
Liora bangun mengedarkan pandangan dan merasa asing pada tempat dimana dirinya berada saat ini. Liora menyibak selimutnya, dan turun dari ranjang, Liora membuka pintu dan keluar dari kamar itu. Terakhir kali dia bersama Jack, lalu dimana pria itu? Itu yang ada dalam pikiran Liora karena Liora sama sekali tidak melihat Jack.
Liora menatap sekeliling, mencari petunjuk dimana dirinya sekarang, yang Liora temukan adalah sebuah pigura besar. Ada pria dan wanita dewasa dengan bayi dalam pangkuannya, yang Liora yakin itu adalah pasangan suami istri dan anak mereka.
Liora menuruni anak tangga perlahan, "Apa ini rumah Jack?" Tanyanya dalam hati, karena jujur Liora memang tidak tahu rumah Jack.
Saat Liora akan melangkah keluar, langkahnya terhenti saat mendengar suara orang yang dikenalnya.
"Mau kemana kamu?"
Liora mencari-cari darimana suara itu berasal, hingga pandangannya jatuh pada dua orang yang kini duduk di sofa.
"Kak Max? Jack?" Liora berjalan menghampiri kedua pria itu.
"Kak Max ada disini?" Liora menepuk kepalanya pelan setelah mengingatnya, jelas saja kakaknya ada disana, karena kakaknya yang menyuruh Jack membawanya.
"Duduk!" Perintah Max dan Liora pun hanya menurut.
"Saya permisi dulu Tuan," pamit Jack membiarkan kakak adik itu berbicara.
Max hanya mengangguk, Liora menatap Jack seolah memohon agar pria itu tetap berada disana. Tapi Jack berpura-pura tidak tahu dan memilih melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Apa saja yang pernah kau lakukan dengan pria buaya itu?"
Liora yang menunduk langsung mengangkat kepalanya menatap sang kakak.
"Maksud kakak?"
__ADS_1
"Tidak perlu diperjelas ucapan kakak, kakak tahu kamu tahu apa yang kakak maksud."
"Aku benar-benar tidak tahu, sudahlah jika tidak ada yang ingin kakak bicarakan, lebih baik aku pulang sekarang!" Kata Liora yang langsung bangun dari duduknya.
"Berhenti disitu Liora! Kakak belum selesai berbicara," teriak Max marah karena Liora selalu menghindar jika dirinya sudah membahas Ronald.
"Tadi aku sudah memberi kesempatan Kak Max untuk berbicara, tapi Kak Max justru menanyakan hal yang sama sekali tidak aku mengerti, jadi aku rasa memang tidak ada hal yang perlu dibicarakan.
Liora benar-benar kesal, sebenarnya bukan dia tidak mengerti maksud ucapan kakaknya tapi Liora merasa marah saat kakaknya tiba-tiba menanyakan hal seperti itu, seolah menganggap dirinya gadis yang sama dengan wanita yang beberapa kali berkencan dengan Ronald.
Sementara itu Max menarik nafasnya dalam-dalam, sepertinya berbicara keras dengan Liora tidak akan berakhir baik, dia akan mencoba berbicara pelan-pelan dengan adik perempuan satu-satunya itu.
"Maafkan Kakak, sekarang kamu duduk dulu," ucap Max dengan suara yang lebih lembut.
Liora pun kembali duduk, "Jadi apa yang ingin kakak tahu sebenarnya?"
"Di Bandara."
"Sudah berapa lama?"
"Belum lama, saat Papi dan Mami kembali dari tempat Kak Flo."
"Beberapa bulan yang lalu dan kau sudah pulang ke apartemen pria itu?" Marah Max langsung bangun dari duduknya.
"Kak Max...darimana Kak Max tahu?" Liora terkejut dan tidak menyangka jika Max tahu sewaktu dirinya menginap di apartemen Ronald.
"Jadi benar?"
__ADS_1
"Kak… tapi Kak itu semua tidak seperti yang Kak Max pikirkan, diantara kami tidak ada apa-apa, maksudku kami sama sekali tidak melakukan apapun, aku berani bersumpah," kata Liora meyakinkan kakaknya.
"Bagaimana kakak bisa percaya dengan ucapanmu?"
"Kak, sungguh kami tidak melakukan apapun, Kak aku tahu bagaimana Ronald, aku juga berulang kali melihat dia bersama dengan beberapa wanita, tapi Kak Ronald sama sekali tidak berbuat seperti itu kepadaku, Ronald sangat menghormatiku," kata Liora menjelaskan.
"Tapi percuma saja, aku jelaskan seperti apa Kak Max juga tidak akan percaya, aku sendiri tidak percaya, aku kira Ronald memanfaatkan dalam kesempitan, tapi Kak Ronald benar-benar tidak melakukannya. Jika Ronald mau, Ronald pasti sudah menyentuhku, dia punya kesempatan untuk melakukannya, tapi dia memilih untuk tidak melakukannya, dan itu tidak hanya sekali tapi beberapa kali, sejak saat itu aku yakin jika Ronald bukan pria seburuk itu."
Max terdiam mendengarkan penjelasan adiknya, Max tahu adiknya berkata jujur, Max tidak menemukan kebohongan di mata adiknya, tapi bagaimanapun Max tidak mau percaya begitu saja, bukan tidak percaya pada adiknya tapi tidak percaya pada Ronald, dia takut jika itu hanya tipu muslihat Ronald agar bisa mendapatkan adiknya.
"Liora maafkan kakak, tapi sebaiknya kamu jauhi dia, kamu tahu? Kakak takut terjadi sesuatu sama kamu karena kesalahan kakak dulu, jadi kakak minta tolong sama kamu jangan mudah percaya padanya, kamu belum lama mengenalnya, bagaimana jika yang dia tunjukkan bukan sifat aslinya, bagaimana jika itu triknya agar bisa mendapatkanmu, setelah mendapatkanmu dia baru menunjukkan sifat aslinya?" Max berjalan mendekat ke arah Liora, kedua tangannya terangkat memegang kedua bahu adiknya.
"Jadi Kakak mohon sama kamu, Kakak tidak ingin kamu sampai salah memilih, Kakak tidak ingin kamu disakiti."
Liora menurunkan kedua tangan Max dari kedua bahunya, "Aku tahu kekhawatiran Kak Max, tapi Kak, Kakak harus percaya padaku, aku pasti akan menjaga diri baik-baik, aku akan bertanggung jawab pada apa yang sudah aku pilih, sakit? Bukankah sebelumnya aku juga pernah merasakannya? Sakit itu hal yang biasa Kak, tidak ada manusia yang tidak merasakan sakit, semua pasti pernah merasakannya, rasa sakit itu, walaupun mungkin penyebabnya berbeda-beda."
"Tapi Liora…"
"Aku janji Kak, aku akan menjaga diriku baik-baik dan aku janji, sekali saja dia menyakitiku, sekali saja dia sampai berbuat buruk padaku, aku janji akan meninggalkannya, aku janji kak, jadi Kakak tidak perlu khawatir," jawab Liora meyakinkan Max.
Max menghela nafas lagi, menatap adiknya.
"Kakak percaya kan sama aku? Tolong beri kesempatan untuknya!"
"Baiklah, Kakak akan memberikan kesempatan untuknya, tapi kamu harus menepati janjimu," ucap Max dan Liora pun mengangguk.
"Jika kamu sampai memohon pada kakakmu untuk memberinya kesempatan, jadi bagaimana denganku? Apa kau tidak bisa memberikanku sedikit saja kesempatan untuk bisa mendapatkan hatimu," kata seseorang di balik dinding, menatap Max dan Liora yang kini tengah berpelukan.
__ADS_1