
Liora pun asyik berbincang dengan kedua Kakak Iparnya, bahkan Liora memuji Jasmine yang dengan berani mempertahankan miliknya di depan umum.
Obrolan mereka terhenti ketika terdengar getar ponsel yang ternyata milik Jasmine, karena penasaran Liora pun akhirnya bertanya pada Kakak Iparnya itu.
"Siapa Kak? Tanya Liora penasaran melihat Jasmine yang sedari tadi tampak fokus dengan ponselnya.
"Suamiku, katanya mau menjemputku," kata Jasmine senang. "Oh ya nanti kamu sama Jason," tambah Jasmine.
"Baiklah," ucap Liora dengan senyum lebarnya.
"Wah sepertinya ada yang bahagia nih, matanya saja sampai berbinar mendengar nama seseorang yang baru saja disebutkan," ledek Bunga yang melihat wajah Liora tampak memerah seperti kepiting rebus.
Tak lama bel berbunyi dan Liora melihat Jasmine Kakak Iparnya itu langsung bangun dari duduknya, dan dengan semangat berjalan ke arah pintu untuk menyambut kedatangannya suaminya.
"Kenapa Kak Jasmine lama ya Kak," tanya Liora kepada Bunga yang masih melihat gaun yang tadi sudah dipilihnya.
"Hmm entahlah bagaimana kalau kita susul saja," ucap Bunga memberi saran dan langsung disetujui oleh Liora.
Liora melihat Bunga langsung berhenti begitu melihat Kakaknya sedang menatap Kak Jasmine dengan tatapan yang bahkan Liora sendiri tidak dapat mengartikannya. Yang jelas ada ketegangan disana.
Liora, memandang ekspresi Kakak kedua dan istrinya itu bergantian, dan Liora yakin ada sesuatu yang sebelumnya terjadi dan Liora tidak tahu itu apa.
Liora memang tidak tahu tentang hubungan rumit yang terjadi antara mereka berempat, yang Liora tahu Kakak Iparnya Jasmine pernah pergi bersama Kakak keduanya, hingga sempat terjadi pertengkaran antara kedua Kakaknya itu, dan Liora juga hanya tahu Kakaknya menikahi Bunga karena sebagai rasa pertanggungjawaban saja terhadap anak yang sedang di dalam kandungan Kakak Ipar keduanya itu. Wajar saja Liora tidak tahu karena dia sendiri juga belum lama ini berkumpul dengan keluarganya.
Hingga tak lama, Kakak pertamanya, Stevano muncul di belakang Max berdehem dengan keras, dan terlihat jelas jika Kakak pertamanya itu terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya pada Kak Max.
Untung saja sepertinya Kak Jasmine mengerti situasinya dengan langsung menerobos Kak Max dan langsung berhambur ke pelukan suaminya, kemudian mengajaknya untuk segera pulang.
Tapi Liora dan yang lainnya tertawa saat melihat apa yang dikenakan Kak Vano sekarang.
"Kak, kau yang benar saja, kau kantor dengan mengenakan itu?" Tanya Liora yang melihat apa yang Stevano kenakan.
"Bukankah ini terlihat keren!" Kata Jasmine yang membuka lebar bagian depan kemeja Stevano agar kaos yang suaminya kenakan terlihat jelas dan hal itu membuat Stevano mendengus.
__ADS_1
"Sudah cukup sayang, apa kau akan terus mempermalukan suamimu ini?" Ucap Stevano malu karena ditertawakan adik-adiknya.
"Jadi ini yang Kakak bilang menandai Kak Vano?" Tanya Liora dan mendekat.
"Sudah punya istri cantik, jangan di ganggu!" Liora membaca tulisan itu keras-keras. "Kak Vano beneran ke kantor dengan seperti ini?" Tanya Liora menggoda.
"Ini demi anak-anakku, karena anak-anakku yang memintanya, iya kan sayang?" Jawab Stevano meminta pembenaran dari istrinya.
"Tentu saja, ini demi anak-anak kita dan itu juga keponakanmu Liora, jadi jangan menertawakan Kakakmu!" Kesal Jasmine yang melihat Liora terus tertawa.
"Istrimu selalu meminta yang aneh-aneh, tidak seperti istriku, dia tidak pernah menginginkan sesuatu yang istrimu selalu minta" ucap Kak Max dan mendekat ke arah istrinya kemudian merangkul bahu istrinya tersebut dan Liora menyaksikan itu semua.
"Sayang," rengek Jasmine kepada Stevano mendengar perkataan Max.
"Sudah ayo! Lebih baik kita pulang sekarang. Kamu juga Liora, Jason sudah menunggumu di bawah. Kau bawa mobil Kakak saja, biar Kakak pakai mobilmu, jadi berikan kuncinya!" Kata Stevano menyodorkan tangannya meminta kunci. Dan Liora pun memberikannya dengan senang hati.
"Akhirnya bisa bersama dengannya," kata Liora dalam hati.
Tapi suasana kembali menegangkan saat terjadi perdebatan antara kedua Kakaknya, hingga akhirnya diputuskan Kakak Ipar keduanya itu akan ikut bersama dirinya dan Jason pulang.
"Kak, apa kau baik-baik saja? Tanya Liora saat melihat Bunga diam saja di dalam mobil yang Jason kendarai membelah jalanan yang masih saja ramai.
Bunga kemudian menoleh menatap Liora yang duduk di depannya karena tadi Bunga menghadap ke jendela memandangi jalanan yang mereka lalui.
Bunga tampak tersenyum dan berkata, "Tenang saja Liora, aku baik-baik saja," katanya kepada Liora.
"Aku yakin Kak, kalau sebenarnya Kak Bunga tidak baik-baik saja seperti yang Kakak katakan," ucap Liora dalam hati melihat kursi belakangnya dimana Bunga berada apalagi melihat wajah Kakak Iparnya itu yang tampak murung setelah mendengar perdebatan tadi.
"Kak, kapan Kakak akan memeriksa kandungan Kakak? Hmm bolehkah aku ikut Kakak nanti? Aku ingin melihat keponakanku," tanya Liora mencoba mengalihkan pembicaraan, agar Kakak Iparnya itu tidak lagi sedih.
"Sebenarnya Lusa, tapi katanya Mami juga akan pulang Lusa, jadi aku akan memeriksakannya besok saja," kata Bunga.
"Baiklah, besok kita pergi sama-sama," kata Liora memutuskan sepihak dan betapa senangnya dirinya saat Bunga menyetujui permintaannya yang sedikit memaksa.
__ADS_1
"Apa Tuan Max sudah tahu tentang itu?" tanya Jason yang sedari tadi hanya mendengarkan keduanya berbicara.
Bunga menggeleng lemah, "Dia sedang sangat sibuk, aku tidak mau mengganggunya, kalian tahu sendiri jika belum lama perusahaan Max sedang dalam krisis karena kabar dia yang menghamiliku," kata Bunga sedih mengingat itu, dia merasa bersalah karena secara tidak langsung dia ikut andil membuat perusahaan suaminya bermasalah.
"Seharusnya kau mengatakannya Bunga, jadi Tuan Max bisa mengantarmu, bagaimanapun yang ada di dalam kandunganmu anaknya juga," kata pria di sampingnya itu tampak kesal.
"Sudahlah Jason, aku tidak apa-apa. Lagian kamu dengar sendiri jika Liora juga akan ikut denganku," ucap Bunga memaksakan senyumannya.
"Kak Bunga tenang saja, aku sendiri yang akan membuat Kak Max menemani Kakak, jika Kak Max sampai tidak mau aku pasti akan menyeretnya," janji Liora dalam hati.
Tak lama mereka pun akhirnya sampai di kediaman utama keluarga Anderson, hingga obrolan mereka pun terhenti.
Jason membuka pintu mobil untuk Bunga, dan Setelah Liora juga turun, Jason kembali masuk ke mobil. Dia kemudian menurunkan kaca pada jendela mobil dan berkata pada Liora, "Sampaikan pada Tuan Muda aku mau keluar dulu, setelah itu aku akan langsung kembali."
Liora hanya mengangguk dan melihat Jason yang kini menutup kembali kaca mobil, dan langsung melajukannya. Jujur saja Liora merasa sangat kecewa karena Jason bahkan tidak mengajaknya bicara saat di dalam mobil. Tapi Liora dengan baik menyembunyikan rasa kecewanya itu dan kini menoleh ke arah Kakak Iparnya.
"Ayo!'' Ajak Liora kemudian menggandeng tangan Bunga.
Liora masuk bersama Bunga, tapi Liora menghentikan langkah kakinya saat Bunga yang ada disampingnya berhenti dan memperhatikan Kak Vano dan istrinya, dengan pandangan sendu. Liora seakan tahu bagaimana rasa sakitnya walaupun dia belum pernah merasakannya. Dan Liora hanya berharap dalam hati jika kelak dia memiliki pendamping akan seperti Kakaknya Stevano yang sangat menyayangi Jasmine istrinya.
"Kak," Liora memegang bahu Bunga yang bergetar karena menangis.
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, aku sangat baik-baik saja," ucapnya yang mungkin sebenarnya untuk menguatkan dirinya sendiri sambil mengusap air matanya kasar.
Liora mendekat dan langsung memeluk Bunga. "Kak jika ingin menangis, maka menangislah, jangan ditahan Kak! Karena itu akan terasa menyakitkan."
Mendengar perkataan adik iparnya, Pecah sudah tangis Bunga yang sejak tadi dia tahan.
Bahkan tangisnya sampai terdengar Stevano dan Jasmine. Keduanya menoleh dan mendapati Bunga ada di dalam pelukan Liora. Liora melihat Kak Jasmine akan melangkah menghampiri mereka, namun dirinya langsung memberi isyarat agar jangan mendekat dan lebih baik meninggalkan mereka berdua.
Stevano yang mengerti isyarat yang diberikan adiknya, dengan segera dia menggandeng istrinya untuk masuk ke kamar mereka.
"Apa aku salah jika menginginkan hal yang sederhana itu," isak Bunga dalam pelukan Liora.
__ADS_1
Liora bingung harus menjawab apa, hingga akhirnya dia memilih diam saja dan hanya menepuk punggung Kakak Iparnya itu dengan pelan untuk menenangkannya.
"Aku harus bagaimana? Ini semua salahmu Kak Max! Tidak bisakah kau belajar mencintai Kak Bunga? Kenapa kau terus saja menyakitinya? Bahkan jika menikah hanya karena tanggung jawab, kamu juga harus memperhatikan istri dan calon anakmu Kak. Tidak seperti ini!" Kesal Liora dalam hati pada Kakaknya Maxime.