Please Love Me

Please Love Me
Bab 265


__ADS_3

Ronald diam mengamati wanita yang berdiri di hadapannya. Sementara wanita itu hanya diam menunduk, dirinya juga sama terkejutnya dengan Ronald.


"Ehem!" Liora berdehem memecah keheningan.


"Bibi, apa Bibi akan terus di pintu menghalangi kita untuk masuk?" Tanya Liora membuat wanita itu langsung menatap  wajah Liora.


"Ah maaf El, ayo silahkan masuk! Bagaimana mungkin Bibi menghalangi kamu masuk, kamu lah pemilik rumah ini," ucap wanita itu setenang mungkin, walaupun sebenarnya jantungnya berdebar kencang apalagi saat menatap Ronald.


"Bi, ini kenalkan, dia Ronald calon suamiku," ujar Liora memperkenalkan Ronald pada wanita itu.


"Calon suami?" Gumam wanita itu yang kemudian memilih mengangguk, dia ingin memperkenalkan dirinya tapi takut jika Ronald tidak akan mengakuinya, bagaimanapun dia pantas mendapatkan itu, mengingat kesalahan yang telah dia perbuat dimasa lalu.


"Ayo kita masuk!" Liora merangkul lengan Ronald dan berjalan masuk.


"Sejak kapan Anda disini?" 


Langkah wanita itu terhenti, dirinya meremas jari-jarinya. Liora juga ikut berhenti, melepaskan rangkulan tangannya dan menoleh menatap Ronald.


"Jika kamu memang ingin ibu pergi dari sini, ibu akan pergi sekarang juga," wanita itu berbalik dan hendak pergi.


Wanita itu terkejut saat tiba-tiba merasa ada seseorang yang menahan tangannya.


"Apa setelah datang, ibu akan pergi lagi? Apakah sebegitunya ibu tidak ingin melihatku, hingga terus saja mencoba untuk lari ? Apa ibu tidak ingin bertahan dan memperbaiki kesalahan yang telah Ibu buat padaku dan ayah?"


Wanita itu berbalik badan dan memandangi Ronald tak percaya.


"Tidak, bukan seperti itu, Ibu hanya takut kamu semakin membenci Ibu jika ibu tetap disini," jawab wanita itu lirih.


"Iya aku memang marah, kecewa, aku ingin benci tapi aku tidak bisa. Sekarang jawab aku Bu, apa Ibu akan tetap memilih untuk pergi lagi?"


"Kenapa diam saja, jawab Bu!" Ronald menatap wanita yang dipanggilnya ibu dengan mata berkaca-kaca.


"Apa bisa kamu ulangi lagi Nak, kamu tadi memanggilku apa?"


"Apa kurang jelas?" Ronald menghapus air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya.


"Apa Ibu boleh memelukmu?" Tanya wanita itu, tapi dirinya merasa kecewa karena tidak mendapat jawaban dari Ronald.


Tapi tiba-tiba senyum terukir di bibirnya saat sepasang tangan kini telah mendekapnya erat.


"Maafkan Ibu, maafkan Ibu, Ibu menyesal meninggalkan kalian," ucap wanita itu menangis sesenggukan.


Liora tersenyum menatap kedua orang di depannya. Dia teringat cerita Ronald yang begitu merindukan ibunya dan ingin segera bertemu, hingga Liora pun memutuskan  untuk mempertemukan mereka.


"Maafkan Ibu, Ronald, Ibu waktu itu…"

__ADS_1


"Yang lalu biarlah berlalu yang terpenting sekarang ibu sudah menyesal dan ingin memperbaiki kesalahan ibu."


Wanita itu mengangguk senang, "Iya Ronald, Ibu janji, ibu akan berubah, ibu tidak akan mengulangi hal itu lagi, ibu sudah mendapatkan semua balasan atas perbuatan ibu, ibu akan tetap disini dan memperbaiki semuanya."


"Ehem!" Liora berdehem membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya.


Ronald kemudian menatap Liora bergantian dengan ibunya, "jadi selama ini Ibu tinggal bersama kamu El?"


"Hmm baru sebulan ini."


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"


"Bukankah sekarang aku sudah memberitahumu dan lagi aku hanya mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan kalian. Kamu tahu sendiri kan kita sangat sibuk kemarin-kemarin."


Ronald menghampiri Liora dan memeluknya, "Makasih, karena sudah menjaga ibuku, memberinya tempat tinggal juga mempertemukan kami."


"Sama-sama, bagaimanapun sebentar lagi ibumu juga akan menjadi ibuku, benar begitu Bi?" Tanya Liora menatap wanita yang kini tersenyum menatapnya dan Ronald yang tengah berpelukan.


Ronald melepas pelukan, dan mengikuti arah pandang calon istrinya. Dimana sang ibu kini mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya itu.


"Jika seperti itu, harusnya kamu juga memanggil Ibu seperti Ronald memanggil, bukankah begitu Ronald?"


"Ya benar apa yang ibu katakan,"


"Baik Bu," ucap Liora dan ketiganya kemudian tertawa.


"Iya Bu, aku sudah sangat lapar," Liora menarik Ronald menuju ke meja makan, di atasnya sudah tersedia beberapa makanan yang tampaknya sudah siap untuk di lahap.


"Ayo by, kita mulai makan!" Liora mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk Ronald, kemudian gadis itu pun mengambil untuk  calon ibu mertuanya dan dirinya sendiri.


"Ayo cepat makan keburu dingin!" Ucap Ibu Ronald.


Ronald hanya mengangguk dan menatap ragu makanan di hadapannya.


"Ayo by makan!" Kata Liora hingga Ronald pun terpaksa memasukkan makanan yang sudah dia sendok dan melahapnya.


Ekspresi wajah Ronald langsung berubah, dengan perlahan Ronald mengunyah makanan itu dan susah payah menelannya.


"Bagaimana? Enak?" Tanya Liora.


Dan Ronald mengangguk kaku.


"Kamu juga harus makan dan coba masakan ibu yang enak ini," kata Ronald menyuapkan ke mulut Liora.


Mata Liora melotot begitu menerima suapan itu, sementara Ronald tersenyum memyeringai, saat melihat ekspresi wajah Liora saat ini.

__ADS_1


"Ayo habiskan semuanya!" Ucap Ibu Ronald kembali menambahkan makanan ke dalam piring mereka berdua.


"Ibu tidak makan?"


"Tidak, Ibu khusus memasak untuk kalian," dan jawaban ibu Ronald sontak membuat Liora dan Ronald tersenyum paksa sambil saling menatap, kemudian kembali melanjutkan menghabiskan makanan mereka, berharap agar cepat habis.


"Mau tambah lagi?" Tanya Ibu Ronald begitu melihat makanan di atas meja kini habis tak tersisa.


"Tidak!" Teriak  keduanya kompak sambil melambaikan kedua tangan di depan dada.


"Masih ada…"


"Tidak Bu, kami sudah kenyang." Lagi- lagi keduanya berucap bersamaan.


"Tidak kok Ibu hanya bercanda, makanannya sudah habis, tidak ada lagi, hanya itu saja.


Mendengar itu membuat Ronald dan Liora akhirnya bisa bernafas lega.


"Sebenarnya Ibu belum bisa memasak sampai sekarang," aku Ibu Ronald, Liora dan Ronald shock mendengar pengakuan wanita itu. Kenapa tidak sedari tadi  saja, bukankah dengan begitu mereka tidak harus menghabiskan makanan yang rasanya aneh itu.


"Masakan Ibu tadi sebenarnya tidak enak kan?"


Ronald pun akhirnya mengangguk, mengakui bahwa ucapan ibunya benar.


"Maaf, lain kali ibu akan belajar lagi," ucapnya menunduk merasa bersalah karena membuat Liora dan Ronald harus menghabiskan makanan hasil masakannya.


"Tidak apa-apa Bu, sama kok El juga tidak bisa memasak kok," kata Liora meraih tangan calon ibu mertuanya dan menggenggamnya erat.


"Dan El beruntung mendapatkan Ronald karena dia bisa memasak, hingga Liora pun tidak perlu turun langsung ke dapur.


Ronald hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan calon istrinya. Kemudian tersenyum melihat interaksi antara Liora dan ibunya, yang membuat perasaan Ronald menghangat.


"Oh iya, setelah ini Ibu ikut kami ya?" Kata Liora yang membuat Ronald langsung melihat ke arah gadis itu, padahal tadi Liora tidak mengatakan apapun, tapi sekarang dia mengajak ibunya tiba-tiba.


"Hmm ibu tidak ikut, Ibu disini saja."


"Tidak, pokoknya ibu harus ikut! Biar El saja Bu, lebih baik Ibu berdandan yang cantim sekarang" Liora bangun kemudian membawa piring bekas makan mereka dan langsung mencucinya.


"Aku bantu El dulu," ujar Ronald menyusul Liora.


"Ibu buruan siap-siap dulu, nanti habis El mencuci ini kita langsung berangkat."


"Tapi…"


"Cepat Bu!" 

__ADS_1


Dan dengan terpaksa ibu Ronald pun menuruti ucapan Liora. Dan benar setelah selesai membereskan semuanya, ketiga orang itu pun kini naik mobil menuju butik. Liora ingin ibunya juga mencoba pakaian yang sudah di siapkannya.


Begitu sampai di butik, ketiga orang itu segera turun. Liora merangkul lengan calon ibu mertuanya mengajaknya masuk. Dan tidak disangka ternyata Mike juga ada di sana, pria itu langsung menoleh dan menatap mantan istrinya yang kini hanya diam menunduk tidak berani menatap pria yang pernah disakitinya itu.


__ADS_2