Please Love Me

Please Love Me
Bab 164


__ADS_3

"Apa itu Kak?" Tanya Lily melihat kakaknya membawa paper bag.


"Mmm, Kakak tidak tahu, kamu buka saja," perintah Dahlia kepada adiknya untuk membuka isi dalam paper bag itu.


"Tidak mau ah, itu kan punya Kakak," kata Lily.


"Ini punyamu, bukan punya Kakak," kata Dahlia meletakkan paper bag di pangkuan adiknya.


"Punyaku?" Lily mengernyitkan dahi karena merasa tidak memesan apapun.


"Buka saja, mungkin ada nama pengirimnya," ucap Dahlia yang kini ikut duduk di samping adiknya.


"Apa?" Tanya Dahlia yang juga penasaran isi paper bag itu.


"Ponsel."


"Ponsel?"


"Hmm," jawab Lily hanya dengan bergumam.


"Coba ada nama pengirimnya tidak?" Kata Dahlia dan Lily mengikuti apa kata kakaknya.


Lily tersenyum begitu melihat nama si pengirim.


"Siapa?"


"Suamiku, aku ke kamar dulu ya Kak," kata Lily yang dengan cepat menghilang menuju kamar sempit yang dulu ditempatinya.


Setelah mengutak-atik ponsel barunya, Lily pun dengan segera menelpon suaminya, Lily sangat merindukan Jason.


Untuk kesekian kalinya Lily menelpon Jason, tapi panggilannya tidak diangkat.


"Kemana sih kamu sayang?" Ucapnya berbicara sendiri sambil terus berusaha menelpon suaminya.


Merasa kesal, Lily pun keluar lagi, dan kembali menghampiri kakaknya yang masih betah menonton tayangan televisi.


"Kenapa mukanya ditekuk gitu?" Kata Dahlia sambil memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya, temannya menonton.


"Jason, aku telepon tidak diangkat-angkat," ucap Lily mengadu.


"Mungkin sudah tidur," jawab Dahlia yang tidak memalingkan sedikitpun wajahnya dari layar televisi di depannya.


"Ini jam berapa masih tidur? Memangnya dia tidak bekerja apa?" Kata Lily kesal.


Mendengar itu, Dahlia langsung menatap adiknya.

__ADS_1


"Memang kamu pikir jam disini dan disana sama? Sekarang pasti hampir tengah malam disana," kata Dahlia geleng-geleng kepala, karena adiknya tidak mengerti hal itu.


"Benarkah? Kakak tidak bohong?" Tanya Lily menatap kakaknya dengan tatapan menyelidik.


"Nih anak dikasih tahu tidak percayaan," kata Dahlia kini kembali fokus pada apa yang tadi dilakukannya.


"Apa iya Kak?"


"Hmm," jawab Dahlia hanya dengan gumaman.


Tapi tak lama ponsel Lily pun berdering, Lily dengan semangat segera mengambil ponselnya, tapi lantaran dirinya harus kecewa karena ternyata yang menghubunginya bukan sang suami tercinta, melainkan kakaknya.


"Halo Kak,"


"Kakak tunggu di depan, kita pergi sekarang."


"Memangnya mau kemana?" Tanya Lily karena Al tiba-tiba mengajak dirinya pergi


"Nanti kamu juga akan tahu, cepatlah kita tidak punya waktu lagi."


"Ya sudah, sini kakak masuk dulu, aku akan siap-siap."


"Tidak usa, Kakak akan menunggu disini saja, kamu buruan ya, ingat gak pakai lama," kata Al sebelum akhirnya dirinya mengakhiri panggilan.


"Iya, Kak Lia bisa keluar dulu gak temani Kak Al aku mau siap-siap," pinta Lily.


"Memangnya kau mau kemana?" 


"Tidak tahu, Kak Al yang mengajakku pergi, aku tanya jawabnya cuma nanti kamu akan tahu," kata Lily menirukan ucapan kakaknya tadi.


"Oh."


"Hanya itu?" Tanya Lily mendengar respon kakaknya yang hanya ber oh ria.


"Lalu kakak harus apa? Jungkir balik?" kata Dahlia dan Lily hanya mendengus kesal.


"Tau ah, ya sudah aku mau siap-siap dulu," kata Lily yang segera beranjak dari duduknya.


Lily kemudian kembali menoleh, "Kenapa Kakak masih diam disitu?"


"Tidak, Kakak tidak mau keluar, biarin saja dia," kata Dahlia setelah berpikir cukup lama.


"Ya sudah," ucap Lily yang tidak mau memaksa kakaknya, dirinya pun kemudian masuk ke kamar untuk bersiap-siap.


Setelah bersiap-siap Lily pun segera keluar dan masuk ke mobil kakaknya.

__ADS_1


"Kita mau kemana Kak?" Tanya Lily sambil memasang seatbelt.


"Nanti kamu juga tahu," kata Al memandang adiknya kemudian dengan segera melajukan mobilnya.


***


Jason menutup laptopnya dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah cukup lama berkutat dengan benda itu. Jason mengambil ponselnya yang dia tinggal di meja samping tempat tidur. Jason sedari tadi tidak bisa tidur, karena kepikiran istrinya terus, dirinya pun memutuskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Jason ingin segera pulang dan menemui istrinya, dia sangat merindukan istrinya.


Diambilnya ponsel yang dari tadi hanya tergeletak. Percuma pegang ponsel kalau sang istri tidak menghubunginya itu yang Jason pikirkan.


Jason tersenyum saat melihat beberapa kali Lily menghubunginya, tapi dia tidak langsung menghubungi istrinya balik, dia lebih memilih melihat pesan yang Kakak Iparnya kirim dan Jason lebih merasa bahagia lagi.


"Aku akan jadi seorang Ayah, aku benar-benar akan menjadi Ayah," gumamnya dengan senyuman lebar dan dengan tidak sabar, Jason menghubungi nomor istrinya.


"Halo sayang," kata Lily dari seberang telepon begitu semangat.


"Halo, maaf tadi aku…"


"Sayang aku hamil, kita sebentar lagi akan punya anak," ucap Lily cepat memotong ucapan suaminya, wanita itu tampak sangat bahagia.


"Benarkah? Aku akan jadi seorang Ayah?" Tanya Jason yang memilih berpura-pura tidak tahu walaupun sebenarnya dia sudah tahu, dan bisa dikatakan dialah yang lebih dulu tahu, setelah dokter yang waktu itu memeriksakan dirinya tentunya.


"Iya sayang, aku sangat senang, tapi sayang kenapa aku tidak menyadarinya ya, malah Kak Al yang tahu, Kak Al tadi mengajakku untuk mengecek ke dokter, lucu sekali ya," kata Lily mengadu dan disusul dengan tawa wanita yang begitu Jason cintai itu.


"Sebenarnya bukan Kak Al yang tahu, tapi aku, Kak Al hanya menuruti permintaanku untuk mengajakmu ke dokter, dan jelas saja kamu tidak menyadarinya karena aku yang mengalaminya, tapi setidaknya aku merasa lega, karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan tadi pagi," kata Jason yang tentunya hanya dalam hati saja.


Jason sengaja tidak memberitahu istrinya jika dia yang lebih dulu tahu, karena dia tidak ingin istrinya kecewa. Jason tadi sudah membaca beberapa artikel tentang kehamilan, katanya wanita hamil lebih cenderung sensitif, jadi Jason tidak mau istrinya merasa jika sebagai Ibu, dia bukan orang pertama yang tahu keberadaan janin di kandungannya.


"Sayang kenapa diam saja, kamu tidak senang dengan kabar kehamilanku?" Tanya Lily dengan suara yang lirih.


"Hei apa yang kamu bicarakan? Tentu saja aku senang, sangat senang malah, aku hanya masih terkejut saja, akhirnya aku akan menjadi seorang ayah," jawab Jason segera.


"Iya aku juga tidak menyangka sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," kata Lily tersenyum.


Jason kini merubah panggilan biasa menjadi video, dan Lily pun langsung senang dan menerimanya.


Kemudian wajah keduanya pun kini hampir memenuhi layar di ponsel lawan bicaranya.


Jason dan Lily sama-sama terlihat tersenyum.


"Sayang aku merindukanmu," kata Lily yang tentunya membuat Jason bahagia.


"Hmm aku lebih sangat-sangat merindukanmu," ucap Jason yang tidak mau kalah.


Mereka kemudian sama-sama diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya saling memandang tentunya dengan senyuman lebar menghiasi wajah keduanya.

__ADS_1


__ADS_2