
"Hai sendirian saja?" Sapa seorang pria tinggi yang tiba-tiba duduk di samping Lily tanpa izin darinya.
"Kenapa duduk disitu? Aku tidak mengizinkanmu duduk di sampingku," ketus Lily pada pria asing itu.
"Apa aku harus meminta izin darimu jika duduk disini? Ini tempat umum, kalau-kalau kamu lupa," jawab pria itu yang kini justru membaringkan tubuhnya di samping Lily duduk, tepatnya di atas pasir. Tidak mempedulikan ucapan yang baru saja Lily ucapkan.
"Sendirian?" Tanya pria itu lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Lily.
"Berdualah, apa kau tidak melihat."
Pria itu mengernyitkan dahi, kembali bangun dan duduk lagi menatap Lily.
Lily yang merasa diperhatikan langsung menoleh dan benar saja, dirinya mendapati pria itu tengah menatapnya.
Jika mood Lily bagus, sudah dipastikan Lily akan senang menikmati pemandangan ini, duduk di pinggiran pantai ditemani oleh pria tampan, sayangnya mood Lily hancur karena suaminya yang tiba-tiba membatalkan niatnya untuk berjalan bersama-sama.
"Hai kenapa malah melamun?" Pria itu menggerakkan naik turun tangan kanannya tepat di hadapan wajah Lily yang terlihat murung.
"Siapa juga yang melamun," sekilas saja Lily begitu terkesan jutek.
"Oh ya kamu bilang tadi berdua, tapi sedari tadi yang aku lihat kamu sendiri, atau jangan-jangan kamu melihat hantu? Dia ada disini?" Pria itu kini berbisik pada Lily sambil celingukan seperti mencari sosok yang dimaksud.
"Hmmm," Lily hanya menjawab dengan gumaman.
"Kamu serius? Aku jadi merinding, hmm kalau boleh tau dia ada dimana?" Tanya pria itu.
"Di samping kiriku," jawab Lily singkat sambil melirik samping kirinya.
Pria itu mengikuti gerak mata Lily. "Tunggu, bukannya aku yang ada di samping kirimu?" Tanya pria itu bingung.
"Apa kurang jelas? Ya itu kamu hantunya," jawab Lily dengan tanpa rasa bersalah.
"Kamu mengataiku hantu," ucap pria itu kesal.
"Loh kok jadi aku yang mengatai, kan kamu sendiri tadi yang bilang," jawab Lily segera bangun, begitu melihat seseorang yang sudah di tunggunya.
Tawa pria tadi pecah, "Oh iya ya," gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hei kamu mau kemana?" Teriak pria itu saat baru menyadari Lily sudah bangun dan berjalan cepat menjauh dari tempat mereka tadi.
__ADS_1
Pria itu pun segera bangun, dan berlari mengejar Lily, Lily yang menoleh, terkejut saat pria itu mengejarnya, membuat Lily akhirnya juga berlari, agar pria itu tidak bisa menjangkaunya. Begitu sibuk menoleh ke belakang, Lily sampai tidak menyadari jika dia telah melewati suaminya.
Jason yang kesal, segera menarik tangan Lily hingga menabrak tubuhnya, bertepatan dengan pria tadi yang sudah tepat ada di belakangnya.
"Hei lepasin!" Ucap Lily tanpa melihat pria yang menariknya.
"Kenapa? Masih mau kejar-kejaran sama pria lain," ketus Jason saat istrinya justru dengan lantang memerintah dirinya melepaskan.
Begitu pelukan terlepas, Lily mendongak dan hanya menunjukkan cengirannya, "Eh ternyata kamu sayang, aku pikir…"
"Lepasin cewek itu!" Teriak pria yang sedari tadi bersama dengan Lily.
Lily dan Jason menoleh ke sumber suara yang memotong ucapan Lily.
"Cepat lepaskan!" Perintah pria itu menatap tajam Jason.
Jason menarik pinggang istrinya akan semakin menempel ke tubuhnya, memeluk pinggang ramping itu begitu posesif.
"Siapa kau?" Tanya Jason dingin menatap pria itu tak kalah tajam.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas kau harus lepaskan cewek itu!" Lagi-lagi pria itu memerintah Jason untuk melepaskan istrinya.
Jason segera menahan Lily agar tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Lepasin atau aku akan.."
"Akan apa?" Tanya Jason semakin menantang, dia tidak terima ada pria lain yang mendekati istrinya, apalagi terang-terangan begini.
"Sayang sudah, aku bisa jelaskan!" Teriak Lily yang sudah jengah menghadapi kedua pria itu, akhirnya kembali buka suara.
"Sayang?" Gumam pria itu yang lagi-lagi mengernyitkan dahi apalagi mendengar Lily memanggil sebutan sayang.
"Siapa yang kau maksud sayang? Aku?" Tampak pria itu menunjuk dirinya sendiri.
"Jangan terlalu percaya diri, yang dia panggil sayang itu aku bukan kau!"
"Kamu yang terlalu percaya diri, kenapa dia harus memanggilmu sayang?" Balas pria itu.
Sementara Lily hanya geleng-geleng kepala, dan menepuk keningnya pelan.
__ADS_1
"Sudahlah sampai kapan kalian ribut, kalau mau lanjut ya lanjut, dan biarkan aku kembali ke hotel," ucap Lily menatap mereka berdua berakhir menatap suaminya yang balas ditatap oleh Jason.
"Sayang, tapi bukannya kamu ingin kita jalan-jalan bareng?" Jason tidak terima saat istrinya bilang akan kembali ke hotel padahal dirinya sudah berusaha keras agar pekerjaannya cepat selesai, dan begitu menyusul istrinya, istrinya justru tengah mengobrol dengan pria lain, rasanya Jason ingin memberi pelajaran kepada pria itu.
"Kalian saling kenal?" Tanya pria itu dengan ekspresi b*d*hnya.
"Iya dia Suamiku, berhubung dia sudah kembali, kamu boleh pergi dan jangan terima kasih karena sudah menemaniku," ucap Lily dengan senyuman manisnya.
Jason yang melihat itu tidak membiarkannya begitu saja, dia segera menarik tubuh Lily membiarkan bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Sayang!" Protes Lily.
Jason berbalik menghadap istrinya, menatap tajam Lily karena sudah dengan beraninya tersenyum pada pria lain.
Lily berjinjit mengintip ke arah pria yang menemaninya tadi, tapi Jason segera menutupi dengan tubuhnya yang lebih besar, berjinjit mengintip ke kanan, Jason ikut ke kanan, ke kiri Jason ikut ke kiri, hingga membuat Lily kesal dan menghentak-hentakan kakinya.
Sementara Jason tersenyum puas melihat istrinya yang sudah menyerah, keduanya sibuk dengan dunia mereka sendiri sampai melupakan masih ada orang lain di belakangnya.
Pria itu geleng-geleng, kemudian meninggalkan pasangan suami istri itu yang kini tengah berdebat entah memperdebatkan apa.
"Lain kali jangan tersenyum seperti itu lagi pada pria lain," Jason berjalan mengikuti istrinya yang melangkah lebih dulu.
"Aku hanya mengucapkan terima kasih padanya, apa itu salah?" Ucap Lily tanpa menoleh ke belakang.
"Jelas salah, kamu bisa berterima kasih tanpa tersenyum bukan?"
"Aku tersenyum cuma sebagai bentuk keramahan saja," jawab Lily cuek. "Lagian tuh dia yang sedari tadi menemaniku, disaat orang yang berstatus suami justru mementingkan pekerjaannya," tambahnya lagi.
"Sayang kan aku sudah bilang itu mendesak."
Lily menghentikan langkahnya dan berbalik, "Ya, ya terserah mau mendesak atau apapun itu, tapi aku tidak suka kamu abaikan, kamu yang memintaku untuk ke sini, tapi kamu justru sibuk dengan pekerjaanmu, bagaimana aku tidak kesal, aku itu ingin diperhatiin, bukan dicuekin," bibir Lily kini sudah maju beberapa senti.
"Maaf," kata Jason yang langsung memeluk istrinya.
"Ya sudah, kamu tahu salah, jadi jangan protes saat tadi ada yang menemaniku, karena bukan aku yang memintanya tapi dia sendiri yang memang ingin."
"Tapi aku takut, bagaimana nanti kalau kalian saling suka akhirnya," jawab Jason lirih.
Lily langsung mendorong tubuh Jason hingga pelukan mereka terlepas begitu saja.
__ADS_1