Please Love Me

Please Love Me
Bab 230


__ADS_3

Liora menghapus air matanya yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi. Sungguh hatinya sakit mendapat tuduhan seperti itu dari kakaknya sendiri. Liora membanting pintu dengan kasar, mengambil koper, menaruhnya di lantai kemudian membukanya. Berjalan ke arah lemari, mengambil beberapa baju dan memasukkannya ke dalam koper. Setelah selesai menyiapkan apa yang perlu dibawanya, Liora pun segera menyeret kopernya keluar.


"Liora kau mau kemana?" 


Mendengar suara kakak iparnya Liora langsung menoleh dan tersenyum, lebih tepatnya memaksakan senyumannya.


"Maaf kak, sepertinya aku harus pergi," ucapnya kemudian dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Liora apa maksudmu? Liora! Liora!" Teriakan Jasmine terdengar nyaring hingga ke tiga pria di bawah yang tadi duduk dengan saling diam langsung berdiri dan terkejutnya mereka saat melihat Liora menuruni anak tangga dengan membawa kopernya.


Liora menatap sekilas ketiga pria yang dia sayangi itu, mempercepat langkahnya untuk menuju pintu.


Saat Liora akan membuka pintu tangannya ditahan oleh seseorang. Liora pun menatap jika kini kakak pertamanya tengah menatapnya.


"Liora kamu mau kemana? Kita bisa membicarakan ini baik-baik, kakak tahu tujuan kamu bekerja di perusahaan kakak, dan kakak percaya bahwa kamu terhadap Jason tidak memiliki perasaan apapun lagi, jika kakak tidak percaya padamu, tidak mungkin kakak mengizinkan kamu untuk bekerja di bawah kepemimpinan Jason, karena jika itu terjadi bisa dikatakan kakak secara langsung menjadikanmu gadis yang tidak baik dengan membiarkanmu bekerja dengannya," ucap Stevano pada Liora.


"El tahu, Kak Vano percaya padaku, tapi Kak Max…dia bahkan menuduh aku, aku bukan orang yang tega menyakiti perasaan wanita lain kak," kata Liora yang tanpa terasa air matanya kembali jatuh.


Stevano menarik adiknya itu ke dalam pelukan, berharap agar dia lebih bisa tenang.


"Bukan itu maksud kakak Liora. Kakak hanya takut kau berbuat seperti itu!" Ucap Max membuat Liora melepaskan pelukan dan menatap tajam Max.


"Berarti Kak Max tidak percaya padaku kan? Kak Max menganggapku wanita seperti itu? Aku sudah melupakannya kak, dan sekarang hatiku sudah mencintai orang lain. Dan di saat itu, kalian juga melarangku berhubungan dengannya, hanya karena dia punya masalalu yang buruk?"


"Kakak tidak akan melarangmu mencintai seseorang Liora, hanya saja kamu salah jika memilih dia yang kamu cintai."


"Apa itu keinginanku Kak? cinta itu tumbuh di hatiku dengan sendirinya, aku bahkan tidak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta. Lantas jika hatiku memilihnya, apa cintaku itu salah?"


Sepertinya suasana di ruang tamu itu semakin dingin, dengan perdebatan Max dan Liora. Mendengar perkataan Liora Max diam, entah dia sudah kehabisan kata-kata, atau dia sedang mencerna arti kata-kata adiknya.


Melihat diamnya semua orang. Liora pun membuka pintu dan menyeret kopernya keluar.


Max akan mengejar Liora, tapi William segera menahannya.


Sementara itu Liora dengan berlinang air mata menyeret kopernya dan memasukkan ke bagasi. Setelah itu, dia segera masuk dan menancapkan gas, pergi dari sana secepatnya.


*

__ADS_1


*


Jason mendekat dan memberikan istrinya segelas minuman berwarna orange buatannya sendiri dan terlihat begitu menyegarkan.


"Terima kasih," ucap Lily yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa, walaupun Lily melakukan pekerjaan yang ringan tapi ternyata cukup melelahkan.


Untungnya suaminya begitu perhatian, menyuruh seseorang untuk membantunya, jika tidak mungkin saja pekerjaannya tidak akan selesai hari ini juga.


"Sudah selesai semua Tuan, Nyonya, kalau begitu saya pamit dulu," ucap seorang wanita menginterupsi pasangan suami istri itu.


"Terima kasih Bi, tunggu sebentar," Lily kemudian mengambil dompet yang ada di tasnya kemudian mengambil sesuatu disana dan memberikannya pada pelayan yang tadi membantunya.


"Terima kasih Nyonya, ini sangat banyak," ucap pelayan itu penuh rasa syukur.


"Tidak Bi, kau pantas mendapatkannya," ucap Lily tersenyum.


"Terima kasih Tuan, Nyonya, saya pamit," ucap wanita itu menjabat tangan jason dan Lily bergantian.


"Sama-sama Bi, Bibi berhati-hatilah di jalan," ucap Lily dan wanita itu hanya mengangguk dan pergi. 


Lily kemudian menyenggol Jason yang kini justru sibuk mengelus perutnya.


"Kenapa diam saja? Setidaknya kamu harus mengucapkan terima kasih karena beliau sudah membantu," kata Lily menegur suaminya yang terkesan sombong karena tidak berbicara sama sekali.


"Kan kamu sudah mengatakannya tadi, lagian aku tidak mau banyak bicara dengan wanita lain" jawab Jason begitu tahu maksud sang istri. 


"Dasar kamu ini," kata Lily kemudian membaringkan badannya dengan berbantalkan paha suaminya.


Lily bermain ponsel sementara Jason sibuk memainkan rambut Lily.


"Sayang!" Lily menurunkan ponselnya dan menatap langit-langit rumah itu.


"Hmm, kenapa?" Jason menatap sang istri yang seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Menurutmu, jika aku tinggal disini bagaimana? Entah kenapa aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan ibu, jika tidak aku takut jika nantinya menyesal," ucap Lily begitu lirih, membuat Jason menghentikan kegiatannya.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, kamu masih punya banyak waktu sama ibu."

__ADS_1


"Aku berharap ibu baik-baik saja, tapi tidak tahu, kadang tiba-tiba saja terlintas seperti itu," Lily masih dengan posisinya kini miring menghadap perut Jason dan memeluknya.


"Sayang bagaimana kalau kamu ajak aku ke kamar kamu, masa aku sudah jadi suami kamu, tapi belum melihat kamar kamu sewaktu kamu tinggal disini," ucap Jason mencoba  mengalihkan pembicaraan.


"Masa sih, sepertinya sudah pernah." Kata Lily yang kini melepaskan pelukan dan mencoba mengingat-ingat


"Sudah ayo! Kalau perlu kita menginap di sini, aku juga ingin mencoba tidur di kamar kamu."


"Tapi tempat tidur aku kecil, pasti sempit."


"Tidak apa-apa aku suka yang sempit," jawab Jason.


"Sayang!" Lily melotot mendengar ucapan Jason yang terdengar ambigu.


"Maksudku, jika tempat tidurnya sempit aku bisa memelukmu sepanjang malam," ucap Jason meralat ucapannya.


"Begitu dong yang jelas, ya sudah ayo!" Kata Lily yang kemudian bangun dan menarik tangan Jason menuju ke kamarnya yang terletak di ujung paling belakang.


"Jadi menurutmu bagaimana?"


"Tentang kamu akan tinggal disini?"


Lily menatap suaminya dan mengangguk.


"Kalau aku pasti akan mengikuti kemana pun sayang, jadi semua terserah sama kamu."


"Tapi bagaimana dengan ayah? Apa ayah akan memberi izin? saat itu bukankah Ayah dan Ibu Dhea sudah pulang?"


"Aku yakin ayah akan memberikan izin, jika tidak aku yang akan berbicara sama ayah hingga beliau memberikan izin," kata Jason meyakinkan istrinya.


"Benarkah?"


"Hmm, tentu saja."


"Terima kasih sayang," Lily menggamit mesra lengan suaminya.


"Sama-sama sayang, anything for you," ucap Jason mengecup puncak kepala istrinya.

__ADS_1


Keduanya saling pandang dan tertawa kemudian melangkahkan kaki mereka menuju kamar Lily yang ada di rumah itu.


__ADS_2