Please Love Me

Please Love Me
Bab 185


__ADS_3

"Aku tidak melakukan apapun," Liora menyingkap selimut dan langsung turun dari ranjang.


"Apa yang kau lihat?" Liora dengan segera menutup dadanya dengan kedua tangannya saat melihat Ronald menatapnya atas sampai bawah.


"Tidak, hanya saja, kau memakai kemejaku sudah seperti memakai gaun saja," ucap Ronald tertawa kemudian berlalu.


"Ini semua salahmu, jika semalam kamu tidak muntahin pakaianku, aku tidak harus memakai kemeja kebesaran ini!" Teriak Liora yang tidak terima karena Ronald menertawakannya.


Liora hendak ke kamar mandi, untuk membasuh wajahnya, tapi langkahnya berhenti, saat melihat selimut yang terlipat rapi di sofa beserta dengan bantal. Liora baru teringat, semalam saat dia masuk ke apartemen Ronald, Liora memapah pria itu, membaringkan dia di atas kasurnya, setelah mengganti pakaian Ronald, Liora juga mengganti pakaiannya, dia mengambil salah satu kemeja Ronald dan memakainya. Liora yang merasa lelah dan melihat jam yang sudah menunjukkan hampir pukul satu malam, akhirnya mengambil satu bantal di ranjang Ronald, bahkan mencari selimut, kemudian berbaring di sofa, dan sekarang saat dia terbangun, dia justru yang tidur di ranjang pria itu, dan bisa Liora tebak jika Ronald yang bergantian tidur di sofa. Tidak ingin memikirkan itu semua, Liora pun bergegas ke kamar mandi, tapi sebelumnya dia menghubungi seseorang untuk mengantarkan pakaian untuknya.


Dan di kamar mandi, Liora tidak melihat pakaiannya yang dipakainya kemarin, Liora ingat dengan jelas, semalam dirinya merendam pakaian di sana.


"Apa jangan-jangan…, sudahlah nanti aku tanyakan saja padanya," gumam Liora yang kemudian memutuskan untuk segera mandi, jika tidak dirinya pasti akan terlambat.


Sesudah membersihkan diri, Liora keluar dari kamar dan yang didapati begitu dia ada di luar kamar, aroma masakan begitu menyeruak di hidung mancungnya. Dengan perlahan Liora pun berjalan ke dapur, hingga akhirnya Liora melihat pemandangan yang begitu langkah. Ronald dengan mengenakan celemek berwarna hitam tengah berkutat dengan alat-alat dapur, bahkan Liora sebagai seorang gadis jangankan masak, masuk ke dapur juga sangat jarang dia lakukan. Dulu waktu bersama ibunya, Dirinyaa sama sekali tidak diizinkan ke dapur, bukan karena apa, Dea hanya takut jika terjadi apa-apa dengan gadis itu yang sudah seperti putri kandungnya sendiri. Karena pernah pada suatu hari, Liora hampir saja membakar dapur jika Dea tidak cepat-cepat pulang. Sedangkan di rumah kedua orang tua kandungnya, hampir semua pekerjaan dilakukan oleh pelayan, kecuali jika kakak Iparnya ada disana karena pasti Kakak Iparnya lah yang akan memasak untuk mereka sekeluarga. Mungkin juga karena Liora putri satu-satunya mereka apalagi mereka pernah berpisah dengan Liora belasan tahun lamanya, hingga baik William maupun Tiffa tidak menuntut Liora untuk bisa melakukan segala hal. Mereka membebaskan Liora untuk melakukan apapun yang dia suka.


"Kenapa malah bengong disana?" Tanya Ronald yang melihat Liora hanya berdiri saja sambil menatapnya tidak jauh darinya.


"Hah tidak."


"Kamu bisa memakai itu!" Ronald menunjuk sebuah paper bag.


Liora mendekat ke arah paper bag yang ditunjuk Ronald, "Ini apa?" Tanya Liora sebelum membuka paperbag itu.


"Buka saja! Itu untukmu," Ucap Ronald tanpa menatap Liora, dirinya saat ini sedang memindahkan makanan yang dimasak ke dalam piring.


Liora pun menurut dan membuka paper bag sesuai perintah Ronald.


"Pakaian, tapi aku…"


Tiba-tiba saja ponsel Liora berdering, dan dengan cepat Liora menerimanya.

__ADS_1


"Maaf Nona sepertinya kami akan terlambat mengantarkan pakaian untuk Anda," ucap seseorang di seberang telepon.


Liora kemudian menatap paper bag yang ditunjuk Ronald, kemudian bergantian menatap Ronald yang kini tengah menatapnya.


"Baiklah, saya cancel saja, terima kasih" ucap Liora kemudian dan mematikan panggilan setelah mendapat jawaban dari orang di seberang telepon.


"Kenapa?" Tanya Ronald.


Liora menggeleng, kemudian mengambil paper bag, yang diberikan pria itu.


"Terima kasih, aku ganti dulu," setelahnya Liora buru-buru masuk ke dalam kamar pria itu, untuk mengganti bajunya.


"Oh iya aku hampir saja lupa menanyakan pakaianku, ya sudah deh nanti setelah ini," gumam Liora.


"Makan dulu!" Ucap Ronald yang melihat Liora sudah kembali.


Liora kemudian mendekat dan duduk, Ronald kemudian menuangkan segelas air putih untuk dirinya dan gadis itu.


"Tunggu! Memangnya siapa yang mencuci pakaianku?" Tanya Liora membatalkan niatnya yang akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kamu?" Tanyanya kemudian.


"Hmm iya."


"Tapi..."


"Sebaiknya kamu cepat habiskan makanannya setelah itu aku akan mengantarmu," ucap Ronald memotong ucapan Liora kemudian memulai sarapannya.


"Baiklah," Liora pun akhirnya menuruti Ronald untuk menghabiskan makanannya.


"Biar aku saja," kata Liora mencegah Ronald mengambil piring bekas makan mereka, Liora merasa tidak enak, dirinya tadi tinggal makan dan sekarang bahkan Ronald yang akan mencuci piring.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Ronald menyerahkannya kepada Liora, dan gadis itu pun membawanya ke tempat cucian piring, Liora menatap piring-piring itu cukup lama, sementara Ronald menyilangkan kedua tangannya bersandar pada pintu kulkas yang tidak jauh dari tempat Liora, tengah memperhatikan gadis itu yang tampak kebingungan.


Merasa di perhatikan, Liora pun menoleh ke arah sebelah kanannya, dan dengan senyum canggung, Liora memutuskan untuk bertanya.


"Hmm ini bagaimana caranya?" 


Ronald menggelengkan kepala, kemudian mendekat dan berdiri di belakang Liora. Menggulung lengan blouse biru muda yang Liora kenakan, meraih tangan kanan Liora, dan mengajari gadis itu bagaimana caranya mencuci piring.


Jantung Liora berdebar kencang, berada sedekat ini dengan pria yang belum lama dikenalnya itu. Apalagi tangan mereka yang saling bersentuhan sambil bermain busa menyapu permukaan piring, kemudian membilas piring-piring yang sudah dicucinya itu. Liora mendongak menatap wajah pria yang lebih tinggi darinya, ada perasaan yang aneh yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya, perasaan yang bahkan Liora sulit untuk menjelaskannya. 


"Sudah," ucap Ronald kemudian melepaskan tangannya dari tangan Liora, kemudian berlalu.


"El, Nona El, hello," ucap Ronald menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah gadis itu yang kini justru kembali melamun.


"Hah? Apa?" 


"Kamu mau berangkat kerja tidak?" Tanya Ronald lagi.


"Iya berangkat, Ayo!" Buru-buru Liora mengambil tasnya.


Ronald tersenyum kemudian meraih tangan Liora, kemudian menariknya menuju wastafel membantu mencuci tangan Liora yang masih ada sisa busa.


"Oh iya, terima kasih, hmm aku tidak melihat tadi," ucap Liora yang menjadi salah tingkah.


"Bagaimana bisa lihat, jika dari tadi terus melamun," gumam Ronald sambil berjalan keluar.


"Kenapa aku gugup gini," Liora memegang dadanya yang berdebar sangat kencang, sambil terus berjalan mengikuti Ronald.


Tuk


"Aww!" Liora mengusap dahinya yang tanpa sengaja menabrak punggung Ronald yang tiba-tiba saja berhenti.

__ADS_1


 


__ADS_2