
Jason terus menatap sang istri yang justru sibuk bermain dengan kedua putri mereka. Setelah menyelesaikan urusannya dengan Stevano, buru-buru Jason mengendarai mobilnya, tujuan utamanya adalah mengantarkan Ian, anak laki-laki yang belakangan ini sering main ke rumahnya, menemani kedua putrinya selain anak-anak Stevano. Setelah memastikan Ian pulang dengan selamat, dengan kecepatan di atas rata-rata, Jason melajukan mobilnya berharap agar segera sampai di rumah, dirinya akan memastikan bahwa istrinya tidak marah atas keputusan yang diambilnya sepihak, sungguh sebenarnya Jason ingin mengatakan hal itu, Jason ingin meminta izin, tapi Jason yakin jika istrinya tidak akan menyetujuinya, hingga akhirnya dia diam-diam mengajak Cinta berlatih baru untuk kedua kalinya. Berawal dari luka yang pertama Cinta dapatkan disaat latihan pertamanya, membuat Lily panik dan terus bertanya kepada putri mereka darimana mendapatkan luka itu, Cinta tidak menjawab, bukan karena tidak sopan, Cinta hanya tidak ingin berbohong padanya, dan masalah izin pergi, Cinta bilang mau jalan-jalan, jelas Cinta tidak berbohong, Cinta memang jalan-jalan.
Sejak itu, Jason yang awalnya ingin mengatakan sebenarnya, urung saat mendengar ucapan istrinya yang tidak ingin anak-anaknya seperti anak laki-laki, dia ingin putri mereka seperti seorang putri karena selama ini Lily memang mendidiknya seperti itu. Tapi di lain sisi, Jason ingin kelak putrinya setidaknya bisa melindungi dirinya sendiri disaat terdesak, mereka memang perempuan, tapi Jason ingin menanamkan, bahwa perempuan tidak harus kalah dengan laki-laki, perempuan juga bisa kuat, walaupun tidak sebanding dengan laki-laki. Jason tidak bisa menemani kedua putrinya setiap saat, makanya Jason ingin membekali kedua putrinya dengan beladiri, karena setidaknya putrinya bisa aman, walaupun jika tidak ada dia di sampingnya.
"Sayang!" Jason duduk di samping Lily bahkan merebut mainan yang ada di tangan istrinya agar perhatian Lily teralihkan.
"Ibu, ayah memanggil ibu," Uli bersuara karena sedari tadi melihat ayahnya yang tidak mendapat tanggapan apapun dari ibunya.
"Hah?" Lily melihat ke arah Aulia, pura-pura baru menyadari setelah putrinya itu berucap.
Ternyata tak hanya Uli, Cinta pun kini tengah menatapnya. Cinta kini sudah tidak ngambek lagi, karena Lily menjanjikan pada putri-putrinya, sebagai ganti Cinta tidak berlatih, dia akan mengajak kedua putrinya itu jalan-jalan.
"Ayah sejak tadi memanggil ibu."
Lily menghela nafas menoleh ke sampingnya, benar saja saat ini Jason tengah memandanginya, tentunya dengan tatapan memelas.
"Kalian ibu tinggal dulu ya, main sendiri, ingat jangan ribut, kak Cinta jagain adeknya, jika nakal hukum aja seperti biasa."
"Siap bu."
Setelah mengatakan itu Lily dengan sedikit kesusahan bangun dari duduknya menarik tangan Jason untuk menjauh dari sana.
"Sayang!"
"Aku maafkan, tapi jangan lakukan hal itu lagi. Kamu tahu aku tidak ingin sampai putri kita terluka, dia itu perempuan loh, harus dijaga benar-benar jangan sampai ada sedikit saja bekas luka pada kulitnya."
"Tapi Cinta bahagia melakukannya sayang, coba kamu pertimbangkan lagi, Cinta…"
"Sudah cukup Jason. Intinya aku tidak setuju, dari sini kamu mengerti."
"Hmm baiklah, tapi jangan marah lagi."
Lily mengangguk, "Ya sudah ayo kita kembali kesana!" Tunjuk Lily ke arah kedua putrinya.
"Ayo!"
__ADS_1
*
*
"Sayang!"
"Hmm." Jason hampir saja memejamkan mata saat Lily memanggilnya.
"Masa kamu uda mau tidur, ayo kita berendam dulu."
Jason mencoba membuka matanya yang kini sudah lima watt itu, dirinya memang sedikit tidak nyaman karena tubuhnya yang penuh keringat hasil pergulatan mereka yang baru berakhir sekitar setengah jam yang lalu.
Setelah mengumpulkan niat, Jason turun dari ranjang, meraih boxer yang teronggok di lantai lalu memakainya, berlalu menuju kamar mandi, tak lama pria itu kini kembali.
"Aku sudah siapkan air hangat," ucapnya yang kini mengangkat tubuh sang istri beserta selimut yang menutupi tubuh polos Lily.
Perlahan Jason menurunkan sang istri ke dalam bathtub berisi air hangat yang juga sudah Jason tuangkan beberapa aromaterapi agar tubuh mereka terasa lebih rileks.
Jason ikut turun dan masuk ke dalamnya, duduk di belakang Lily yang tubuhnya sedikit dia angkat.
Tak kunjung mendapatkan jawaban suaminya, Lily kembali berkata, lebih tepatnya menjelaskan keinginan tiba-tibanya itu.
"Cinta tadi ngambek sepulang dari kediaman Tuan Stevano yang lama, terlebih lagi karena aku melarangnya untuk tidak pergi berlatih lagi. Untungnya pas aku bilang sebagai gantinya nanti kita akan jalan-jalan, Cinta kembali tersenyum dan tidak ngambek lagi."
"Kamu kan yang bilang mau ngajak Cinta jalan-jalan, ya sudah kamu aja kalau begitu, kenapa ngajak-ngajak aku, kan kamu juga yang membuat Cinta ngambek, bukan aku."
Lily kesal mendengar jawaban suaminya, spontan dia menoleh, tapi justru bertepatan dengan bibir Jason yang menempel pada bibirnya.
"Bercanda sayang," ucap Jason begitu tautan bibir mereka terlepas.
"Bercandanya tidak lucu," ketus Lily.
Dia segera mempercepat mandinya, selain sudah cukup malam, Lily tidak ingin terlalu berlama-lama, dan takutnya malah membuatnya nanti sakit. Begitu selesai Lily langsung ke walk in closet, mengganti bathrobe dengan baju tidurnya, tak lupa dia juga mengambilkan milik suaminya, membawanya lalu segera menuju ranjang, membaringkan tubuhnya di sana, tanpa melihat ke arah Jason yang mungkin kini sedang memakai pakaiannya yang tadi dia letakkan di sisi ranjang.
"Sudah dong sayang, gitu aja marah. Serius aku tadi hanya bercanda, oke seperti kata kamu tadi, besok kita jalan-jalan, dan tentunya kita akan menghabiskan waktu seharian. Aku akan menuruti kemanapun kamu mau," ucap Jason yang kini sudah berbaring memeluk sang istri dari belakang.
__ADS_1
"Beneran?" Lily yang tadi tidur membelakangi Jason, kini menatap suaminya senang, karena sebenarnya selain mengajak Cinta jalan-jalan agar Cinta tidak ngambek lagi, Lily melakukan itu juga karena ingin menghibur diri, itu yang Lily saat ini inginkan.
Jason mengangguk, membuat Lily segera memeluk tubuh suaminya hingga Jason tersenyum."
"Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Cium dulu!"
Cup
Lily segera saja mencium pipi suaminya.
Cup
Lily mencium kening suaminya.
Dan
Cup
Lagi-lagi Lily mencium Jason, kali ini bukan di pipi atau kening, melainkan pada bibir suaminya itu.
"Cukup, nanti kamu minta lagi, padahal kita baru saja mandi."
Lily mendengus saat diingatkan lagi, tentang sebelumnya, dimana Lily yang meminta hal itu lebih dulu.
"Kamu yang minta cium, malah aku yang disalahin, kebiasaan!"
"Tapi kamu yang…"
Buru-buru Lily membekap bibir Jason dengan telapak tangannya, mencegah pria itu agar tidak mengungkit kejadian beberapa jam yang lalu, yang membuat dirinya malu.
Jason langsung menyemburkan tawa, setelah tangan Lily terlepas, yang tentunya membuat Lily semakin kesal atas ledekan suaminya yang tiada henti.
__ADS_1