
Lily kini dalam perjalanan pulang ke rumahnya, dari tadi wanita itu hanya diam saja, dan tentunya Jason tahu apa yang menyebabkan diamnya sang istri.
"Sayang!"
"Sayang!" Jason memanggil Lily berkali-kali, tapi tidak juga mendapat sahutan, sampai supir mereka melihat kaca di depannya, memastikan jika majikannya itu, tidak bertengkar.
"Sayang?" Jason menyentuh tangan istrinya, membuat wanita itu terkejut dan akhirnya menoleh menatapnya.
"Hah? Kenapa?" Tanya Lily dengan wajah bingungnya.
"Putri kita sepertinya haus." Ucap Jason sambil menatap bayi mereka yang menangis di pangkuannya.
Jason menurunkan pembatas agar yang duduk di kursi depan tidak melihat mereka yang ada di belakang.
Lily buru-buru mengambil alih. Dan benar saja apa yang suaminya katakan, putri kecilnya minum dengan lahap, putrinya benar-benar kehausan.
"Maafkan ibu sayang," gumam Lily sambil mengelus wajah putri kecilnya itu.
Jason mengelus lembut rambut istrinya, Lily tersenyum meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
Tak lama bayi mereka kembali tertidur dan saat bersamaan mobil juga telah berhenti di depan kediaman Alan.
Jason turun dan berlari ke pintu sisinya membukakan untuk sang istri, membantu wanitanya itu turun.
Lily tersenyum saat semuanya ada di depan rumah menyambutnya. Ayah, ibu, kakak dan juga putrinya Cinta. Tapi tiba-tiba senyuman itu luntur, saat tidak melihat kakaknya Lia ada disana.
Jason merangkul bahu istrinya, karena Lily berhenti melangkah padahal keluarganya sudah menunggu kedatangannya.
"Ayo kasihan Aulia."
"Hmm iya," jawab Lily kemudian keduanya melangkah bersama yang tentunya mendapat sambutan hangat dari keluarganya. Bahkan Dea kini sudah mengambil alih sang cucu ke gendongannya, diikuti Cinta yang mengekor ingin melihat adiknya.
Lily begitu senang melihat Cinta yang begitu antusias melihat adiknya bahkan putrinya sampai melupakannya.
Jason menuntun istrinya untuk duduk di sofa. Keduanya memperhatikan Cinta yang kini terus menatap adiknya dan bertanya banyak hal pada Dea. Seperti kenapa adiknya hanya tidur saja, tidak mau bermain dengannya, dan banyak hal yang gadis kecil itu tanyakan sampai Dea terlihat kebingungan menjawabnya.
"Cinta sini sayang! Apa kamu tidak mau memeluk ibu?"
Cinta menoleh, dia tersenyum kemudian berlari menghampiri ibunya.
"Ibu!"
Lily merentangkan kedua tangan membiarkan putrinya masuk ke dalam pelukannya.
Lily mengecup puncak kepala putrinya bertubi-tubi menyalurkan rasa rindunya. Padahal hanya sebentar saja dia meninggalkannya, tapi rasa rindu begitu memenuhi dada.
"Ibu kenapa tidak ajak Cinta waktu dedeknya kelual? Kan Cinta jadi tidak melihatnya," gadis kecil itu mendongak menatap sang ibu, langsung mencecar pertanyaan yang dari kemarin juga dia tanyakan pada kakek, nenek juga pamannya.
__ADS_1
"Hmm Cintanya lagi tidur."
Cinta mengangguk, jawaban kakek, nenek, paman serta ibunya sama.
Cinta kemudian menoleh saat merasa ada yang menowelnya dan begitu melihat siapa orang yang melakukannya, pekikan terdengar mengisi ruang keluarga Alan.
"Ayah!"
Jason tersenyum, mengangkat sang putri dan mendudukan di atas pangkuannya.
"Makin gembul saja nih putri ayah." Jason mencubit kedua pipi Cinta hingga membuat bibirnya seperti ikan.
"Ahahahh...Cinta tidak gembul ayah tapi chubby," ucap gadis kecil itu manja, bahkan kedua tangan mungilnya kini sudah melingkar di tubuh Jason, dan menyembunyikan wajahnya di dada sang ayah begitu tangan ayahnya sudah dilepas.
"Ayah balu pulang? Kok bisa baleng sama ibu?"
"Kan sebelum ayah pulang, ayah menjemput ibu dulu."
Cinta mengangguk-anggukan kepalanya, terus menoleh menatap adiknya yang kini sudah berpindah ke pangkuan sang ibu.
"Telus adek bayinya namanya siapa ibu?"
"Adek Aulia Alesya Louvis."
"Adek Aula."
"Aula...au...uli…au...lia...susah ibu," gadis kecil itu berdecak kesal karena menurutnya begitu susah memanggil nama adiknya.
"Hmm ya sudah panggil adek Uli saja deh." Putusnya kemudian.
"Ya sudah terserah kak Cinta saja deh," jawab Lily pasrah.
Alan dan Dea serta Al hanya menatap keluarga kecil itu yang terlihat begitu bahagia.
"Oh ya, Ibu siapkan makan siang dulu ya, kalian pasti lapar."
Dea bangkit dari duduknya diikuti Alan yang juga berpamitan akan membantu sang istri.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke kamar," kata Lily pada Jason.
Jason mengangguk dan bangun dari duduknya, Al yang melihat itu segera membantu adiknya karena Jason kini tengah menggendong Cinta yang tidak mau lepas darinya.
Jason mengambil barang-barangnya dan membawanya.
"Apa ada sesuatu antara Ale dan Lia?" Tanya Al yang berjalan sejajar dengan Jason.
"Sepertinya, bahkan Dahlia tidak datang kesini bukan? Makanya dari tadi Lily hanya diam."
__ADS_1
"Apa kau tahu kenapa mereka? Sebelumnya tidak seperti ini."
Jason hanya mengedikan kedua bahu acuh, lalu melangkah lebih cepat menyusul istrinya.
Al pun ikut mempercepat langkahnya, karena Lily kini sudah di depan pintu dan menunggu mereka.
Al membaringkan keponakannya di box bayi, kemudian pamit keluar tidak ingin mengganggu mereka.
Jason juga menurunkan Cinta di atas ranjang, sementara Lily memastikan tidur Aulia merasa nyaman barulah dia menghampiri anak dan suaminya ikut bergabung, dengan duduk di samping Cinta yang kini duduk diantara ayah dan ibunya.
"Kapan adiknya bangun ayah, Cinta ingin mengajak adik bermain," ucap Cinta mendongak ayah dan ibunya bergantian.
"Adiknya kan belum bisa bermain sayang, masih terlalu kecil, nanti kalau sudah besar, baru Cinta bisa mengajaknya bermain."
"Kapan besalnya? Besok?"
Lily dan Jason hanya terkekeh mendengar penuturan putrinya. Jason merangkul keduanya, lalu mengecup pipi Cinta, Lily tidak mau kalah dia juga ikut mencium pipi Cinta yang satunya.
Cinta tertawa dengan mata yang terpejam, begitu menggemaskan.
"Sudah ayah ibu!" Cinta menutupi bibir ayah dan ibunya agar tidak menciuminya lagi.
"Sudah, Cinta lapal."
Jason dan Lily pun menghentikan aksinya, apalagi saat mendengar putri mereka bilang jika sudah merasa lapar.
"Ya sudah, ayo makan!" Jason bangun dan mengangkat tubuh Cinta.
"Aku ajak Cinta makan dulu ya, sekalian aku ambil makanan, kita nanti makan di kamar saja, kamu juga lebih baik istirahat dulu."
Lily tersenyum dan mengangguk, wanita itu kemudian membaringkan tubuhnya.
Jason mengecup kening Lily sebelum akhirnya dia pergi keluar ke ruang makan.
Langkah Jason berhenti saat melihat Dahlia yang kini berjalan di belakang bibi, sepertinya gadis baru saja datang.
"Kak Jason!"
Jason lihat kini Dahlia hanya menunduk dan meremas jari-jarinya, gugup itulah yang bisa Jason perkirakan.
"Masuklah, Lily ada di kamar, dia begitu sedih setelah pertemuan terakhir kalian kemarin, aku tahu kamu pasti berpikir jika Lily terlalu ikut campur, tapi kamu juga harus tahu, jika dia seperti itu karena khawatir padamu. Aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu, aku hanya minta kamu bicara pelan-pelan saja, dan buat dia mengerti tanpa kalian harus ribut seperti kemarin."
"Maaf kak…."
"Minta maaflah pada adikmu, ya sudah aku mau ke ruang makan dulu. Kamu bisa temui Lily, bicaralah dari hati ke hati, jangan libatkan emosi," ucap Jason yang kini meninggalkan Dahlia yang hanya diam dan menunduk sambil mengangguk pelan.
Sementara itu, Lily yang baru saja akan memejamkan mata, terpaksa membuka kembali matanya saat mendengar pintu kamarnya diketuk, Lily membuka mata bersamaan dengan pintu terbuka. Lily mencoba bangun dari rebahannya, apalagi melihat sosok kakaknya yang kini tengah berdiri di ambang pintu, terus menatapnya.
__ADS_1