Please Love Me

Please Love Me
Bab 154


__ADS_3

"Kak!" Kini Lily menatap serius kakaknya.


"Hmm ada apa? Jangan menatap Kakak seperti itu, kau membuatku takut saja," ucap Dahlia yang melihat bagaimana tatapan adiknya.


"Bagaimana hubungan Kakak dan Kak Al? Apa sudah ada kemajuan?" Tanya Lily begitu penasaran.


"Lily, bukannya tadi Kakak sudah bilang, jika Kakak tidak mau membahas hal itu," ucap Dahlia dengan tatapan sendu.


Tanpa mendapat jawaban, Lily pun tahu bagaimana hubungan kedua kakaknya, Lily mendekatkan duduknya dengan sang kakak, dan menggenggam tangannya.


"Kak jika Kak Al memang susah Kakak dapatkan lebih baik Kakak menyerah saja, bukan aku membuat kakak pesimis, tapi Kak, aku tidak ingin Kak Dahlia terluka lebih dalam. Aku dulu pernah merasakannya, merasakan jika perasaanku hanya cinta sepihak, aku berusaha tapi aku gagal, bahkan dia juga menegaskan bahwa dia tidak mungkin mencintaiku, dan saat itu aku menyerah, awalnya saat bersamanya aku merasa sakit, tapi saat tidak bersamanya ternyata rasanya jauh lebih sakit, tapi aku terus berusaha melupakannya. Tapi Kak, apa Kakak tahu, saat aku menyerah, justru dia yang datang padaku, bukankah itu lucu?" Kata Lily mengingat dirinya bersama Jason dulu.


"Menyerah," Dahlia tersenyum mengatakan itu.


"Kakak juga ingin sekali menyerah, sudah cukup Kakak memendam rasa, hingga Kakak akhirnya bisa memberanikan diri untuk menyatakan perasaan Kakak, tapi apa Kakak mendapat penolakan saat itu, tapi ada yang lebih sakit dari kata penolakan itu, dia bilang dia masih mencintaimu, ah rasanya Kakak sudah jatuh, tapi kembali dihempaskan hingga sampai dasar, bukankah itu menyakitkan, Kakak lelah dengan perasaan yang Kakak miliki untuknya, Kakak ingin menyerah, tapi nyatanya Kakak tidak bisa, sekuat tenaga Kakak berusaha untuk melupakannya, tapi Kakak justru semakin terus memikirkannya, benar apa yang kamu katakan, bahwa semua ini begitu lucu," Dahlia menertawakan dirinya sendiri.


Lily membaringkan tubuhnya di gazebo, melipat kedua tangan dan menjadikannya sebagai bantalan "Kenapa kisah percintaan kita sama ya Kak? Aku dan Kakak sama-sama mencintai seorang pria yang sudah mencintai gadis lain, kita bahkan ditolak dengan alasan yang sama," ucap Lily tersenyum miris.


"Ya kau benar, tapi kamu beruntung, setidaknya pada akhirnya perasaanmu terbalaskan bahkan sampai kalian menikah dan bahagia. Tapi Kakak, hmm jangan perasaan Kakak terbalaskan, kakakmu itu justru selalu menghindar dari kakak," ucap Dahlia yang ikut berbaring di samping adiknya dengan posisi yang sama. Keduanya saling tatap dan kemudian  tertawa bersama entah menertawakan apa. Kemudian baik Lily dan Dahlia kembali melihat ke atas.


"Bagaimana keadaan Ibu sejak kejadian saat itu?" Tanya Lily membuat Dahlia langsung menoleh ke arahnya.


"Kamu tahu?" 


"Hmm suamiku yang menceritakannya."


"Oh," Dahlia sudah mengira.


"Hmm Ibu tidak baik-baik saja, tiap hari dia menangis terlebih karena dia tidak mempercayai ayah, Ibu menangis karena meragukan perasaan cinta ayah, ibu menangis karena sudah menuduh ibu kandungmu, sedangkan ibu kandungmu adalah seseorang yang secara tidak langsung menyelamatkan nyawa Ibu dan ibu menangis karena sempat membencimu padahal kamu tidak tahu apa-apa, bahkan kamu tidak bersalah sedikitpun, ibu juga begitu takut kamu akan membenci ibu setelah tahu kebenarannya.

__ADS_1


"Tidak Kak, aku sama sekali tidak membenci ibu, kenapa ibu berpikir seperti itu? Aku sangat menyayangi ibu."


"Iya Kakak tau, Kakak juga bilang seperti itu sama ibu."


"Syukurlah, makasih ya Kak," Lily kemudian memeluk kakaknya.


Dahlia balas memeluk Lily, mereka berbaring dengan berpelukan sampai akhirnya tertidur, karena merasa tenang terkena hembusan angin yang menyejukkan.


*


*


"Sayang!" Jason memanggil-manggil Lily yang tidak ada di kamarnya. Sepulang dari kantor, Jason tadi langsung ke kamar, karena dia kira istrinya ada disana. Sebab, di bawah dia tidak menemukan istrinya dimanapun, termasuk di dalam rumah dan juga di dekat kolam renang.


Dan ternyata di kamar juga kosong, tidak ada tanda-tanda jika istrinya ada di dalam. Jason menaruh Jas dan tas kerjanya di sofa, kemudian Jason yang tidak menemukan istrinya, segera turun dan  kembali mencarinya.


"Berisik!" Kata Al yang ternyata juga ada di rumah, dan baru keluar dari kamarnya.


"Tidak aku baru saja pulang untuk mengambil ini," Al menunjukkan pada Jason barang yang baru saja diambilnya.


"Coba kau telpon dia!" Ucap Al memberi saran.


Jason pun dengan segera menelpon ponsel istrinya, tapi bunyi ponsel terdengar dari dalam kamar. Jason kembali masuk dan mengambil ponsel istrinya.


"Tidak dibawa," jawab Jason lesu.


"Kalian bertengkar?" Tanya Al takut jika adiknya pergi karena bertengkar dengan suaminya.


"Tidak, tadi pagi semua juga baik-baik saja, Lily tidak biasanya seperti ini, dia kalau mau pergi pasti meminta izin dulu," jawab Jason sambil menekan nomor ponsel Dahlia, barangkali istrinya bersama dengan gadis itu, tetapi nomor Dahlia tidak aktif dan hal itu membuat Jason semakin gusar.

__ADS_1


"Kamu sudah cari ke sekeliling rumah ini?" Tanya Al kepada adik iparnya itu.


"Sudah tadi sebelum ke atas, makanya aku kira dia ada di kamar, tapi ternyata di kamar pun juga tidak ada," jelas Jason.


"Ya sudah kita cari lagi, aku bantu kamu cari dulu," kat Al menawarkan diri.


Mereka berdua pun turun dengan cepat, dan mencari ke seluruh ruangan dalam rumah tapi tidak ada, hingga mereka pun berpapasan dengan Alan yang baru saja masuk.


"Ayah darimana?" Tanya Al yang melihat ayahnya terlebih dahulu. Kemudian Jason yang baru melihat kedatangan ayah mertuanya pun menghampiri keduanya.


"Ayah tadi habis jalan-jalan sebentar di taman, kenapa? Kenapa kalian terlihat panik seperti itu?" Tanya Alan yang melihat wajah anak dan menantunya jelas terlihat jika mereka berdua sedang panik.


"Ale tidak ada dimana-mana Yah, apa dia bersama Ayah, atau mungkin ikut dengan Ayah?" Kali ini Jason lah yang bertanya.


"Ale tidak ikut sama Ayah, tapi tadi Ale memang bersama Ayah, kami…"


"Ada dimana Yah?" Tanya Al dan Jason bersamaan.


Tanpa menjawab pertanyaan keduanya, Alan langsung berjalan begitu saja menuju ke tempat dimana tadi dia dan putrinya berbincang.


Alan dan Jason pun mengikuti kemana Ayahnya melangkahkan kakinya. Hingga ketiganya pun sampai di gazebo di belakang rumah. Dan ketiga merasa lega saat melihat Lily ada disana tertidur tapi tidak sendiri, dia bersama dengan kakaknya.


"Ayah tahu kalau Dahlia ada disini?" Tanya Al pada Ayahnya.


"Tidak, mungkin Dahlia kesini pas waktu Ayah sudah keluar rumah, makanya kita tidak berpapasan," ujar Alan yang memang tidak tahu jika Dahlia datang.


Jason mendekat dan mengangkat tubuh istrinya, untungnya mereka sudah tidak dengan posisi berpelukan lagi, hingga itu lebih mempermudah Jason.


"Aku bawa Ale ke kamar dulu Yah," kata Jason berpamitan pada mertuanya, kemudian dirinya melangkah pergi tapi sebelum itu Jason sempat berbisik pada Al.

__ADS_1


"Jangan bangunkan dia! Langsung gendong saja dia ke kamar!" Ucapnya lalu segera berlalu.


__ADS_2