Please Love Me

Please Love Me
Part 42


__ADS_3

"Siapa dia? Kenapa Ibu baru melihatnya?" Dahlia terkejut saat dengan tiba-tiba Ibunya sudah ada di belakangnya dan bertanya seperti itu.


"Apa Ibunya itu melihat saat tadi mereka bertiga turun dari mobil?" Dahlia berpikir dalam hati. 


Karena kalau sampai Ibunya tadi melihat dapat dipastikan adiknya akan terkena masalah lagi.


"Bu, aku bisa jelaskan, pria tadi dia adalah temanku, dia hanya mengantarkan barangku yang ketinggalan di kampus," jawab Dahlia gugup.


"Apa kau yakin dengan jawabanmu, tidak ada yang kau sembunyikan dari Ibu?" Vega kembali mengintrogasi putrinya.


"Haha, tentu saja Ibu," jawab Dahlia dengan senyum yang dipaksakan.


"Tapi kenapa kamu terlihat gugup sayang," kata Vega menatap putrinya dengan senyum tertahan. 


"Mmm..itu karena…" Dahlia tampak berpikir mencari jawaban yang tepat. "Itu karena aku masih terkejut saja karena Ibu tiba-tiba datang di belakangku," jawab Dahlia memberi alasan.


"Hahaha, putri Ibu ternyata sudah besar, kamu tidak perlu gugup seperti itu, Ibu juga pernah muda, lain kali jika dia kemari lagi kenalkan pada Ibu," kata Vega kemudian meninggalkan putrinya yang kini dibuat terperangah karena ucapannya.


Vega menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah putrinya yang takut jika dia akan memarahinya. Padahal Vega justru senang karena akhirnya putri satu-satunya itu memiliki kekasih, itulah yang ada dipikirannya.


Dahlia kini masuk ke dalam rumah, kemudian menuju ke kamar adiknya, lebih tepatnya sebuah gudang yang dijadikan kamar untuk adiknya.


Tok


Tok


"Lily buka pintunya ini Kakak!" Kata Dahlia sambil mengetuk pintu.


Tak lama Lily pun keluar, "Ada apa Kak?" Tanya Lily ketika sudah berhadapan dengan Kakaknya secara langsung.


"Tidak perlu khawatir, tadi Ibu pergi," ucap Dahlia yang melihat Lily melihat ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


Lily menghela nafas lega. Kemudian mempersilahkan Kakaknya masuk dan keduanya pun duduk di atas ranjang Lily yang keras.


"Ini ponselmu, tadi ketinggalan di mobil Kak Al," kata Dahlia menyerahkan ponsel milik adiknya itu.


"Ponsel baru?" Tanya Dahlia saat melihat jika ponsel itu bukan seperti milik adiknya sebelumnya.


Lily mengangguk, "Terima kasih, tapi tolong jangan beritahu Ibu soal ponsel ini, ponselku rusak dan aku meminjam uang temanku untuk membeli ponsel ini, untungnya temanku tidak keberatan jika aku membayarnya dengan dicicil," Lily menjelaskan dengan sedikit berbohong, karena dia tidak mungkin mengatakan jika ponsel itu adalah pemberian Jason.


Dahlia tersenyum dan mengangguk, "Kamu tenang saja, maafkan Kakak ini semua salah Kakak, andai saja Kakak tidak melanjutkan kuliah pasti kamu tidak akan kesulitan seperti ini," kata Dahlia menunduk.


"Terus apa rencanamu? Kalau tidak kamu istirahat saja dulu, kamu sudah bekerja keras selama ini, biar Kakak yang mencari solusinya," Dahlia mencoba menenangkan Lily.


"Aku tahu Kak, kalau kamu juga sama-sama berusaha, dan kamu juga sering mengalami kesulitan," kata Lily kemudian membuat Dahlia mengernyitkan dahinya bingung atas perkataan adiknya.


"Aku tahu kalau Kakak pulang terlambat karena Kakak juga pergi bekerja, dan Kakak selalu dimarahi oleh atasan Kakak," ucap Lily.


Dahlia terkejut karena adiknya tahu tentang hal itu. "Darimana kamu tahu?" Tanya Dahlia dengan tatapan menyelidik.


Dahlia menatap langit-langit kamar itu, "Kamu tahu sendiri, jika Kakak sejak kecil tidak pernah melakukan pekerjaan apapun, semua kamu yang melakukannya sendiri, seperti apa yang Ibu perintahkan, karena hal itu Kakak selalu salah dalam melakukan pekerjaan Kakak, ya karena itu atasan Kakak sering marah, karena Kakak banyak merugikan disana, baru kerja seminggu, lagi-lagi Kakak dipecat, dan itu pun tidak mendapat gaji karena dianggap untuk mengganti kerugian," Dahlia menceritakan tentang pengalamannya bekerja pada sang adik.


Lily menatap Dahlia prihatin, Lily hanya melihat beberapa kali saja Kakaknya ber


kerja di restoran, saat itu Lily tidak sengaja lewat di depan restoran itu, tiba-tiba ada pelayan yang menjatuhkan barang bawaannya membuat manager restoran itu marah, dan tidak tanggung-tanggung, dia bahkan memarahinya di depan para tamu, Lily memicingkan matanya melihat jika dia seperti mengenal orang itu, Lily mendekatkan wajahnya pada kaca untuk memastikan, dan betapa terkejutnya Lily saat apa yang dia lihat memang benar, orang yang tengah dimarahi itu adalah Kakaknya.


"Jangan menatap Kakak seperti itu, kamu tidak perlu khawatir, Kakak akan kembali mencari pekerjaan, dan Kakak yakin, Kakak akan segera mendapatkan pekerjaan itu," ucap Dahlia meyakinkan adiknya.


"Apa maksud kalian?" Tanya Vega yang tak sengaja mendengar ucapan Dahlia tadi.


"Bu.." ucap keduanya menatap sang Ibu yang kini menatap tajam ke arah Lily.


"Kenapa putriku harus mencari pekerjaan? Apa yang sebenarnya kau lakukan? Seharusnya kamu yang bekerja, jika gajimu di tempat sekarang kurang, kau bisa mencari pekerjaan sampingan" ketus Vega.

__ADS_1


"Bu, ini keinginan aku sendiri, jangan lagi salahkan Lily, jika Ibu terus seperti ini bagaimana aku bisa jadi mandiri," kata Dahlia membela adiknya.


"Kamu selalu saja membelanya, sekarang apa maksudmu saat mengatakan akan mencari pekerjaan? Jelaskan pada Ibu Lia!" Vega menuntut penjelasan pada putrinya itu.


"Aku dipecat Bu, dan aku belum kembali menemukan pekerjaan," jawab Lily dengan menunduk meremas bagian bawah kaos yang dikenakannya. Lily sudah siap mendengar kemarahan Ibunya.


***


Jason kini tiba di kediaman William Anderson, Tuan Mudanya tadi menelpon dirinya untuk menemani Alno karena mereka semua akan ke rumah sakit saat mendengar kabar jika Tiffa akhirnya sadarkan diri dari komanya. Jason ikut senang mendengar hal itu. Dan disinilah dia sekarang, di ruang keluarga menemani Alno bermain.


////


Sementara di tempat lain terlihat seorang gadis duduk dengan memeluk kedua lutut yang ditekuk.


Sang Ibu tahu jika dirinya dipecat dan saat ini dia adalah pengangguran. Lily dimarahi habis-habisan oleh Ibunya karena itu. 


Awalnya Lily ragu, tapi dia tidak punya pilihan lain, dia tidak sanggup menahan semua itu sendiri, dan dengan sedikit ragu Lily menelpon sahabatnya Jasmine.


"Halo Lily," jawab seseorang dari seberang telepon.


"Halo Mine kau ada dimana?" Tanya Lily dengan suara seraknya karena sehabis menangis.


"Aku di rumah sakit, kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Jasmine khawatir.


"Bisakah kita bertemu?" Tanya Lily pada sahabatnya.


"Iya nanti aku bilang ke suamiku dulu ya, nanti aku kabari lagi," jawab sahabatnya itu.


"Baiklah, jika tidak diperbolehkan suamimu tidak apa-apa, tidak perlu memaksa," kata Lily kemudian memutus panggilan setelah mendapat jawaban dari sahabatnya.


Tak lama ponsel Lily berbunyi, dilihatnya yang ternyata ada pesan masuk dari Jasmine, mengatakan agar mereka bertemu di kediaman William saja, dan Lily pun akhirnya menyetujui apa yang sahabatnya minta, apalagi saat sahabatnya mengatakan jika suaminya khawatir jika mereka bertemu di luar.

__ADS_1


"Kamu beruntung Mine mendapatkan suami seperti Tuan Muda Stevano," gumam Lily tersenyum setelah membalas pesan sahabatnya itu.


__ADS_2