
Lily terkejut melihat apa yang ada di depannya sekarang, saat dia baru saja pulang, "Kak Al?" Perkataan Lily itu langsung membuat tiga orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arahnya.
Vega bangun dari duduknya dan mendekati Lily, "Jelaskan apa maksudnya ini!" Kata Vega syarat akan tuntutan agar Lily menjelaskan apa yang terjadi sementara Lily sendiri juga masih bingung dengan apa yang terjadi di depannya dan bagaimana dia harus menjelaskannya?" Itulah yang Lily pikirkan saat ini.
"Kenapa diam saja? Cepat jelaskan sekarang!" Bentak Vega lagi penuh penekanan.
"Nyonya, bukankah tadi saya sudah menjelaskan, tapi hasilnya Anda tidak percaya dengan apa yang saya katakan," kata Al yang mulai bersuara kembali, tidak tega melihat gadis yang dicintainya di bentak begitu saja.
"Diam kau! Aku tidak bertanya padamu tapi aku bertanya kepada anak ini!" Kata Vega menunjuk Lily dan menyuruh Al diam.
"Ibu!" Tegur Dahlia.
"Diam kau Dahlia! Dan jangan ikut campur lagi apa lagi membela perempuan ini," kata Vega menatap tajam ke arah putri satu-satunya itu.
"Siapa dia? Bukankah dia kekasih Kakakmu tapi kenapa tadi dia bilang jika dia kekasihmu? Kau tidak merebutnya kan dari Kakakmu? Kau tidak seperti Ibumu yang merebut Suamiku kan?" Tanya Vega penuh amarah.
"Ibu!" Kata Dahlia dan Lily bersamaan.
"Nyonya, bukankah saya tadi katakan dengan jelas, bahwa saya kekasih Lily dan bukan kekasih putri kesayanganmu itu, dan cukup, Anda tidak pantas menyebut Lily seperti itu, karena dia tidak merebut siapapun, apalagi apa yang tadi Anda katakan, Lily merebutku dari Kakaknya, yang benar saja," kata Al kembali menjelaskan untuk kesekian kalinya, karena wanita paruh baya ini masih belum mempercayai ucapannya.
"Ini pasti ulahmu kan? Kenapa? Kenapa kau mengaku- ngaku jika aku ini kekasihmu dan jangan bilang kau yang bilang ke Ibumu, kalau Lily merebutku darimu, jangan terlalu bermimpi Nona," kata Al menatap Dahlia dengan sinis.
"Kak Al cukup! Kak Al tidak boleh berkata seperti itu kepada Kak Dahlia!" Teriak Lily yang sudah tidak tahan dengan keributan di depannya ini dengan saling menuduh satu sama lain.
"Ayo Kak kita pergi dari sini!" Lily menarik tangan Al lagi saat pria itu akan kembali bicara.
__ADS_1
"Ya sana pergi! Dan ingat jangan pernah kembali lagi! Jangan pernah berpikir bisa menginjakkan kaki di rumah ini!" Marah Vega.
Lily menghentikan kakinya, saat mendengar ucapan Ibunya, sakit, itu lah yang Lily rasakan saat ini. Kenapa? Kenapa harus dirinya?" Batin Lily terus berteriak tidak terima, karena hanya dirinya yang diperlakukan seperti ini. "Apa salahku?" Itulah yang jadi pertanyaan yang kini mengusik isi kepalanya.
Al yang melihat keraguan dalam langkah Lily, kemudian menggenggam tangan gadis itu erat, memberikan kekuatan dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja, dan Al akan selalu ada disisinya, itulah arti dari genggaman Al saat ini.
"Ayo pergi!" Al menarik tangan Lily lembut, mengajak gadis itu untuk segera meninggalkan tempat yang selama ini hanya membuatnya menderita.
Seolah ada lem perekat di kaki Lily, gadis itu tidak beranjak sedikitpun masih diam di tempatnya tadi, saat mendengar wanita yang membesarkannya itu, kini mengusirnya, mengusirnya dengan tuduhan yang tidak berdasar itu. Bagaimana Lily harus menjelaskannya? Apa dengan pergi akan menjadi keputusan yang tepat untuknya?" Lily terus berperang dengan hatinya sendiri.
"Ayo Lily!" Al kembali menarik tangan Lily, dan akhirnya gadis itu pun pasrah begitu saja.
"Lihatlah adik yang kau bela dan bangga-banggakan itu! Lihatlah sekarang dia justru merebut kekasihmu!" Kata Vega kepada Dahlia sambil menunjuk-nunjuk Lily yang dibawa oleh Al.
"Sudahlah Lia, kau tidak perlu membela adikmu itu lagi," kata Vega tetap kekeh dengan pemikirannya.
"Lia tidak membelanya Bu, itu kenyataan" Dahlia mengacak rambutnya frustasi karena Ibunya tidak juga mengerti setelah dijelaskan panjang lebar, tidak ingin terjadi pertengkaran antara dia dan Ibunya, Dahlia pun memilih pergi dari tempat itu.
***
Sementara di tempat lain kini Lily sedang menggigit kuku jarinya.
"Bagaimana ini Kak Al? Aku harus tinggal dimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan bahkan semua pakaianku masih ada di dalam?" Kata Lily gugup.
Al memberikan air minum kepada Lily yang memang di selalu sediakan di mobilnya. Ya mereka sekarang sedang berada di dalam mobil Al.
__ADS_1
"Kamu tenang ya, tidak perlu khawatir, kau bisa sementara waktu tinggal di rumahku," kata Al kemudian.
Lily yang tadinya melihat ke arah rumahnya, kini menoleh ke arah Al dan menatap pria itu cukup lama, "Tidak Kak, aku tidak mau melibatkanmu terlalu jauh, aku selalu merepotkanmu selama ini," kata Lily merasa tidak enak.
"Lily tapi aku ingin bertanggung jawab," jawab Al yang tidak mengerti lagi harus bagaimana membujuk Lily agar mau tinggal di tempatnya.
"Tanggung jawab apa yang Kak Al maksud? Kak Al tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah Kak Al perbuat," kata Lily yang tidak habis pikir dengan jawaban Al.
"Tapi aku yang membuatmu diusir Lily, dan aku merasa bersalah untuk itu, jadi aku mohon tinggallah bersamaku untuk sementara ini, dan nanti kita cari tempat tinggal sama-sama untukmu ya, bagaimana?"
Lily diam, menimbang-nimbang apa yang Al katakan, dan setelah cukup lama berpikir, akhirnya Lily pun mengangguk.
"Baiklah, tapi hanya untuk sementara, dan begitu aku sudah menemukan tempat tinggal aku akan segera pindah, aku juga tidak enak dengan Ayah Kak Al jika terlalu lama tinggal di tempat Kak Al," putus Lily pada akhirnya.
Kaca mobil diketuk dari luar. Lily membuka kaca jendela karena Kakaknya yang datang membawakan tas, yang Lily yakini jika isi dalam tas itu adalah baju-bajunya.
"Ini beberapa bajumu, Kakak yakin kamu membutuhkannya, Kakak akan terus bujuk Ibu agar kamu bisa kembali, tapi sementara ini kamu ikut Kak Al dulu ya, Ibu masih sangat marah," kata Dahlia menyerahkan tas berisi baju-baju itu pada adiknya yang kini sudah berkaca-kaca.
"Tapi Kakak.."
Dahlia langsung memotong ucapan Lily, "Sudahlah tidak apa-apa, cepat pergi sebelum Ibu melihat Kakak disini." Setelah itu Dahlia menatap Al, "Kak Al aku titip Lily!" Katanya menatap Al penuh harap.
"Tidak perlu kau meminta, aku pasti menjaganya," ketus Al dan kemudian Al pun segera melajukan mobilnya.
Lily menoleh dan terus melambai ke arah Kakaknya, bergantian dengan menatap rumah yang dia tinggali selama ini, merekam semua kenangan saat di rumah itu, hingga mobil yang membawanya menjauh dan Lily hanya bisa menunduk, tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan meninggalkan rumah itu.
__ADS_1