Please Love Me

Please Love Me
Bab 203


__ADS_3

"Kenapa kau tidak mengatakan jika kamu punya kakak lagi?" Ronald bertanya ketika mereka tiba-tiba sama-sama terdiam.


"Memangnya perlu? Lagian kamu sendiri tidak bertanya, masa iya aku tiba-tiba mengatakan hei aku punya kakak lagi loh, kakakku ada dua, laki-laki semua, memangnya aku harus seperti itu," ucap Liora yang kemudian menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran.


"Ya maksudku tidak begitu juga, lagian memangnya jika aku bertanya kamu akan pasti menjawab?"


"Ya tidak juga, tergantung, ya sudah ayo turun!" Liora membuka pintu mobil lalu turun.


"Tunggu kenapa jadi turun disini!" Gumam Ronald yang segera keluar dari mobilnya menarik Liora, mencegah agar gadis itu tidak masuk.


"El kenapa kesini?" Tanya Ronald memegangi tangan Liora.


"Kenapa?" Liora mengernyitkan dahinya. "Ya tadi bukannya kamu bilang lapar, ya sudah aku turun di depan restoran, memangnya salah? Lantas salahnya dimana?"


"Aku tidak mau!" Kata Ronald menarik tangan Liora kembali menuju mobilnya, membuka pintu mobil dan kemudian menyuruh Liora untuk masuk.


"Masuk El!" Perintah Ronald.


Liora hanya mendengus kesal dan dengan terpaksa menuruti perintah pria itu.


Begitu Liora sudah masuk, Ronald berlari kecil mengitari mobil dan masuk kemudian segera melajukan mobilnya.


Hening, itulah suasana di dalam mobil saat ini, Liora dan Ronald sama-sama terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.


"El!"


"Hmm."


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Hmmm"


"Apa kamu anak kandung Tuan William?"


"Hmmm"


"El aku tanya benar-benar, tapi kamu cuma jawab hmm, hmmm doang," kesal Ronald karena Liora terus saja menjawab pertanyaannya hanya dengan gumaman.


"Terus? Yang penting jawabanku bisa menjawab rasa penasaranmu kan?"

__ADS_1


"Ya tinggal bilang iya atau tidak saja apa susahnya sih, ini malah sedari tadi jawabnya hanya hmm, hmm, hmmm terus bikin kesal saja deh."


"Sekarang kita mau kemana?" Liora malas menanggapi ucapan Ronald dan dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan, lagian Liora bertanya juga karena memang tidakĀ  tahu kemana pria itu akan membawanya pergi.


"Nanti kamu juga tahu, sebentar lagi kita sampai," ucap Ronald.


Dan tak lama kemudian apa yang pria itu katakan memang benar. Ronald kini menghentikan mobilnya di depan sebuah supermarket.


"Kenapa kita berhenti disini? Bukannya tadi kamu bilang lapar?" Tanya Liora heran.


"Hmm aku memang lapar, tapi aku ingin makan masakan kamu, jadi ayo turun! Kita belanja dulu, di rumah tidak ada bahan masakan kan?" kata Ronald tersenyum.


"Tidak, tidak, aku tidak bisa, jangan aneh-aneh deh, nanti seperti tadi pagi lagi, belum lagi, nanti ayah kamu komen, aku tidak mau," kata Liora melipat kedua tangannya tidak mau turun.


"Ayolah El! Lagian Ayah dia tidak ada di rumah, dia sedang menemui temannya selagi ada disini, jadi kamu tenang saja dan tidak perlu khawatir akan mendapat komentar dari Ayah."


"Tidak Ronald, aku tidak mau, ya sudah, bagaimana kalau aku yang memasak," tawar Ronald dan Liora pun cepat-cepat turun dari mobil.


Ronald hanya menggelengkan kepalanya, kemudian melihat ponsel Liora tertinggal di mobilnya.


Ronald mengambil ponsel yang saat ini berbunyi dengan nama Kak Max tertera di layar.


Tuk


Tuk


Terdengar Liora mengetuk kaca mobilnya. Ronald pun akhirnya keluar.


"Ngapain aja sih, lama banget, tadi katanya mau belanja."


"Maaf tadi dompetku jatuh dan aku mengambilnya," jawab Ronald beralasan.


"Oh ya sudah ayo cepat, belum belanja, belum juga masaknya ntar malah kelamaan jadinya."


"Iya, iya, ya sudah ayo!" Ronald menggandeng tanga Liora tapi Liora justru melepaskannya.


"Tidak usa modus," ucap Liora kemudian berjalan lebih dulu.


"Modus? Hmm tidak juga, hanya saja mengambil kesempatan dalam kesempitan saja sih," gumam Ronald tersenyum kemudian berjalan cepat menyusul Liora.

__ADS_1


*


*


"Apa yang ingin Ayah katakan?" Tanya Lily yang sudah penasaran saat Ayahnya bilang akan ada yang disampaikan selesai makan malam.


"Suamimu mana?" Tanya Alan yang belum mau mengatakan karena menantunya belum berada disana.


"Tadi sedang menerima telepon, mungkin sebentar lagi selesai."


"Oh yaudah, kita tunggu saja suamimu," jawab Alan menyandarkan tubuhnya kembali di sofa dan menonton tayangan yang ada di layar televisi.


"Sebenarnya apa yang ingin Ayah katakan? Apa ini ada hubungannya dengan Ibu Dea?" Tanya Lily mencoba menebak apa yang akan ayahnya itu katakan.


"Tunggu sebentar lagi ya sayang," ucap Alan hingga kemudian arah pandang Alan tertuju pada tangga.


"Sini Jason!" Alan langsung memanggil Jason saat melihat menantunya itu berjalan menghampiri mereka.


Jason pun kini duduk di samping istrinya. "Ada apa Yah?" Tanya Jason menatap ayah mertuanya.


"Ayah dan Dea memutuskan akan menikah, jadi Ayah mau minta tolong sama kalian anak-anak Ayah untuk mempersiapkannya, kalian tahu kami sama-sama sibuk, jadi tidak bisa mempersiapkan itu semua," Alan menatap anak dan menantunya bergantian.


Lily tersenyum, akhirnya apa yang dia harapkan akhirnya bisa terwujud, Ayahnya kini sudah menemukan pendampingnya dan Lily tentu saja akan melakukan yang terbaik.


"Ayah ingin acara yang seperti apa?" Tanya Lily dengan senyuman yang tidak pudar dari bibirnya.


"Ayah ingin yang sederhana tapi berkesan terutama untuk Dea," jawab Alan.


Awalnya Alan berpikir untuk mengadakan acara akad saja dan hanya mengundang keluarga dekat, tapi Alan tidak mau egois, bagaimanapun ini adalah pernikahan Dea yang pertama dan Alan ingin membuatnya menjadi berkesan bagi wanita itu.


"Baiklah, Ayah terima beres saja, Ayah tinggal katakan kapan dan dimana, nanti biar Ale yang cari konsepnya. Masalah yang lain juga nanti akan Ale persiapkan dan akan menyerahkan pada Ayah dan Ibu untuk meminta pendapat."


"Baiklah, makasih sayang," kata Alan memeluk putrinya yang duduk di sampingnya lebih tepatnya duduk diantara dua pria yang menyayanginya.


"Oh ya Yah, bagaimana dengan Kak Al? Apa Kak Al akan pulang?" Tanya Lily menanyakan tentang kakaknya itu.


"Ayah sudah menghubunginya, tapi Al bilang tidak bisa pulang," jawab Alan yang wajahnya kini murung saat mengingat bahwa putra pertamanya tidak bisa datang di hari bahagianya.


"Kak Al keterlaluan, ini kan hari bahagia Ayah, harusnya dia pulang walaupun cuma sebentar bukan? Hmm pokoknya Ayah tenang saja, nanti biar Ale hubungi Kak Al lagi, kalau perlu Ale akan terbang dan menyusul Kak Al untuk menyeretnya pulang," kata Lily kesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, yang penting salah satu anak Ayah sudah ada yang mendampingi, itu saja sudah membuat Ayah senang, masalah Al biarlah, dia juga belum lama pergi, jadi pasti tidak enak jika harus ijin, biarkan Kakakmu belajar dengan tenang hingga nanti bisa menjadi seorang dokter yang hebat," kata Alan yang meyakinkan kepada putrinya bahwa dirinya baik-baik saja walaupun putranya tidak bisa hadir di hari bahagianya.


__ADS_2