Please Love Me

Please Love Me
Part 150


__ADS_3

"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Tanya Al yang duduk di samping Jason yang sedang melamun sambil senyum-senyum sendiri di tepi kolam renang.


"Kepo," jawab Jason menoleh kepada Al, dan kembali menatap air berbau kaporit di depannya, kembali senyum-senyum sendiri.


"Gila!" Kata Al yang kemudian ikut menatap apa yang saat ini adik Iparnya lihat.


"Hmm mungkin," jawab Jason yang kemudian melepas kaosnya, dirinya akan berenang sore ini.


"Ya ampun tubuhmu itu seperti…, tunggu jangan bilang kau senyum-senyum sendiri karena baru saja selesai melakukan itu, dan tadi Ale menghilang karena..," Al lagi-lagi menggantung ucapannya, rasanya tidak mau dia memperjelas apa maksud perkataannya. Tubuh Jason dipenuhi dengan bekas merah, dan tentu saja, pikiran Al langsung ke arah sana.


"Itu sudah tahu, jadi tidak perlu bertanya lagi," jawab Jason cuek yang kemudian melompat ke dalam kolam renang.


Ya tadi, saat Lily duduk dan meminta suaminya mendekat karena Lily ingin melakukan dengan Jason saat itu juga. Dan dengan senang hati, Jason menuruti keinginan istrinya yang juga menguntungkannya. Karena hal itu, Jason sampai membatalkan rapatnya siang itu hingga sore, Jason tidak kembali lagi ke kantornya.


***


Alan diam termenung, memikirkan ucapan putranya.


"Ayah, maafkan Al, tapi Al harus mengatakan ini, Al ingin tinggal sendiri, Al ingin mandiri. Ayah izinin Al ya, Al janji akan sering kesini melihat Ayah dan Ale, Al mohon Yah," pinta Al dengan tatapan penuh harap.


Alan menghela nafasnya, Alan dari dulu sudah menebak jika hal ini pasti akan terjadi. Tapi Alan benar-benar tidak menyangka jika akan terjadi secepat ini.


"Beri Ayah waktu untuk memikirkan hal ini, bukan Ayah egois, tapi Ayah memang tidak ingin jauh dari anak-anak Ayah, kita baru saja berkumpul dengan Ale, tapi kamu justru memutuskan untuk pergi dari sini," jawab Alan meminta putranya waktu, sungguh keputusan putranya begitu membuat Alan sedih.


"Al tahu Ayah, Al juga sudah memikirkan hal ini, lagian disini Ayah kan tidak sendiri, ada Ale juga ada suaminya, Ayah tidak akan kesepian hanya karena Al tidak pulang ke rumah, atau begini saja, tiap akhir pekan Al akan tidur di rumah, jadi Ayah tidak merasa jika Al tinggal terpisah, hmm tapi sudahlah, Ayah pikirkan saja permintaan Al ini ya," ucap Al yang kemudian berpamitan untuk keluar dari kamar Ayahnya.

__ADS_1


"Hayo Ayah melamun kenapa?" Ucap Lily yang tiba-tiba masuk dan duduk di samping Ayahnya di tepi ranjang.


"Tidak, Ayah tidak melamunkan apa-apa, kamu darimana saja, kok tidak kembali ke kamar Ayah tadi," tanya Alan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tadi Ale sama suami Ale, hmm bagaimana pembicaraan Ayah sama Kak Al, kalian sudah berbaikan kan?" Tanya Lily penasaran akhir dari pembicaraan Ayah dan Kakaknya.


"Iya semua baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir, Ayah dan Kak Al juga sudah berbaikan, tadi Ale bilang, Ale sama suami Ale? Jason pulang?" Tanya Alan begitu menyadari jawaban putrinya.


"Iya Yah, Ale siang tadi menelpon suami Ale, bilang kalau Ayah pingsan. Jadi dia balik deh, tapi suami Ale baru datang saat Kak Al sudah datang. Dan katanya, dia minta maaf karena tidak bisa langsung cepat-cepat pulang, karena tadi dia ada rapat dulu yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Lily menjelaskan.


"Hmm tidak apa-apa, seharusnya Ayah yang minta maaf sama suami kamu, dia jadi cepat-cepat pulang dan mengganggu pekerjaannya. Sekarang dimana suami kamu? Dia sudah berangkat ke kantor lagi?"


"Oh dia sedang berenang tadi, aku juga lihat Kak Al ada disana."


Mendengar nama Al putranya disebut, Alan kembali terdiam dan hal itu langsung disadari oleh Lily.


"Eh, kenapa sayang?" Tanya Alan yang merasa putrinya tadi berbicara dengannya.


"Ayah ada masalah dengan Kak Al?" Tanya Lily lagi.


"Kakakmu ingin tinggal sendiri, dia bilang ingin mandiri, tapi sayang, rasanya Ayah tidak ingin jauh dari anak-anak Ayah, tapi Ayah juga tidak boleh egois, jadi menurut kamu Ayah harus bagaimana?" Alan akhirnya bercerita atas apa yang sejak tadi memenuhi pikirannya dan bertanya meminta pendapat putrinya.


Lily meraih tangan Ayahnya dan menggenggamnya erat.


"Menurut Ale, Ayah ijinkan Kak Al saja. Kita kan bisa cari tempat yang tidak jauh dari sini. Jadi jika Ayah merindukan Kak Al, Ayah bisa ke tempatnya, begitupun sebaliknya. Yang terpenting Ayah percaya Kak Al saja."

__ADS_1


"Jadi menurut kamu seperti itu?" Tanya Alan menatap putrinya dan Lily pun mengangguk, menjawab pertanyaan Ayahnya.


"Jika menurut kamu itu yang terbaik, Ayah percaya, baiklah Ayah akan ikuti saran kamu itu," ujar Alan yang akhirnya merasa lega setelah bercerita pada putrinya.


"Hmm oke, sekarang kita tinggal pikirkan tempat tinggal Kak Al, apa Ayah ada solusi?" Tanya Lily yang kini menatap Ayahnya.


Alan menepuk dahinya pelan, "Kenapa Ayah sampai lupa, Ayah kan punya apartemen di dekat-dekat sini," jawab Alan saat dirinya baru mengingat apartemen yang dulu menjadi tempat tinggalnya.


Lily menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya. "Bagus, kita bisa gunakan apartemen Ayah untuk tempat tinggal Kak Al," kata Lily tersenyum bangga karena sudah mengeluarkan ide yang bagus, otaknya yang tidak seberapa itu, bisa diajak kerja sama disaat-saat tertentu.


"Ya sudah, ayo sekarang kita keluar, Ayah butuh udara segar biar cepat sehat," Kata Lily yang kemudian membantu Ayahnya untuk keluar dari dalam kamar, setelah setengah hari terkurung di dalam situ.


Alan pun hanya bisa pasrah saat putrinya mengajak keluar. Untungnya kepalanya sudah tidak pusing lagi.


"Hmm bagaimana kalau kita menyusul Kak Al dan suami Ale di kolam renang? Apa Ayah setuju?" Tanya Lily meminta pendapat Ayahnya.


Sementara Alan kembali pasrah, saat putrinya sudah membantunya berjalan ke arah kolam sebelum dia memberikan jawaban tentang pendapat yang diminta putrinya tadi.


"Lihat Yah itu Kak Al dan Jason!" Dari kejauhan Lily menunjuk dimana keberadaan Kakak dan suaminya kepada sang Ayah.


"Iya," jawab Alan singkat.


"Ayo Yah, jalannya lebih cepat lagi," Lily menarik ayahnya agar berjalan lebih cepat, Lily benar-benar lupa jika ayahnya sedang sakit saat ini.


"Hahaha, tawa Lily terdengar di seluruh penjuru rumah, saat melihat suaminya yang ada di dalam kolam menarik kaki Kakaknya yang duduk di tepian kolam, hingga membuat Al terpekik kaget.

__ADS_1


Sedangkan Alan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ketiga anaknya.


Lily yang senang melihat Kakaknya dikerjai oleh suaminya, dia dengan semangat menghampiri keduanya, meninggalkan Ayahnya yang kini berjalan dengan tertatih-tatih ke tempat duduk yang tersedia di dekat kolam renang.


__ADS_2