ayo masuk!" Ajak Jason menggandeng tangan Lily.


"Kamu jawab dulu, kenapa kamu mengajakku kesini? Atau jangan-jangan kamu menyuruhku untuk mengundurkan diri? Aku mohon, beri aku waktu, aku belum siap mengundurkan diri dalam waktu dekat ini, tolong biarkan aku bekerja dulu, nanti kita bicarakan masalah ini di rumah ya?" Lily segera berbalik badan dan ingin segera kembali ke mobil, tapi dengan cepat Jason menahan tangan Lily, menarik hingga Lily jatuh ke dalam pelukannya.


Beberapa orang mendekat memberi hormat pada Jason. Sayangnya Lily tidak melihatnya karena saat ini Lily memilih menyembunyikan wajahnya di dada Jason karena Lily malu, dan tidak ingin mereka yang datang mendekat melihat wajahnya.


Jason memberi isyarat agar para orang yang datang tadi untuk segera meninggalkan mereka.


"Baik Tuan, kami permisi dulu, Tuan Muda sudah menunggu Anda," ucap para pengawal itu yang akhirnya pamit undur diri meninggalkan Jason dan seorang gadis yang mereka tahu adalah istri dari Tuan Jason orang kepercayaan Tuan Muda.


Jason hanya mengangguk dan melihat kepergian mereka.


"Ayo kita masuk! Atau kamu ingin kita menjadi pusat perhatian semua orang?" Bisik Jason yang membuat Lily langsung melepas pelukannya dan berjalan lebih dulu, melangkah tanpa tujuan karena dirinya benar-benar malu karena banyak pasang mata yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang seakan penuh tanda tanya dan ada pula yang menatapnya tidak suka, entahlah Lily bingung dengan arti tatapan mereka semua.


Lily memundurkan langkahnya, rasanya tidak ingin lagi melangkah lebih jauh, Jason segera menahan kedua bahu istrinya yang justru berjalan mundur.


"Apa yang sedang kalian lihat? Apa kalian digaji hanya untuk memperhatikan orang lain? Kembali kerjakan pekerjaan kalian atau kalian ingin dipecat saat ini juga," suara Jason terdengar menggelegar, membuat semua karyawan yang menatap kedatangan Lily bersamanya tadi langsung beringsut mundur dan berlari ke tempatnya masing-masing, tidak ingin jika dirinya harus dipecat karena masalah yang menurut mereka sangat sepele.


Lily mendongak menatap wajah suaminya yang memerah karena marah. Bahkan rahang suaminya terlihat mengeras.


Lily perlahan mengulurkan tangannya, meraih wajah Suaminya dan mengelusnya lembut, hingga pada akhirnya Jason menunduk menatap wajah sang istri. Sentuhan lembut istrinya itu membuat emosi Jason yang tadi memuncak terasa menguap begitu saja.


Jason tersenyum, menatap Lily, dan semua itu tidak luput dari penglihatan para pekerja yang memang penasaran dengan gadis cleaning service itu yang bisa dekat dengan pria yang mereka kenal sebagai orang kepercayaan  pemimpin perusahaan yang secara tidak langsung merupakan atasan mereka.


Mereka sampai mengerjapkan mata beberapa kali tidak menyangka akan melihat pemandangan yang sangat langkah itu, atasan yang terkenal tidak pernah tersenyum, kini tengah tersenyum kepada gadis itu.


"Siapa gadis itu? Bukankah dia pekerja baru itu? Kudengar dia sedang cuti karena akan menikah, tidak mungkinkan…" wanita yang berpakaian dengan rok dan kemeja ketat itu langsung menutup mulutnya saat Jason kini menatapnya tajam. Dan wanita itu langsung bernafas lega saat melihat atasannya pergi dengan menggandeng gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2