Please Love Me

Please Love Me
Part 41


__ADS_3

"Lily kamu ada disini?" Tanya seorang gadis yang kini berjalan mendekat ke arah Lily.


"Kak Al?" Dahlia memastikan jika pria yang bersama adiknya apakah benar orang yang dia kenal.


"Kak Lia kenal dengan Kak Al?" Tanya Lily penasaran.


Sementara Al mengernyitkan dahi bingung karena dia sama sekali tidak mengenal gadis yang sekarang berdiri di sampingnya.


"Mmmm itu Kak Al adalah seniorku," jawab Dahlia gugup.


"Oh ya aku lupa Kak Lia kan juga satu jurusan sama Kak Al," kata Lily menepuk keningnya pelan.


"Oh ya lupa, Kak Al kenalkan ini kakakku Dahlia dan Kak Lia kenalkan ini Kak Al, dia…


"Aku kekasih Lily," jawab Al menjabat tangan Dahlia dan segera kembali melepaskannya.


"Kekasih?" Tanya Lia tidak percaya dengan apa yang tadi di dengarnya.


"Iya aku kekasih Lily," jawab Al mantap.


Lily hanya tersenyum canggung mendengar jawaban Al yang diberikan kepada Kakaknya.


"Jika Kak Al ini kekasihmu, terus siapa laki-laki yang waktu itu mengantarmu ke rumah?" Tanya Dahlia to the point di depan Al langsung.


"Laki-laki apa maksudmu?" Al menatap tidak suka ke arah Dahlia.


"Maaf jika aku salah bicara," ucap Dahlia merasa tidak enak membuat Al marah dengan bicaranya yang kelepasan.


"Lily apa maksud perkataan Kakakmu?" Tanya Al menatap Lily meminta penjelasan gadis itu.


Lily menghembuskan nafas perlahan, "Dia Jason, dia asisten suami Jasmine," kata Lily mengatakan sejujurnya.


"Terus kenapa dia sampai mengantarmu ke rumah," tanya Al lagi.


"Waktu itu dia merasa bersalah saat aku tahu dipecat karenanya secara tidak langsung," jawab Lily.


"Maafkan aku Kak Al karena harus sedikit berbohong aku hanya tidak ingin menyakiti perasaanmu," ucap Lily dalam hati.


"Apa kamu dipecat? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak bilang pada Kakak? Terus dari mana kamu membiayai kuliah Kakak?" Rentetan pertanyaan keluar dari Dahlia saat mendengar adiknya bilang bahwa dirinya dipecat.

__ADS_1


"Jika aku bilang apa semua berubah?" Tanya Lily menatap Kakaknya kesal.


"Apa maksudnya ini? Kamu bekerja untuk membiayai kuliah Kakakmu ini?" Tanya Al menatap tidak percaya dua gadis itu bergantian.


Al menatap Dahlia tajam, "Kau punya tangan dan Kaki kan? Kenapa kau tidak mempergunakannya? Sampai sejauh mana kalian akan menyiksa Lily?" Marah Al.


"Kak Al sudahlah, Kak Lia tidak tahu apa-apa, dan jangan sangkut pautkan Kak Dahlia dengan semua masalah ini," ucap Lily mencoba menjelaskan pada Al.


"Maafkan Kakak, Lily! Maaf jika Kakak ikut membuatmu menderita," kata Dahlia meneteskan air mata, kemudian berlari meninggalkan mereka berdua.


Lily bangun dan mengejar Kakaknya, begitupun Al yang ikut menyusul Lily, hingga kemudian Lily berhasil menahan pergelangan tangan Kakaknya.


"Kak, maafkan atas perkataan Kak Al tadi, Kak Al hanya asal bicara," ucap Lily menenangkan Kakaknya.


"Aku tidak asal bicara Lily, karena itu kenyataannya," jawab Al tidak terima saat gadis yang dicintainya bilang jika dirinya tadi asal bicara.


Lily menatap Al, memberi kode agar laki-laki itu menghentikan perkataannya. Dan Al yang mengerti kode dari Lily hanya mendengus kesal.


"Kak sebaiknya kita pulang!" Ucap Lily pada Dahlia yang kini menangis di pelukannya.


"Maafkan Kakak, Lily," lirih Dahlia dan Lily hanya bisa mengangguk.


"Biar aku antar," kata Al kemudian berjalan lebih dulu ke arah mobilnya.


"Pindah ke depan Lily!" Perintah Al tegas.


"Tapi Kak…"


"Jangan membantah dan turuti perintahku!" Kata Al tidak mau diganggu gugat.


"Pindah saja, Kakak tidak apa-apa," bisik Dahlia meyakinkan pada adiknya bahwa dia baik-baik saja, dia tidak ingin Al semakin marah.


Lily pun pasrah kemudian akhirnya dia pindah ke depan duduk di samping Al, setelah memasang sabuk pengaman, Al pun langsung menjalankan mobilnya.


***


Jason yang baru bangun setelah memastikan Lily benar-benar pergi dari rumahnya, dia kemudian ke kamar mandi, membasuh wajahnya agar lebih segar.


Setelah selesai Jason pun melangkah kembali dan melihat secarik kertas di atas meja nakas samping tempat tidurnya.

__ADS_1


"Jangan lupa makan, aku akan ke dapur untuk menyiapkan makananmu," itulah yang tertulis di kertas itu, Jason tersenyum, tapi tiba-tiba senyumnya pudar saat menyadari jika mungkin ini terakhir kalinya mereka berhubungan.


"Apakah seperti ini akhir kisah cinta kita?" Gumam Jason kemudian melipat kertas itu dan kemudian menyimpannya, memasukkannya ke dalam laci.


Jason kemudian keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dan menuju ke dapur, sudah ada berbagai makanan ada di atas meja itu, dan itu semua adalah makanan kesukaannya, lagi dan lagi Jason tersenyum.


Jason melihat secarik kertas lagi dan membacanya, "Semoga kamu suka dengan makanannya, selamat menikmati!".


"Bagaimana kamu bisa tahu jika ini semua makanan kesukaanku?" Tanya Jason sambil menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya tanpa bisa menahan air mata yang menetes dari kedua sudut matanya.


Jason terus menyuapkan makanan itu hingga habis, "Masakanmu tak kalah lezat dari masakanmu buatanku," gumam Jason menatap pada kursi kosong di hadapannya.


Jason kemudian menuju ke kulkas, mengambil air putih, dan dia temukan lagi kertas berisikan tulisan gadis itu, "Tersenyumlah, jangan terus tampilkan wajah datarmu itu, nanti para gadis akan kabur."


"Biarkan para gadis itu kabur asal bukan kamu yang kabur," kata Jason kembali melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam kantong sakunya.


Kemudian Jason kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi bekerja. Saat Jason akan mengambil setelan pakaian kerjanya, dia kembali temukan kertas yang seperti sebelumnya.


"Semangat dan jangan lupa tersenyum," Jason tidak bisa menahan lagi air matanya, dia menangis sesenggukan untuk pertama kalinya, bahkan di saat Ayah dan Ibunya meninggalkannya, Jason sama sekali tidak menangis, air matanya seolah kering saat itu dan baru kali ini dia menangis sampai terisak karena seorang gadis.


Katakanlah Jason cengeng, tapi dengan menangis bukan berarti kita lemah, tapi karena mungkin merasa lelah dan tidak tahu harus berbuat apa atas masalah yang menimpanya, dan bukankah itu hal yang wajar terjadi pada siapa saja, walaupun itu seorang pria sekalipun.


////


Kini mobil Al berhenti di depan gang rumah Lily. Dahlia dan Lily kemudian turun. "Kak kita pulang dulu, terima kasih untuk hari ini," pamit Lily sedangkan Dahlia sudah lebih dulu meninggalkan mereka berdua, setelah tadi mengucapkan terima kasih dan tentunya tanpa jawaban dari Al.


"Lily jika ada sesuatu kamu katakan, jangan dipendam sendiri, aku akan berusaha untuk membantumu sebisaku, dan kamu tidak perlu sungkan padaku," kata Al sambil mengusap puncak kepala Lily.


Lily tersenyum dan mengangguk, "Ya sudah aku masuk dulu," ucapnya kemudian berlalu.


Al masuk ke dalam mobilnya setelah memastikan Lily masuk ke dalam rumah. Tapi pandangannya tertuju pada ponsel Lily yang tertinggal di mobilnya.


Al turun dan kemudian berjalan ke rumah Lily untuk mengembalikan ponsel gadis itu.Dan begitu sampai di depan rumah itu, yang Al temui justru Dahlia, Kakak Lily.


"Lily dimana?" Kata Al ketus.


"Lily mungkin di dapur," jawab Dahlia. "Biar aku panggilkan," kata Dahlia lagi kemudian hendak melangkah pergi untuk memanggil Lily.


"Tidak perlu, aku hanya akan memberikan ponsel Lily yang ketinggalan, ini dan pastikan jika ponsel ini selamat sampai tangannya," kata Al dingin sambil menyerahkan ponsel Lily pada Dahlia.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Al langsung berlalu pergi, dan Dahlia hanya bisa menatap sendu pada pria yang berstatus sebagai kekasih adiknya yang sangat memperlihatkan bahwa pria itu membencinya dilihat dari sikap Al padanya.


 


__ADS_2