Please Love Me

Please Love Me
Bab 260


__ADS_3

"Gimana Ale?" Tanya Dea yang sudah tidak sabar menunggu hasilnya.


"Ini Bu," Lily menyerahkan testpack yang menunjukkan garis dua.


"Selamat ya sayang," kata Dea ikut senang jika putrinya kini tengah hamil.


"Cepat kamu bersiap, kita ke rumah sakit sekarang," kata Dea yang kini mengambil ponselnya menghubungi Dian dokter kandungan, untuk menjadwalkan putrinya.


"Tapi Cinta Bu…"


"Kita bawa Cinta saja, nanti saat disana kita serahkan ke ayah kamu, Ibu yakin ayah kamu sudah selesai rapat," ujar  Dea yang sudah tidak sabar ingin tahu kondisi cucunya.


Dea sudah menduga jika Lily hamil, karena putrinya itu terus merasakan mual, apalagi saat melihat Lily yang terus meminta ini dan itu dan harus dituruti, jika tidak Lily akan menangis, membuat Jason kebingungan.


"Ya sudah kamu bersiap dulu, ibu juga akan bersiap," Dea keluar dari kamar putrinya menuju ke kamarnya sendiri membiarkan putrinya itu bersiap-siap. 


Lily berjalan ke arah ranjang dimana putrinya kini masih tidur, dia tersenyum dan mengecup pipi Cinta.


"Selamat ya Kak Cinta, Kak Cinta akan segera punya adik," ucap Lily pelan.


Cinta hanya menggeliat, tidak merasa terusik sama sekali.


Setelah memastikan agar Cinta aman di atas ranjang, Lily kemudian mengambil pakaian yang akan dipakainya dan menggantinya di tempat itu juga.


Lily mengambil ponsel dan mencoba menghubungi suaminya, tapi nomor suaminya justru tidak aktif, dan entah kenapa Lily menjadi kesal. Lily melemparkan ponselnya ke sofa.


Cinta terbangun dan menangis, kebiasaan anak itu jika disaat bangun tidak ada seorangpun di sampingnya.


"Ini Ibu sayang," kata Lily kemudian mengangkat tubuh Cinta menenangkannya.


"Bu...Ibu..huwa…"


"Ibu disini kok, Ibu tidak kemana-mana," ujar Lily mengelus lembut rambut putrinya.


"Tiba-tiba Dea masuk ke kamar, segera mengambil alih Cinta dari gendongan Lily.


"Sama Nenek saja ya, kasihan Ibu, di dalam perut Ibu ada dedek bayinya," kata Dea pada Cinta yang kini sudah terdiam.


"Sudah siap?"


Lily mengangguk.


"Ya sudah kamu duduk dulu ya,  biar Ibu bantu Cinta bersiap dulu," kata Dea yang kini membawa Cinta ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Setelah semuanya siap, kini mereka masuk ke dalam mobil. Dea segera melajukan mobilnya ke rumah sakit.


***


Jason setelah selesai melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya, kini terkejut saat melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari sang istri begitu melihat ponselnya, Jason tadi memang sengaja mensilentnya.


Jason berpamitan pada Stevano, dia harus segera menghubungi istrinya balik. Apalagi mengingat mood istrinya yang naik turun belakangan ini, Jason yakin jika Lily pasti saat ini merajuk karena dirinya tidak menjawab panggilan teleponnya. Tapi beberapa kali Jason menghubungi Lily, istrinya itu tidak juga menjawab panggilan darinya. Dia mencoba dan mencoba lagi, hingga tepukan di bahunya, membuat dirinya menoleh.


"Ayo kita kembali!" Ucap Stevano lalu meninggalkan Jason berjalan lebih dulu.


Jason menarik nafas, kemudian memasukkan ponselnya, lalu segera menyusul Stevano, walau sebenarnya hatinya masih belum tenang jika belum berbicara dengan istrinya.


Jason masuk ke dalam mobil dan mengendarainya kembali ke kantor. Tapi tiba-tiba…


Citt..


Jason buru-buru mengerem mobil saat mendadak melihat ada kucing yang lewat.


"Maaf Tuan! Tuan tidak apa-apa kan?" Tanya Jason melihat ke sampingnya, dimana Stevano duduk.


"Aku baik-baik saja, ada apa?"


"Hah?"


"Tidak ada apa-apa Tuan."


"Pulanglah setelah ini, aku yang akan menyelesaikan semuanya, beberapa hari ini kamu juga sangat sibuk dan belum istirahat cukup," ujar Stevano mengalihkan pandangan.


"Tidak perlu Tuan, saya…"


"Kamu bisa bertemu dengan anak istrimu tidak senang?"


"Tentu saja senang Tuan, tapi…"


"Ya sudah jika tidak mau, habis ini kamu…"


"Tidak Tuan, saya mau, sangat mau, terima kasih." Ucap Jason senang.


"Tidak perlu berlebihan," jawab Stevano kemudian keduanya kini keduanya sama-sama diam. 


Stevano melirik Jason dan menarik sudut bibirnya ke atas saat melihat pria itu kini terus tersenyum sepanjang jalan.


Jason kembali melajukan mobilnya ke kantor, dan setelah memastikan Tuannya telah sampai dengan selamat, kini Jason segera mengendarai mobilnya agar secepatnya sampai ke rumah, pria itu sudah tidak sabar lagi untuk bertemu istrinya, bersiap untuk membujuk sang istri yang mungkin saja merajuk.

__ADS_1


Sampai di rumah, Jason memarkirkan mobilnya asal, dia segera masuk, tapi dirinya mengernyit saat melihat keadaan rumah begitu sepi. Biasanya Jason langsung mendengar suara putrinya. Jason menuju ke dapur, menanyakan kepada orang rumah, menanyakan tentang keberadaan sang istri. Jason menghela nafas saat tahu dari pelayan bahwa kini Lily sedang pergi bersama ibu dan anak mereka.


*


*


Hari berganti hari, kini pernikahan Liora dan Ronald semakin dekat, bahkan kini keduanya sama-sama sibuk untuk mengurus segala keperluan untuk pernikahan mereka, seperti sekarang ini contohnya, kini keduanya sedang berada di sebuah toko perhiasan, untuk mengambil cincin yang sebelumnya Ronald telah pesan. Mereka juga telah mengecek kembali gedung yang akan dijadikan tempat acara, tak ingin ada kendala di saat hari H.


"Lelah?" Tanya Ronald memberikan sebotol air untuk Liora yang kini duduk di dalam mobil, setelah seharian mereka begitu sibuk kesana kemari.


"Hmm."


"Sabar sebentar lagi, semuanya selesai," ucap Ronald yang kini mulai melajukan mobilnya.


"Oh ya Ayah jadi besok datangnya?" 


"Iya, jadi pagi-pagi, aku harus menjemput, kamu tidak apa-apa kan berangkat sendiri?" Tanya Ronald menoleh menatap gadisnya.


"Tidak apa-apa, dan lagi apa kamu tidak ingat, sebelum bersamamu aku juga biasa melakukan apapun dan kemanapun sendiri. Tapi apa aku ijin saja ya, aku ingin ikut menjemput ayah," kata Liora setelah memikirkan hal itu.


"Itu lebih bagus," jawab Ronald tersenyum senang, saat gadisnya itu memutuskan seperti itu.


"Tapi tidak deh, lagian aku bekerja juga tinggal beberapa hari lagi, masa mau izin terus, hari ini saja sudah izin," Liora segera mengubah keputusannya membuat senyuman di wajah Ronald luntur seketika.


"Ya tidak apa-apa, aku yakin Ibu Liana pasti akan mengerti."


"Ya, Ibu memang mengerti tapi aku tidak enak sama yang lain, nanti takutnya malah Ibu lagi yang dibilang pilih kasih. Bagaimanapun disana aku sama seperti pekerja lainnya."


"Baiklah terserah kamu saja," kata Ronald mengacak rambut Liora.


"Ronald berantakan tahu."


Ronald hanya terkekeh mendengar protes calon istrinya.


"Maaf, maaf,.sudah jangan cemberut gitu dong nanti aku cium loh."


Liora semakin kesal mendengar ucapan calon suaminya itu, Liora tahu itu hanya candaan Ronald, karena sejauh ini Ronald tidak akan menciumnya, hanya sebatas mencium kening dan pipi. 


"Kita mau sekalian makan di luar dulu atau mau makan di rumah?" Tanya Ronald begitu melewati sebuah restoran.


"Hmm di rumah saja, Mami bilang sudah memasak makanan kesukaan calon menantunya."


"Benarkah? Wah senangnya, mami emang yang terbaik." Ucap Ronald senang.

__ADS_1


Keduanya lalu mengobrol, sambil Ronald melajukan mobil ke kediaman William.


__ADS_2