Please Love Me

Please Love Me
Part 127


__ADS_3

"Halo," ucap Al menjawab panggilan yang baru masuk.


Al tadi sempat tertidur dan begitu mendengar dering ponselnya berbunyi, Al langsung menjawabnya tanpa melihat siapa nama pemanggil.


"Halo," ucap Al lagi saat tidak mendengar suara penelpon.


Al mengucek matanya guna melihat siapa nama yang tertulis di layar ponselnya.


Begitu melihat namanya, Al langsung terlonjak dan duduk bersandar di ranjang, membenarkan posisinya bahkan merapikan rambutnya, sebenarnya Al tidak perlu melakukan itu, karena mereka hanya melakukan panggilan biasa.


"Halo," ucap Al lagi, karena gadis di seberang telepon belum juga mengeluarkan suaranya.


"Ha...lo" jawab Dahlia gugup.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya memastikan saja. Ya sudah kalau begitu aku akan matikan saja."


"Tunggu!" Al segera mencegah Dahlia yang akan memutus panggilan.


"Kenapa Kak?" Tanya Dahlia polos.


"Kenapa Kak?" Al menirukan ucapan Dahlia. "Kamu tidak salah menanyakan hal itu, bukankah seharusnya aku yang bertanya, kamu yang menelponku terlebih dulu, tapi belum mengatakan apa-apa, kamu mau memutus panggilan begitu saja?" Suara Al terdengar kesal dan tidak terima saat Dahlia akan memutuskan panggilan telepon mereka.


Dahlia yang tadinya gugup kini berubah mengernyitkan dahi bingung saat mendengar respon Al.

__ADS_1


"Kak Al kenapa ya, aneh," gumam Dahlia.


"Apa tadi kamu bilang? Aneh? Kamu tidak salah? Kamu sendiri yang menelpon kamu juga yang mau mengakhiri cepat-cepat, coba sekarang kamu pikir siapa yang aneh?"


"Oh soal itu, aku kira Kak Al sibuk makanya aku mau matikan saja, takut mengganggu Kak Al."


"Kalau begitu tadinya tidak perlu menelpon."


"Oh maaf Kak karena sudah mengganggu, ya sudah aku matikan saja ya?"


Belum Dahlia mematikan panggilan terdengar suara seorang pria menyapanya, Dahlia yang melihat temannya datang segera mengakhiri panggilan tanpa menunggu persetujuan Al.


Sementara Al di tempat lain, sibuk menggerutu, "Dasar gadis tidak peka! Tunggu apa tadi? Bukankah tadi ada suara seorang pria? Dia bersama seorang pria? Dia belum sembuh, tapi sudah berani-beraninya ketemuan sama pria? Awas saja!" Al segera turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


***


"Hmm sebenarnya masih kurang puas, tapi aku sangat senang, apalagi ini pengalaman pertama aku, terlebih lagi aku berdua bersama orang yang aku cintai sekaligus mencintaiku," Lily mengelus rambut Jason sambil melihat ke hamparan laut yang luas.


"Pengalaman pertama?"


"Iya baru kali ini aku bisa berlibur, mmm maksudku benar-benar liburan, dulu bahkan aku tidak pernah berpikir bisa datang ke tempat seperti ini, dari dulu aku sibuk dengan kegiatanku, jadi tidak bisa liburan seperti ini, memikirkannya saja pun tidak," Lily tersenyum kemudian pandangannya beralih pada sang suami.


"Dan akhirnya aku bisa bertemu denganmu, kamu yang berhasil merubah hidupku, kamu tahu aku dulu tersenyum, ceria, selalu tertawa dan bertingkah konyol, itu hanya semua hanya kepura-puraan, semua itu aku lakukan untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya, perasaanku yang sedih setiap kali ibu hanya memandangku sebelah mata, perasaanku yang terluka saat Ibu memberikan semua yang Kak Lia inginkan tapi tidak denganku, tapi aku beruntung punya Kak Lia, dia menyayangiku, kadang Kak Lia bilang ke Ibu menginginkan sesuatu, Ibu langsung menurutinya, tapi kamu tahu tidak sebenarnya itu bukan keinginan Kak Lia, itu keinginanku. Sejak bertemu denganmu aku tersenyum, ceria dan bertingkah konyol, itu semua murni keluar begitu saja, apa kamu ingat pertemuan kita? Aku benar-benar menjadi diriku saat itu, tertawa lepas saat mengejarmu, kesal saat kamu membohongiku, intinya aku benar-benar mengekspresikan apa yang aku rasakan."


"Kamu mau ceritakan apa yang dulu kamu lakukan?" Tanya Jason yang kini sudah duduk di samping istrinya, menatap ke dalam mata Lily.

__ADS_1


"Hmm apa ya, tidak ada yang istimewa, pagi sekolah, sore pulang melakukan pekerjaan rumah, malam aku kerja, selalu seperti itu setiap hari, aku bisa bersantai saat tinggal di rumah Kak Al waktu itu, kamu tahu awalnya aku takut saat bertemu dengan Ayah, sampai waktu itu Ayah mau mengantarkanku ke tempat kerja, di sepanjang jalan kita mengobrol, dan disitu aku merasa nyaman, mana tahu jika ternyata Ayah benar-benar Ayah kandungku, jujur aku belum mengerti bahkan sampai saat ini, kadang aku masih tidak menyangka, bagaimana itu bisa terjadi? Aku benar-benar tidak tahu, aku juga sangat penasaran tentang Ibu kandungku, tapi ku rasa aku tidak akan mengerti, jangankan aku, bahkan Ayah dan Kak Al saja belum tahu kebenarannya."


Jason terus memperhatikan istrinya yang sedang bercerita, baru kali ini mereka bisa mengobrol yang benar-benar mengobrol. 


"Kenapa kamu waktu itu menerima Kak Al, hmm sebelum kamu tahu Kak Al Kakak kandungmu?"


"Hmm kenapa ya?" Lily terdiam seolah sedang berpikir.


"Kamu tidak benar-benar menyukainya kan dulu?" Tanya Jason menatap curiga istrinya.


"Suka, mana ada perempuan yang tidak suka sama Kak Al, dia ramah, tidak jutek, yang paling penting sering tersenyum, tidak seperti seseorang."


"Kamu menyindirku?" Jason yang tidak terima langsung menggelitiki istrinya.


"Sayang sudah geli, sayang!" Protes Lily karena sedari tadi suaminya terus menggelitikinya.


Setelah itu, Jason langsung menarik Lily ke dalam pelukannya. "Aku akan menemanimu untuk mengganti apa yang belum pernah kamu rasakan," ucapnya mengecup lama puncak kepala istrinya.


"Hmm akan aku tunggu dimana waktu itu tiba," Lily mendongak mengecup sekilas bibir Jason.


"Kok cuma sebentar," protes Jason.


"Katanya kamu mau dengar alasan kenapa aku memutuskan menerima Kak Al saat itu, jadi tidak, kalau tidak ya sudah."


"Ya aku akan mendengarnya, sekarang cepat katakan!" Jason sudah tidak sabar lagi, untuk mengobati rasa penasarannya selama ini.

__ADS_1


"Karena saat itu aku merasa bahwa mencintaimu aku tidak punya harapan, aku hanya bisa mengagumi tanpa bisa memilikimu, apalagi saat kamu bilang bahwa cintamu sudah milik gadis lain, dan aku tidak berhak merebut cinta yang sudah cukup lama tertanam di hati kalian, dan akhirnya aku menyerah, hidupku kembali seperti dulu, hingga saat itu Kak Al datang membawa seluruh cintanya yang tidak bisa aku dapatkan darimu, aku tahu rasa sakitnya di tolak, dan aku tidak mau orang lain juga merasakan apa yang aku rasakan, hingga aku mencoba memberi Kak Al kesempatan, mungkin saja jika aku bersama Kak Al, aku bisa melupakanmu, nyatanya perasaanku terhadapmu masih saja sama, tidak ada yang berubah sedikitpun, aku tetap mencintaimu."


 


__ADS_2