
"Kenapa Kak?" Lily menatap Dahlia dengan tatapan geli.
Sebenarnya Lily tahu apa maksud Dahlia menahan kepergiannya. Tapi Lily ingin mendengarnya secara langsung kalimat itu keluar dari Kakak yang disayanginya itu.
"Hmm soal itu…," Dahlia memainkan kuku-kuku jarinya ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Soal apa Kak?" Lily terus pura-pura tidak tahu sengaja menggoda Kakaknya.
"Hmmm itu... kamu pasti tahu apa yang Kakak maksud," kesal Dahlia karena Lily tidak kunjung-kunjung mengerti dengan apa yang akan diucapkannya.
"Bagaimana aku bisa tahu jika Kakak tidak mengatakannya, Kakak pikir aku bisa membaca pikiran Kakak," Lily sepertinya senang sekali menggoda Kakaknya yang bahkan kini wajahnya sudah memerah.
"Hmm yang tadi kamu bilang sebelum pergi," kata Dahlia dengan rona merah di pipinya.
"Memangnya apa yang aku bilang?"
"Ah sudahlah tidak jadi," Dahlia yang kesal akhirnya kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Lily.
Lily tersenyum melihat Kakaknya yang malu-malu mengatakannya.
"Iya, iya Kakakku sayang, aku akan bantu Kakak biar dekat sama Kak Al," ucap Lily mengulum senyum saat melihat reaksi Dahlia.
Dahlia kembali bangun dan menatap Lily, menggenggam tangan adiknya, dan mengucapkan beberapa kali terima kasih karena mau membantunya.
"Jadi Kak Lia jatuh cinta nih sama Kak Al, sejak kapan?" Goda Lily terus menerus.
"Tau ah jangan bahas itu," Dahlia memalingkan wajahnya yang Dahlia yakin kembali merona karena adiknya yang terus menggodanya.
Lily tertawa melihat Kakaknya yang Lily yakin sedang menyembunyikan wajahnya yang merona.
__ADS_1
"Jangan tertawa!" Ucap Dahlia dengan wajah yang ditekuk.
"Lihatlah wajah Kakak!" Lily memberikan ponselnya agar Dahlia bisa melihat wajahnya saat sedang cemberut.
Jarang sekali Lily melihat wajah Kakaknya dengan berbagai macam ekspresi hari ini, sepertinya Lily harus berterima kasih pada Kak Al karena bisa menarik Dahlia dan memperlihatkan sisi lain dari Kakak perempuannya yang selama ini jarang dirinya lihat.
Dahlia yang melihat wajahnya sendiri sontak saja tertawa, Lily pun ikut tertawa. Tawa keduanya menggema di ruang rawat itu.
Dahlia bukan tidak sadar jika dirinya bisa menunjukkan ekspresi lain, dan Dahlia sungguh tidak menyangka, Dahlia jarang tersenyum bahkan tertawa lepas seperti saat ini, selama ini dirinya hanya fokus pada belajarnya, gadis penurut yang mendengarkan apa yang Ibunya katakan, dan akan merasa iba jika melihat Ibunya memperlakukan Lily dengan tidak adil, Dahlia yang merasa bersalah karena adiknya harus banyak berkorban, sementara dirinya yang menikmatinya. Hanya seperti itu kehidupan Dahlia selama ini, sangat monoton.
Dahlia tersenyum melihat tawa adiknya, tetapi kemudian mengernyitkan dahi saat melihat ekspresi wajah Lily yang berubah. Tawa yang tadi menghiasinya, kini langsung pudar dengan pandangan ke arah pintu ruang rawatnya.
Dahlia mengikuti arah pandang adiknya, dan Dahlia juga sempat terkejut, di tengah pintu, ada sang Ibu menatap mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Sementara Lily sudah harap-harap cemas ketika mendengar suara langkah Ibunya yang semakin mendekat, Lily meremas pakaian yang dikenakannya, bahkan keringat dingin kini perlahan membasahi wajahnya.
"I..ibu" kata Lily tergagap.
Vega yang menatap Lily kini mengalihkan pandangannya terhadap sang putri yang menampakkan wajah yang sama dengan apa yang diperlihatkan Lily.
"Maaf sayang, Ibu baru datang, apa kamu sudah makan?" Kata Vega yang pandangannya tidak terlepas sedikitpun dari sang putri.
Lily kini mengerti, dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi disini, Ibunya sudah datang, dan dia bahkan kini sedang menunjukkan padanya, Ibunya menunjukkan jika dia sedang memberikan perhatian lebih pada yang benar putrinya.
Tubuh Lily mematung, dirinya tidak tahu harus berbuat apa, ingin melangkah pergi, tapi kakinya tidak bisa diajak bekerja sama. Tapi ingin terus disitu, Lily yakin dia hanya akan semakin sakit, karena kehadirannya yang tidak pernah dianggap oleh Ibunya.
Saat Lily tahu bahwa dia bukan seperti apa yang Ibunya katakan selama ini, Lily sangat senang, bukan senang dalam artian dia bisa terbebas dari Ibu yang tak pernah menganggapnya, tapi senang karena dengan itu bisa membuktikan bahwa Lily bukanlah anak dari hubungan terlarang, dan Lily berharap setelah Ibunya tahu soal itu, Ibunya akan menyayangi Lily dan menganggapnya seperti putrinya sendiri seperti selama ini dirinya menganggap Vega ibunya sendiri.
"I...Ibu, k..kak Lia, aku pamit dulu," kata Lily berpamitan memandangi Ibu dan Kakaknya bergantian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lily!" Dahlia menahan tangan Lily yang hendak pergi.
Kemudian Dahlia menatap Ibunya, "Bu!"
"Hmm pulanglah, Ayahmu sudah menunggu di taman rumah sakit ini," kata Vega setelah menarik nafas cukup dalam.
"Lily dan Dahlia saling tatap, kemudian keduanya menatap Vega yang menatap lurus ke depan.
Lily kemudian mengangguk, walaupun Vega tidak menahannya setidaknya Lily lega karena Vega tidak kembali mengata-ngatainya.
"Lily pulang dulu Bu!" Lily kemudian melangkah, tapi langkahnya terhenti.
"Lily, berikan ini kepada Ayahmu, Ibu tidak membutuhkannya," Vega menyerahkan selembar kertas yang tadi Alan berikan padanya.
"Ibu, ini.." Lily menatap kertas berupa cek dan tertera banyak angka nol disana, hingga Lily pun rasanya pusing untuk menghitungnya.
"Tapi Bu, apa yang harus Lily katakan pada Ayah, dan apa maksudnya ini?" Lily dengan tangan bergetar memegang kertas itu, menatapnya lama, kemudian tatapannya beralih pada wanita yang menyerahkan kertas itu.
"Bilang saja Ibu tidak membutuhkannya, dan Ayahmu akan mengerti tanpa harus kamu menjelaskannya."
Dahlia menatap Ibu dan adiknya bergantian dengan air mata yang sudah menetes dari pelupuk matanya sedari tadi. Dahlia mengerti apa maksud dari Ibunya menyerahkan kertas itu. Dan bolehkah Dahlia berharap?
"Pergilah, kau harus pulang sekarang!" Perkataan Vega kembali menyadarkan Dahlia dan Lily yang tampak sibuk dengan isi pikirannya.
"Baiklah Bu, Lily pulang dulu, besok Lily akan kesini lagi, Lily juga akan menyerahkan ini pada Ayah dan menyampaikan apa yang tadi Ibu katakan," Lily kemudian berbalik dan meninggalkan ruang rawat Kakaknya dengan berbagai macam pikiran.
Setelah kepergian Lily tangis Vega pecah, Dahlia yang melihat Ibunya seperti itu, langsung memeluknya untuk sekedar menenangkannya. Keduanya menangis dengan saling berpelukan, mereka seakan tahu apa yang dirasakan masing-masing tanpa harus ada kata yang terucap. Dahlia biasanya akan sedih melihat Ibunya yang menangis seperti ini, tapi berbeda dengan sekarang, Dahlia merasa sangat bahagia.
Baik Vega dan Dahlia kini terkejut dan langsung memisahkan tubuh mereka ketika tiba-tiba terdengar seseorang yang membuka pintu secara kasar, keduanya sama-sama menoleh dan terdiam ketika melihat siapa orang yang melakukannya.
__ADS_1