
Sehabis makan, Liora dan Ronald berjalan ke arah ruang keluarga dimana disana masih ada Stevano dan Jasmine, William keluar bersama Tiffa untuk menjemput cucunya Alno, Vier dan Vira yang sedang berada di rumah Max.
Melihat Liora dan Ronald datang, Jasmine yang tadinya berbaring di sofa berbantalkan paha suaminya bangun membiarkan Liora untuk duduk di sampingnya.
"Kak Vano tidak ke kantor?" Tanya Liora melihat kakaknya itu ada di rumah padahal papinya juga hari ini tidak berangkat.
"Tadi dari kantor, ini pulang dulu nanti sebentar lagi berangkat lagi," jawab Stevano tanpa memandang ke arah adiknya.
Liora mengangguk mengerti.
"Kalian tidak jalan-jalan, kemana gitu?" Jasmine menoleh menatap adik iparnya.
Liora memandangi Ronald, suaminya itu juga tidak mengatakan apa-apa.
"Hmm tidak, masih lelah kak, kemarin aja seharian sibuk kan kita."
Kini giliran Jasmine yang mengangguk.
"Oh ya kalian tidak ada rencana honeymoon?" Tanya Jasmine lagi.
"Ada, tapi nanti, percuma sekarang-sekarang juga," kini giliran Ronald yang menjawab.
Jasmine mengernyitkan dahi atas penuturan Ronald, sementara Liora menyenggol tubuh Ronald dengan bibir yang mengerucut.
Cup
"Ronald!"
Liora terkejut saat suaminya tiba-tiba mengecup bibirnya bahkan di depan Jasmine dan Stevano. Wajah Liora bahkan kini sudah memerah karena malu.
"Tidak apa-apa, kita sudah biasa," jawab Jasmine enteng.
"Iya kan sayang?" Tambahnya kepada sang suami.
"Hmm, seperti ini kan?" Ucap Stevano yang kini langsung mencium bibir istrinya. Dan Jasmine pun membalas ciuman suaminya.
Liora melotot melihat itu, buru-buru gadis itu bangun, tidak ingin melihat kemesraan yang sengaja dipamerkan oleh kakak dan kakak iparnya. Tapi baru satu langkah melangkah, Ronald menarik tangan Liora hingga berakhir di pangkuannya. Tidak mau kalah dengan Stevano, kini Ronald langsung mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Kedua pasangan itu larut dalam ciuman mereka.
*
*
Tok
Tok
Terdengar ketukan pintu.
"Masuk!" Ucap pria yang sedari sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
"Taruh saja di meja," katanya tanpa menoleh.
__ADS_1
Sedangkan seorang wanita yang baru saja masuk, hanya menatap pria itu, pria yang terlihat semakin tampan saat sedang serius, apalagi dengan kacamata yang kini bertengger di hidung mancungnya.
Pria itu tiba-tiba menghentikan pekerjaan, melepaskan kacamatanya, memijat pangkal hidung sambil berkata dengan suara datarnya.
"Sudah aku katakan untuk taruh saja di meja, apa kau tidak mendengarnya?"
Pria itu mengangkat wajah dan menatap siapa orang yang datang dan mengganggu kesibukannya.
"Sayang?" Pria itu terkejut, mendorong kursi yang didudukinya kemudian segera bangun dan menghampiri sang istri.
"Aku mengganggumu?" Ucapnya dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, niatnya ingin memberi kejutan tapi dirinya yang kini justru terkejut apalagi saat mendengar teriakan suaminya.
"Sayang, bukan seperti itu, maaf aku tadi sedang sibuk, aku tidak tahu jika itu kamu," pria itu merangkul istrinya kemudian memintanya untuk duduk di sofa.
"Berarti benar aku mengganggumu?"
"Tidak kok, kamu tidak menggangguku, jika ada kamu disini aku malah jadi semangat."
"Benar?"
"Hmm tentu saja, oh ya kenapa kamu kesini tidak bilang-bilang? Jika kamu bilang tadi aku pasti akan menjemputmu. Tadi kamu kesini sama siapa?"
"Aku tadi diantar Kak Al, tadi sebenarnya pengen ngasih kejutan sama kamu, tapi kamu yang justru mengejutkan aku," ucap Lily lirih.
"Maaf, sungguh aku tidak tahu jika tadi itu kamu. Al mana? Dia langsung pulang?"
"Iya, tadi Kak Al langsung pulang."
Jason menggeleng, dan Lily hanya menghembuskan nafasnya.
"Aku bawa makanan, kamu makan dulu setelah itu barulah melanjutkan pekerjaanmu," ucap Lily yang kini terlihat mengeluarkan barang bawaannya yang tadi dia masukkan ke dalam paper bag.
"Suapin!" Ucap Jason manja.
"Manja, kayak Cinta saja."
"Biarin, kan belakangan ini Cinta yang selalu dimanjain, aku nya di abaikan," jawab Jason menekuk wajahnya.
"Ya ampun, bayi besarku, rupanya iri sama putrinya sendiri," kata Lily mencubit kedua pipi suaminya.
"Aww sakit tahu sayang!"
"Sakit? Benarkah? Padahal aku tidak terlalu kencang melakukannya."
"Obati dulu," ucap Jason mendekatkan pipinya ke wajah sang istri.
Lily kemudian mendekatkan wajahnya, dan cup
Lily yang akan menciumnya pipi Jason, kini justru mencium bibir suaminya.
"Sayang curang!"
__ADS_1
Jason hanya terkekeh kemudian mengecup bibir Lily berkali-kali.
"Sudah ini makan dulu!" Lily mendorong dada Jason agar menjauh darinya.
"Aa…"
Ucap Lily dan Jason pun dengan segera membuka mulutnya, dirinya sudah merasa sangat lapar.
Satu suapan, dua suapan, hingga semua makanan yang Lily bawa habis tak tersisa, siapa lagi yang menghabiskannya jika bukan Jason.
"Tuh kamu kelaparan, kenapa malah menunda-nunda makan, nanti kalau kamu sakit gimana coba."
"Iya, iya lain kali tidak, aku tadi hanya ingin segera menyelesaikan biar bisa cepat pulang, aku sudah sangat merindukanmu dan putri kita."
"Tapi aku tidak mau terlalu kamu memaksakan diri sampai melupakan waktu makan."
"Iya maaf, oh ya aku mau lanjut kerja dulu, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?" Tanya Jason pada istrinya.
"Hmm tidak apa-apa, tapi ponselmu mana? Aku lupa tidak membawa ponsel, tadi sepertinya ponselku masih di kamar Cinta."
Jason berjalan ke arah meja kerjanya, mengambil ponsel miliknya dan memberikannya pada sang istri.
Lily duduk sambil membuka ponsel milik suaminya, berselancar di sana bahkan sampai berbaring saat merasakan pegal di pinggangnya.
Lily melihat jam di ponsel, sudah menunjukkan pukul 5, Lily bangun dan melihat ke arah suaminya yang ternyata masih sibuk dengan laptopnya.
"Sayang belum selesai?"
Jason menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard dan menatap sang istri.
"Sebentar lagi, kamu sudah lelah?"
"Hmm tidak kok, kamu lanjutkan saja," ucap Lily yang kini kembali sibuk men scroll ponsel lalu menempelkannya di telinga, rupanya wanita itu sedang menghubungi seseorang. Cukup lama Lily menunggu jawaban dari seberang telepon, hingga tak lama terdengar celotehan anak kecil.
"Ibu, ibu dimana?"
"Ibu lagi sama ayah nih," Lily mengarahkan kameranya hingga Cinta juga bisa melihat ayahnya."
"Yayah!" Teriak Cinta girang melihat sang ayah yang seharian ini tidak bersamanya.
Tapi wajah ceria Cinta berubah murung saat tidak ditanggapi oleh ayahnya.
"Ayah sedang sibuk sayang, sebentar lagi Ibu dan ayah pulang," ucap Lily memberikan pengertian pada sang putri.
"Yayah cibuk."
"Hmm iya, Cinta lagi apa? Sudah mandi belum?" Tanya Lily mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nta gi ain cama nenek, Nta da andi tadi cama aman," beritahu putri Lily yang setelahnya memamerkan mainan yang dibelikan oleh Al.
"Antik tan Bu?" Tanya Cinta meminta pendapat ibunya.
__ADS_1
"Cantik kaya Cinta," ucap Jason yang kini ada di belakang Lily, membuat gadis kecil itu semakin merasa senang.