Please Love Me

Please Love Me
Part 147


__ADS_3

"Ayah ini,"


"Dialah Aldan kembaran Ayah. Mungkin ini semua yang harus Ayah dapatkan karena Ayah telah menyakiti perasaan seseorang yang tidak bersalah."


"Bibi Dea, bukankah ini Bibi Dea," Lily menunjuk satu-satunya foto yang berbeda, diantara foto Alan, Aldan dan Felicya.


"Dialah gadis yang sudah Ayah sakit hatinya, Ayah menyimpan foto itu, hanya sebagai kenangan, kenangan yang mengingatkan betapa bren****knya Ayah karena sudah menyakiti gadis sebaik dia. Ayah menyimpan foto itu agar Ayah tidak lupa bahwa ada seseorang yang hatinya terluka karena Ayah, tunggu.. kamu mengenalnya?" Tanya Alan yang baru menyadari ucapan putrinya.


"Beliau adalah sahabat Bibi Tiffa, mertua Jasmine, beliaulah yang menemukan Liora dan menjadikannya anak angkatnya, apa Ayah tidak bertemu dengannya saat operasi Bibi Tiffa waktu itu?"


Alan menggeleng, dirinya tidak terlalu fokus pada keluarga pasien.


"Tapi Ayah, kenapa Ayah tidak menceritakan hal ini pada Kak Al? Kak Al berhak tahu."


"Jangankan menjelaskan hal ini, Ayah berbicara saja, kakakmu sudah tidak mau mendengarkan Ayah," ucap Alan sedih.


"Ayah," Lily langsung memeluk Ayahnya.


Alan pun membalas pelukan putrinya tak kalah erat.


*


*


Al melajukan mobilnya ke rumah sakit, ada yang harus dilakukannya. Tetapi ditengah perjalanan Al mendapatkan sebuah pesan.


Al membuka pesan itu dengan cepat begitu tahu siapa pengirimnya. Begitu selesai membaca, Al segera memutar balik mobilnya dan menuju ke tempat seperti yang tertera di pesan.


Di sebuah rumah berlantai dua dengan gerbang yang tidak begitu tinggi Al berhenti disana.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Seorang satpam menghampiri Al dan bertanya saat Al menurunkan kaca pintu mobilnya.

__ADS_1


"Apa dokter Riu ada?" Tanya Al to the point, dirinya sudah tidak sabar untuk menginterogasi dokter itu, menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, kenapa dia dengan beraninya menyembunyikan penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawa pasien dari anggota keluarganya, rasanya Al ingin menuntut dokter itu.


"Tuan Riu tidak ada, Tuan, jika ada keperluan yang penting, nanti biar saya sampaikan," ucap sopan satpam itu.


"Kapan beliau kembali?"


"Saya kurang tahu Tuan, kalau tidak Anda bisa kembali lain kali," tampaknya satpam itu sengaja mengusir Al secara halus.


Al menjalankan mobilnya, membuat satpam rumah itu merasa lega, tapi itu hanya sementara karena ternyata Al justru memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang.


Satpam berlari menghampiri Al dan mengetuk kaca pintu mobilnya.


"Maaf Tuan apa yang Anda lakukan disini? Saya sudah bilang jika Tuan Riu tidak ada di rumah dan saya tidak tahu juga kapan beliau kembali, mungkin sebaiknya jika Anda pulang dulu dan Anda bisa datang lagi besok. Anda juga jangan khawatir karena saya pasti akan memberitahukan tentang kedatangan Anda."


"Aku akan menunggu," ucap Al keras kepala.


"Tuan Anda tidak boleh seperti itu, tolong jangan mempersulit kami dengan adanya Tuan disini."


"Aku tidak akan mempersulit kalian, kalian lakukan pekerjaan saja, dan aku akan menunggu dokter Riu disini dan itu sama sekali tidak mengganggu kalian," ucap Al yang tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan membuat kedua satpam itu merasa was-was.


"Sudahlah biarkan saja, ayo!" Ucap satpam satunya yang hanya diam saja sedari tadi.


Satpam yang sejak tadi terus berbicara dengan Al hanya bisa pasrah saat teman satunya menarik tangannya dan justru membiarkan Al tetap berada disana.


"Kau ini bagaimana sih, malah dibiarkan di sana, bagaimana kalau Tuan tahu," omel satpam yang tadi trus berbicara dengan Al.


"Sudahlah tidak apa-apa, nanti biar saya yang tanggung jawab."



Drt

__ADS_1


Drt


Al hanya menatap nama yang tertera di layar ponsel yang kini memanggilnya tanpa ada niatan untuk menjawabnya.


Al mematikan ponselnya yang sedari tadi bergetar, dirinya hanya ingin menenangkan diri untuk saat ini, dan tidak ingin diganggu siapapun termasuk adiknya sendiri yang sedari tadi terus menghubunginya.


Tak lama, Al melihat sebuah mobil memasuki gerbang, yang Al yakin jika mobil itu adalah mobil pemilik rumah yang sedang ditunggunya.


Al segera membuka pintu mobil dan turun. 


"Dokter Riu!" Teriak Al membuat mobil yang baru akan masuk ke gerbang itu berhenti.


Tampak dari jauh kaca pintu mobil terbuka, bahkan Al bisa melihat dengan jelas pria yang usianya diatas ayahnya itu berbicara dengan satpam yang tadi membiarkannya.


Hingga kemudian salah satu dari satpam itu menghampiri Al, "Anda bisa bertemu dokter Riu sekarang," ucapnya mempersilahkan Al untuk masuk.


"Terima kasih," ucap Al yang kemudian kembali ke mobilnya, masuk di kursi kemudi dan menjalankannya menuju ke halaman rumah dokter Riu.


Rupanya dokter Riu sudah menunggu Al di dalam mobil yang tadi membawanya. Dokter Riu turun dan menghampiri Al.


"Kita bicara di dalam," ucapnya yang kemudian berjalan lebih dulu menunjukkan arah kemana mereka harus melangkah.


Awalnya Al mengernyitkan dahi bingung, tapi itu hanya sebentar, kebingungannya terjawab mendengar apa yang dokter Riu katakan.


"Tadi Tuan Jason menghubungiku dan bilang jika kamu akan kesini dan menanyakan sesuatu kepadaku," kata dokter Riu yang mengerti raut bingung Al.


"Sekarang katakan apa yang terjadi sebenarnya! Kenapa Anda berani menyembunyikan penyakit yang dialami oleh Ibuku? Kenapa? Asal anda tahu saja kami bisa saja menuntut atas apa yang Anda lakukan," ancam Al menatap tajam dokter Riu.


"Maaf, ini semua permintaan Ibumu, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, kamu boleh melakukan apapun untuk menghukum saya. Lakukanlah semaumu, asal akhirnya kamu bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada," ucap dokter Riu yang menyesali keputusan yang dulu diambilnya.


"Ibumu menderita kanker stadium akhir, dan saya yakin kamu pasti sudah tahu hal itu," dokter Riu menjeda ucapannya, menatap kosong ke depan menerawang jauh.

__ADS_1


"Ibumu, memang sangat melarang aku memberitahu hal itu pada Ayahmu, dia bilang tidak ingin menjadi beban dalam hidup ayahmu, tapi kondisinya semakin parah, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, walaupun itu kemauan pasien sendiri, tapi saya harus memberitahukan hal itu kepada Alan. Bagaimanapun Alan berhak tahu tentang penyakit istrinya.


Suatu hari, setelah benar-benar mempertimbangkan semuanya, aku mendatangi Alan. Aku mencarinya kemanapun, dan setelah bertanya kepada beberapa perawat akhirnya saya menemukannya. Saya lihat dari kejauhan dia berbicara dengan dokter yang lain. Saya mendekat, dengan cepat saya langkahkan kaki, untuk memberitahukan semuanya, tapi tiba-tiba tubuh ayah kamu limbung dan dengan cepat saya menangkapnya. Dan disitulah saya akhirnya sedikit tahu, tentang apa yang Alan dan dokter itu bicarakan. Dokter itu berkata bahwa dirinya tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien setelah berusaha semaksimal mungkin. Dan betapa terkejutnya saya saat melihat siapa orang itu, orang itu adalah orang dengan wajah yang sama persis dengan ayahmu, dan bukan hanya saya yang melihat kejadian itu, karena ternyata Ibu kamu juga ada disana dan menyaksikan itu semua. 


__ADS_2