
Jason meraup wajahnya kasar, saat melihat taxi yang ditumpangi istrinya kini melaju. Jason menghela nafas panjang, kemudian kembali melajukan mobilnya sambil menghubungi Stevano, dia ingin izin pulang lebih awal hari ini. Stevano mengizinkannya, tapi sebelum itu, meminta Jason untuk datang ke rumahnya terlebih dahulu, memintanya mengambil kue yang sudah Jasmine buatkan untuk Aulia, putri Jason yang hari ini berulang tahun.
Jason segera memutar balik mobilnya, menuju kediaman Tuan Muda nya.
Setengah jam perjalanan akhirnya dirinya sampai, Jason yang memang sudah terbiasa kesana, langsung melenggang masuk begitu saja.
"Tuan Muda," sapa Jason yang melihat Stevano sedang duduk di ruang tamu, bersama dengan Alno, Vier dan Vian, ketiga putra Tuan nya, sedang menonton televisi.
"Duduklah!" Pinta Stevano.
Jason segera menuruti perintah Stevano, duduk di sebelah Vian.
"Alno, tolong bilang ke mama, ayah sudah datang," pinta Stevano pada putra tertuanya.
"Iya pa, tunggu ya yah" jawab anak itu, dengan sigap turun dari sofa.
"Ikut kak!" Kata Vier yang ikut turun dan Vian pun melakukan hal yang sama mengikuti kedua kakaknya. Ketiga putra Stevano itu terlihat begitu kompak.
Dan berakhir ketiga putra Stevano pun, pergi ke dapur mengatakan kepada mamanya jika ayah nya itu sudah datang. Ya, ketiganya memanggil Jason dan Lily, ayah dan ibu, mengikuti Cinta.
Jason hanya diam, orangnya memang ada di tempat itu, tapi tidak tahu dimana pikirannya, karena beberapa kali Stevano memanggilnya, Jason sama sekali tidak merespon.
"Ada masalah?"
Tepukan di paha, serta pertanyaan Tuan nya membuyarkan lamunannya.
Jason menggeleng, tapi hal itu sepertinya tidak membuat Stevano percaya terbukti karena pria itu kembali bertanya pada Jason.
__ADS_1
"Kau pikir aku baru mengenalmu? Katakan ada apa, masalah jangan dipendam sendiri, barangkali aku bisa memberikan solusi."
Jason menatap Stevano, ragu, untuk menceritakan atau tidak. Tapi akhirnya Jason pun menceritakan apa yang terjadi dengannya. Dimana dia yang belakangan ini, tidak lagi mendapat perhatian dari istrinya, bahkan tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengan istrinya, saat Jason mengutarakan niatannya untuk pergi berdua dengan Lily, istrinya itu justru menolak.
"Kau tau, jika kita sudah memiliki anak, maka saingan kita adalah anak kita sendiri, karena istri kita pasti lebih mengutamakan anak daripada kita. Dan itu sudah sangat jelas, karena apa? Karena kita bisa melakukan semua sendiri, sedangkan anak kita? Mereka tidak mungkin bisa melakukan semuanya sendiri, dia pasti sangat butuh ibunya. Dan kita memang harus mengalah. Kamu butuh perhatian? Kau pikir anakmu tidak? Kau sudah dewasa, sementara mereka masih anak-anak.
"Dan yang butuh diperhatikan bukan cuma kamu, tapi istri kamu juga, seharian dia mengurus semuanya, keperluan anak-anak, keperluanmu juga," sahut Jasmine yang tiba-tiba saja bergabung dengan kedua pria itu.
"Benarkan Lily masih menyiapkan segala keperluanmu?"
Jason mengangguk mengiyakan.
"Itu kamu masih diperhatikan. Lalu kurangnya? Waktu berdua? Ya kan maklum saja, anak-anak kalian juga masih kecil, apalagi masih aktif-aktifnya." Tambah Jasmine lagi.
"Dan setelah semua apa yang dilakukan Lily, justru kamu mengeluh dan bilang kurang perhatian? Justru sebaliknya, Lily yang butuh perhatian dari kamu. Pagi-pagi, dia menyiapkan keperluan kamu berangkat ke kantor, lalu memasak untuk kalian, membangunkan anak-anak, membantu Cinta bersiap sekolah, setelah Cinta berangkat, mengurus Aulia, membuatkanmu makan siang dan meminta sopir mengantarkan ke kantormu. Dia menjemput Cinta, dan masih banyak yang dia lakukan sambil menunggu kamu pulang, bisa dibilang, tidak ada hentinya. Dan kamu pikir hanya kamu yang butuh perhatian? Lily juga butuh, karena dia bahkan tidak bisa punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri."
"Ada saatnya kok, kalian bisa punya waktu berdua, yang pertama, asal kalian saling mengerti satu sama lain saja, saling bahu membahu, dan mencari bersama waktu luang untuk kalian habiskan," tambah Jasmine lagi.
"Terima kasih, aku mengerti, aku pulang dulu!" Jason segera bangkit dari duduknya lalu berpamitan.
"Ini jangan lupa!" Kata Jasmine memberikan paper bag berisi kue untuk putri Jason.
"Terima kasih Nyonya," kata Jason mengangkat paper bag yang ada di tangannya.
Jasmine mengangguk, kemudian sepasang suami istri itu, mengantarkan Jason keluar. Jason segera masuk ke mobil, membuka kaca dan mengangkat satu tangannya kepada Tuan dan Nyonya mudanya. Sebelum akhirnya mobilnya melaju meninggalkan pelataran kediaman Stevano.
Jason menepikan mobilnya di sebuah toko bunga, pria itu segera masuk dan membeli bunga mawar sebagai tanda permintaan maaf pada sang istri.
__ADS_1
Jason menghirup aroma bunga itu, sebelum akhirnya pria itu bergegas keluar dan kembali masuk ke mobilnya. Tak hanya ke toko bunga, Jason juga berhenti di sebuah toko lainnya, membeli untuk kado putrinya juga hiasan untuk merayakan ulang tahun Aulia. Jason juga membeli hadiah untuk putri pertamanya Cinta.
Setelah itu, barulah Jason melajukan mobilnya pulang. Dia harus benar-benar mendapatkan maaf dari Lily, dia menyesal, benar apa yang Jasmine katakan, dirinya tidak boleh iri karena Lily lebih mengutamakan kedua putri mereka. Harusnya Jason bersyukur karena istrinya, anak-anaknya tidak kekurangan kasih sayang, dan setelah banyak yang Lily korbankan termasuk waktunya sendiri, Jason justru merasa kesal karena Lily menolak keinginannya, Jason benar-benar menyesal terlebih saat tadi dirinya membiarkan istrinya turun di pinggir jalan, sambil menggendong Aulia yang saat itu tertidur.
Jason mempercepat laju kendaraannya saat mengingat itu, dia ingin segera sampai ke rumah agar cepat mendapatkan maaf dari Lily.
Dan akhirnya kini, Jason tiba juga di rumah, Jason yang ingin segera bertemu istrinya bahkan mengabaikan satpam yang tadi menyapa dirinya.
Jason buru-buru turun dari mobil, lalu masuk ke dalam. Pintu tidak dikunci, membuat Jason yakin jika Lily memang sudah pulang. Jason ke dapur meletakkan kue di kulkas, kemudian ke ruang keluarga, meletakkan barang belanjaannya di sofa, pria itu mengedarkan pandangan, tampak rumah begitu sepi, entah bibi pun pergi kemana.
Jason memutuskan untuk segera ke kamar, mungkin saja istrinya ada disana. Tapi Jason harus kecewa karena tidak menemukan Lily, Jason meletakkan bunga yang dibelinya di atas meja dekat sofa kamarnya, melepas dua kancing kemeja paling atas merasa gerah, mungkin karena dia yang berjalan cepat, terburu-buru.
Jasin melangkah menuju kamar mandi, Lily pun tidak ada disana, hingga akhirnya Jason memutuskan untuk keluar. Jason yang akan kembali turun, urung saat melihat pintu kamar anak-anaknya terbuka.
Perlahan Jason melangkahkan kaki, dirinya tersenyum saat melihat wanita yang berdiri membelakanginya sedang mengelus rambut putri kecil mereka.
Jason mempercepat langkahnya dan dengan segera memeluk wanita itu dari belakang.
"Sayang aku minta maaf," bisik Jason.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Pertanyaan dari suara yang sangat Jason kenali, membuat dirinya terkejut dan buru-buru melepas pelukannya. Dia menoleh dan melihat Lily dengan wajah merah padam bahkan kedua tangan yang mengepal, kemudian Jason menoleh melihat siapa wanita yang tadi dipeluknya.
"Dahlia," gumam Jason.
Jason segera berbalik kembali.
__ADS_1
"Sayang tunggu!" Pria itu segera berlari mengejar Lily yang kini berlalu pergi.