
Lily menatap putrinya yang tengah membawa entah apa bolak balik, bahkan putrinya terlihat tidak baik-baik saja. Langkahnya teramat pelan sesekali menghapus keringatnya yang sepertinya mengalir cukup deras, membuat Lily yakin jika yang dibawa putrinya tidaklah ringan. Memang putrinya melakukan hal itu bersama dengan Alno dan Ian, tetap saja Lily khawatir, bagaimanapun Cinta adalah anak perempuan. Pandangan Lily kini teralihkan pada pelayan yang tadi menunjukkan dimana keberadaan Cinta dengan sorot mata tak terbaca.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Lily menunjuk pada anak-anak di bawah sana.
"Be...berlatih Nyonya." Pelayan yang mendengar nada ketus Lily saat berbicara membuatnya merasa gugup.
"Berlatih?"
Pelayan itu hanya mengangguk. Lily kemudian berbalik, saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
Wajahnya menatap suaminya garang. Tapi Jason dengan santainya tetap melangkahkan kaki mendekat. Jason memberi isyarat pada pelayan untuk meninggalkan mereka berdua yang tentunya langsung dilaksanakan.
Jason mendekat lalu merangkul bahu istrinya, menatap di bawah sana bersama.
"Ini ternyata yang membuatmu melarang aku untuk ikut."
"Hmm, jika kamu tahu sejak awal kamu pasti akan melarangnya."
"Jelas saja, Cinta anak perempuan dan lihatlah!" Mata Lily melotot saat satu diantara pria yang di bawah sana, memaksa Cinta untuk berdiri saat Cinta jatuh tersungkur.
"Apa yang dia lakukan pada putriku, aku harus kesana, akan aku beri dia pelajaran karena telah memperlakukan putriku seperti itu."
"Putri kita," ucap Jason meralat ucapan istrinya mencegah sang istri yang akan menghampiri putri mereka.
Lily melirik sinis suaminya, "Putri kita? Kamu bahkan tega membiarkan Cinta seperti itu?"
"Sayang dengarkan penjelasanku dulu, ayo kita duduk!"
Jason mengajak Lily mencari tempat duduk, dia akui, dirinya salah karena tidak meminta izin lebih dulu pada istrinya mengenai Cinta, bukan tanpa alasan Jason melakukan hal itu, Jason tahu, istrinya pasti akan bersikap seperti ini, tidak lebih tepatnya jika Lily tahu sejak awal, Lily pasti akan melarang mereka pergi.
"Katakan!" Lily melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Jason dengan tatapan tajam saat mereka kini duduk di sebuah bangku berhadap-hadapan.
"Maaf karena sebelumnya tidak memberitahumu, tapi aku melakukan ini juga demi Cinta, aku ingin anak-anak perempuanku bisa menjaga dirinya sendiri kelak, mereka harus bisa beladiri sayang, aku tidak bisa setiap saat ada di dekat kalian, setidaknya jika aku memberi latihan pada Cinta sejak dini, dia akan cepat menguasainya, selain untuk menjaga dirinya sendiri, Cinta juga bisa melindungi kalian, kamu dan adik-adiknya. Jadi aku mohon, biarkan Cinta terus berlatih."
Lily menatap suaminya, apa yang suaminya katakan memang benar, Cinta perlu bisa menjaga dirinya sendiri, tapi saat melihat bagaimana Cinta berlatih, rasanya Lily tidak tega, bagaimanapun Cinta adalah anak perempuan, putrinya, bagaimana jika dia terluka saat berlatih, meninggalkan bekas, tidak, tidak, jangan sampai hal itu terjadi.
"Tetap saja aku tidak setuju."
"Sayang!"
__ADS_1
"Kita ajak Cinta pulang sekarang!" Tegas Lily, wanita itu langsung bangkit dan berjalan lebih dulu.
Lily menoleh saat Jason tidak bergerak sama sekali.
"Kalau kamu tidak mau pulang sekarang, aku akan pulang dulu, aku bersama sopir dan kamu tidak perlu khawatir, dan Cinta, aku akan membawanya."
Setelah mengatakan itu, Lily pun segera pergi meninggalkan Jason yang masih terdiam.
Pria itu mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu.
"Kamu hati-hati pulangnya, aku masih ada pekerjaan, jika sudah selesai aku akan secepatnya pulang."
Setelah mengetikan itu, Jason berdiri pergi dari ruangan itu, untuk menemui Stevano kembali membicarakan pekerjaannya. Tak lupa Jason juga mengirim pesan pada sopir ayah mertuanya untuk berhati-hati mengemudi, dan menjaga anak istrinya, serta mengabari Jason jika mereka sudah sampai di rumah.
*
*
"Ibu kenapa?"
Cinta yang sedari tadi diam saja, akhirnya bersuara karena melihat ibunya yang hanya diam membisu tidak mengatakan sepatah kata pun, begitu mereka tadi masuk mobil, sungguh bukan seperti ibunya yang biasa, itu yang Cinta pikirkan.
"Ibu tidak apa-apa," jawabnya.
"Kenapa ayah tidak ikut pulang bersama kita? Ibu tidak marah kan sama ayah gara-gara Cinta yang berlatih?"
Lily memperhatikan wajah putrinya yang tampak kekhawatiran disana.
"Tidak, ibu tidak marah kok," Lily tersenyum lagi, agar putrinya yakin.
Cinta kemudian menatap lurus ke depan.
"Ibu pasti marah sama ayah."
Lily memandangi putrinya yang kini menekuk wajahnya.
"Ayah benar ibu, Cinta harus belajar, biar nanti saat Cinta uda besar bisa jaga Ibu juga adik-adik, Cinta setuju makanya kita pergi ke rumah paman Vano dan berlatih disana, karena kebetulan Kak Alno juga belajar. Cinta senang kok, jadi bisa belajar banyak."
"Tapi ibu takut kamu nanti terluka sayang, lalu luka itu berbekas, kamu anak perempuan, kamu harus menjaga kulitmu agar tidak mempunyai bekas luka apapun itu."
__ADS_1
"Tapi Cinta ingin bu, Cinta suka belajar beladiri."
"Tidak boleh sayang, pokoknya ibu tidak akan mengizinkan," ucap Lily tetap kekeh.
Cinta memanyunkan bibirnya, menatap keluar jendela.
Lily menghela nafas melihat wajah sedih putrinya, tapi Lily tidak punya pilihan lain, dia tidak ingin putrinya itu kenapa-napa.
Kini hanya keheningan yang ada di mobil menyertai perjalanan mereka. Ibu dan anak itu sama-sama terdiam, Lily sibuk dengan pikirannya, sementara Cinta diam karena kesal pada Lily yang tidak mengizinkannya berlatih.
Menempuh hampir satu jam perjalanan kini mobil yang membawa Lily sudah sampai di halaman rumah. Cinta dengan cepat membuka pintu dan berlari masuk tanpa menunggu Lily.
"Cinta kenapa?"
Lily menoleh ke arah ibunya.
"Ibu darimana?" Tanya Lily kemudian pandangannya beralih pada putri kecilnya yang tengah membawa keranjang berisi buah. Tanpa ibunya menjawab Lily tahu darimana ibunya tadi.
"Ngambek sepertinya Bu."
"Ngambek?"
"Hmm gara-gara Ale ajakin pulang dulu."
"Loh kamu tidak bersama Jason?" Tanya Dea yang tidak juga melihat keberadaan Jason bersama putrinya.
"Tidak bu, Suami Ale, tadi ada pekerjaan dengan Tuan Stevano, makanya Ale ajak Cinta pulang duluan, kasihan juga kan jika disana, sementara ayahnya malah sibuk."
Dea manggut-manggut mengerti.
"Ya sudah ayo masuk!" Ajaknya pada sang putri.
Lily mengangguk, menunduk dan mengelus rambut Uli.
"Wah Uli habis panen buah, nanti ibu sama kak Cinta dibagi ya sayang," kata Lily sambil berjalan bersama menggandeng Aulia, sementara Dea berada di belakang keduanya.
"Iya ibu sama adek dalam perut juga nanti Uli bagi, hmm kalau gitu Uli mau panggil kak Cinta dulu, biar kita makan sama-sama."
Lily tersenyum dan mengangguk, membiarkan Uli memanggil kakaknya, berharap Cinta akan langsung mau jika adiknya yang membujuk untuk turun.
__ADS_1