
"Kita sudah ada di rumah, sekarang katakan pada Ayah, apa yang ingin kamu bicarakan." Alan duduk di samping putrinya yang sedang duduk di sofa menonton tv.
"Sebentar Ayah," ucap Lily kemudian bangun dari duduknya.
"Jangan coba menghindar lagi Nak, tadi saat baru sampai kamu bilang mau mandi dulu, sekarang kamu mau apalagi?" Tanya Alan pada putrinya yang hendak melangkah meninggalkannya.
"Ayah, aku bukan mau menghindar tapi mengambil sesuatu dulu, jadi Ayah tunggu disini saja," jawab Lily menoleh kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Alan hanya bisa menuruti putrinya itu, tak lama Al turun dari tangga sudah dengan pakaian yang rapi.
"Mau kemana kamu?" Tanya Alan pada putranya yang mungkin tidak melihat keberadaanya.
"Ayah sudah pulang? Ale mana? Bukannya tadi Ale bilang mau pulang sama Ayah?" Bukannya menjawab pertanyaan Ayahnya Al justru bertanya balik.
"Jawab dulu pertanyaan Ayah!"
Al hanya nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Al hanya mau keluar sebentar Ayah, ada yang ingin Al beli," Alvaro kini mendekat, mencium punggung tangan Ayahnya.
"Duduk dulu ! Ada yang ingin Ayah katakan!" Alan menunjuk tempat duduk yang ada di seberangnya dengan dagunya.
Al pun langsung duduk seperti yang Ayahnya minta, karena sepertinya Ayahnya akan berbicara hal yang serius.
"Ayah sudah menyelesaikan semuanya dengan wanita itu," Alan kemudian menghela nafas panjang.
Al mengernyitkan dahi, "Maksud Ayah?"
"Ayah sudah memberikannya cek sebagai ganti biaya dia membesarkan Ale selama ini, Ayah ingin Ale lepas dari wanita seperti itu, dia selama ini memperlakukan Ale dengan begitu buruk, dan Ayah sangat-sangat tidak suka Putri Ayah diperlakukan seperti itu."
Al ikut menghela nafas, sesungguhnya Al juga tidak suka melihat adiknya diperlakukan secara tidak adil oleh Ibu yang membesarkannya, dan itulah awal menaruh simpati terhadap gadis yang bernama Lily, rasa kagum di hatinya muncul saat Lily masih bisa tersenyum di balik hidupnya yang banyak menderita, dan Lily bisa menyembunyikannya dengan baik hal itu, hingga dirinya dan Jasmine lah yang tahu. Tapi baik Al maupun Jasmine tahu juga bukan dari Lily sendiri melainkan karena mereka memang berniat mencari tahu. Dan saat itu kenyataan terasa menyentak keduanya, dimana Lily diperlakukan dengan buruk oleh Ibunya. Bagaimana ibu kandung bisa memperlakukan kedua putrinya dengan berbeda, dan kebenaran kembali mengejutkan mereka, setelah mereka tahu bahwa Lily bukan putri kandungnya. Dan disaat Al sudah merasa jatuh cinta pada sosok Lily, kenyataaan kembali menohok hatinya, saat tahu bahwa ternyata Lily adalah Ale, adik kandungnya yang sudah berpisah dengannya sejak kecil.
"Terus bagaimana tanggapan beliau?" Tanya Al pada akhirnya.
__ADS_1
Alan hanya mengedikkan bahunya acuh, tak lama arah pandang keduanya tertuju pada seseorang yang baru saja turun dari tangga dengan sedikit berlari.
"Pelan-pelan Ale, nanti kamu jatuh," ucap Alan memperingati putrinya.
"Iya Ayah, ini juga pelan Kok, eh ternyata Kak Al," Lily menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu pikir Suami kamu yang datang, sampai lari-lari seperti itu," kata Al meledek Lily.
"Ih Kak Al bukan gitu juga," jawab Lily dengan bibir yang mengerucut.
"Terus apa kalau bukan begitu, kamu pikir Kakak tidak tahu, kalau kamu sekarang sangat berharap suamimu itu yang datang, kena pelet apa kamu sampai mau sama laki-laki tua dengan wajah yang datar seperti itu," Kata Al menyandarkan tubuhnya pada sofa dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ayah tuh Kak Al, masa ngatain suami Lily tua," Adu Lily dengan manja.
"Gak asyik dikit-dikit ngadu sama Ayah."
"Biarin lah, terserah aku aja," Lily kemudian memilih duduk di samping Ayahnya.
"Sudah-sudah kenapa jadi ribut begini, Al mengalahlah dengan anak kecil," kata Alan berusaha untuk menengahi.
Lily kemudian langsung mengangkat kepalanya yang tadi bersandar di bahu Ayahnya, kemudian menoleh ke arah Ayahnya kesal.
"Kenapa? Kenapa kamu tatap Ayah seperti itu? Ayah sudah belain kamu loh Nak tadi," Alan mengambil minuman yang tadi baru saja diberikan oleh pelayan di rumahnya.
"Habisnya Ayah bilang aku anak kecil, aku sudah besar Ayah, jika masih kecil, tidak mungkin aku bisa buatin cucu untuk Ayah," jawab Lily tanpa disaring dengan bangganya.
Alan langsung menyemburkan minuman yang baru masuk ke dalam mulutnya, mendengar perkataan putrinya yang terlalu frontal.
Sementara Al berdehem menetralkan keterkejutannya yang tidak menyangka jika Lily akan bicara seperti itu di depan mereka berdua.
"Ayah pelan-pelan minumnya, kenapa pakai acara nyembur segala, kaya mbah dukun aja deh," kata Lily tanpa tahu jika semua itu karena ucapannya.
__ADS_1
Alan menjawab dengan menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dirinya tidak apa-apa.
Lily kemudian mengambil tisu yang ada di meja, dan menyeka air yang sudah membasahi sebagian besar wajah Ayahnya.
"Makasih Nak," kata Alan kemudian memandangi Lily, jadi apa yang ingin kamu sampaikan pada Ayah?" Tanya Alan yang mulai serius teringat tujuan mereka duduk disana bersama.
Lily kemudian menyerahkan yang tadi Vega berikan kepada Alan," Kata Ibu, Ibu tidak membutuhkannya Ayah," jawab Lily dengan senyum yang tertahan di bibirnya.
Alan dan Al saling pandang antara percaya dan tidak percaya, entah itu karena Vega mengembalikan apa yang Alan berikan atau senyum Lily yang tertahan dan bisa mereka lihat dengan jelas.
"Kenapa?" Tanya Alan entah apa maksud yang ditanyakannya.
"Aku senang Ayah, jika Ibu mengembalikan pemberian Ayah, bukankah itu berarti Ibu menyayangiku, Ibu tulus membesarkanku, iya kan Yah?" kata Lily yang kini tengah tersenyum lebar menatap Ayahnya.
"Tapi perlakuannya terhadapmu sangat buruk Nak, dan kamu memaafkan dia semudah itu?"
Lily kini menatap lurus ke depan, "Aku tahu Yah, sangat tahu kenapa Ibu memperlakukanku seperti itu, Ibu tidak salah, keadaanlah yang membuat Ibu seperti itu, jika saja itu bukan Ibu, mungkin saja aku sudah dibuang, mana ada wanita yang mau membesarkan anak yang dia kira anak suaminya dari wanita lain. Ini bukan masalah memaafkan atau tidak, tapi lebih kepada berdamai dengan keadaan.
"Kamu memang anak yang baik Nak, Ayah beruntung memiliki putri sepertimu," Alan mengelus rambut Lily dengan penuh kelembutan.
Tapi apa secepat itu, seseorang bisa berubah? Al bertanya-tanya dalam hatinya. Tapi Al ikut senang jika memang itu benar, karena kebahagian adiknya lah yang utama.
"Aku senang Yah, sangat senang, akhirnya aku bisa merasakan pelukan Ibu, aku bahagia karena Ibu memanggil dirinya Ibu padaku, aku sangat bahagia, terima kasih Ayah, terima kasih Kak, aku bahagia dan kalian awal mula dimana aku bisa mendapatkan kebahagiaanku, sejak kedatangan Ayah dan Kak Al dalam hidupku, aku bisa terus tersenyum, senyum yang tidak dibuat-buat seperti dulu, aku sayang Ayah," celoteh Lily yang langsung memeluk Ayahnya erat.
Alan tersenyum, "Ayah yang seharusnya berterima kasih, terima kasih Nak, karena kamu kembali dan hadir di tengah-tengah keluarga ini, Ayah juga sangat menyayangimu," Alan balas memeluk tubuh putri kesayangannya.
"Jadi cuma berdua saja nih yang berpelukan, Kakak gak diajak," ucap Al yang pura-pura merajuk.
"Sini Kak!"
"Sini Nak!"
__ADS_1
Ajak Alan dan Lily bersamaan, Al langsung berdiri dan menghampiri orang yang sangat disayanginya itu, memeluk keduanya. "Aku juga sayang Ayah dan adikku yang cantik ini," ucapnya kemudian ketiganya tertawa bersama.