Please Love Me

Please Love Me
Bab 242


__ADS_3

Jason semakin dibuat panik saat kini istrinya mencengkram tangannya cukup kuat. Apalagi melihat peluh yang membasahi wajah wanita cantik itu.


"Sayang kamu kenapa?"


"Sa...sakit sekali!" Ucap Lily.


"Tunggu...tunggu dulu, sayang apa ini sudah waktunya? Tapi kan, kata dokter kemungkinan lusa, kenapa...?"


"Akh sayang sakit!"


"Tunggu sebentar," Jason segera menghubungi sopir untuk menyiapkan mobil, tak lupa juga, Jason menghubungi mertuanya yang memang sudah ada di rumah sakit. 


"Akh!" Lily memegang perutnya yang tiba-tiba merasa sakit lagi. 


"Sayang sakit," Lily memegang tangan Jason kuat.


"Iya, kita berangkat sekarang, tunggu sebentar!" Jason mengambil perlengkapan Lily dan segera menggendong istrinya itu, berlari keluar.


"Ibu," ucap Lily yang kini teringat ibunya yang dia tinggal.


"Nanti aku akan minta sopir untuk menjemput ibu," ucap Jason yang terus berjalan keluar.


Lily mengangguk, meremas baju suaminya saat sakitnya semakin terasa.


Sopir segera membukakan pintu untuk majikannya itu, begitu Lily dan Jason masuk, sopir segera mengitari mobil dan segera melajukannya ke rumah sakit. 


"Sayang!" Kuku-kuku jari Lily menancap di lengan suaminya.


"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai," ucap Jason mengecupi puncak kepala Lily membiarkan Lily melampiaskan rasa sakit padanya.


"Lebih cepat Pak, tapi tetap harus hati-hati," perintah Jason sekaligus mengingatkan.


"Baik Tuan."


Jason terus merapalkan doa, agar istri dan anaknya selamat.


Kini mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Alan dan Dea sudah menunggu putri mereka.


Perawat dengan sigap membawa Lily, dan setelah diperiksa, dokter meminta perawat untuk membawa Lily ke ruang bersalin segera, karena sudah waktunya. Jason, Alan, dan Dea mengikutinya.


"Saya akan ikut masuk dokter!"


Dokter mengangguk dan mempersilahkan Jason masuk untuk menemani istrinya melahirkan.


*


*

__ADS_1


"Mami!" Liora yang tadinya rebahan kini merubah posisinya menjadi duduk, begitu melihat maminya datang ke kamarnya.


"Bagaimana Mi?" 


Tiffa menghela nafas dan duduk di hadapan putrinya, lalu menggeleng.


Liora menekuk wajahnya melihat itu, dia yakin jika maminya tidak berhasil membujuk sang papi.


"El harus bagaimana Mi? El tidak mau Mi, terlebih El sama sekali tidak mengenal orang yang papi maksud itu."


Tiffa langsung memeluk putrinya, "Maafkan Mami sayang," ucapnya ikut merasa sedih karena tidak bisa membantu putrinya.


Tiffa kemudian melepaskan pelukannya dan menatap sang putri, "Tapi sayang, Papi kamu kan sudah ngasih waktu kamu 2 tahun, semoga saja kamu segera menemukan tambatan hati kamu."


"Tapi Mi."


"Sst! Sudah ya, jangan sedih lagi, Mami ikut sedih jika kamu sedih," kata Tiffa kembali memeluk putrinya.


"Sudah malam lebih baik kamu istirahat," kata Tiffa mengecup kening Liora sebelum akhirnya berlalu keluar.


Liora hanya bisa menatap kepergian maminya dengan wajah murung. Dirinya harus memikirkan cara untuk mengatasi masalahnya, saat akan berbaring, Liora mengurungkan niatnya saat mendengar ponselnya berdering.


"Ibu," gumamnya saat melihat nama yang tertera di ponselnya.


Liora segera menjawab telepon itu, dan dirinya langsung bersiap begitu mendengar kabar dari ibunya.


"Mi, El mau pergi dulu," pamit Liora buru-buru berlari keluar.


"Kamu mau kemana?" Teriak Tiffa saat melihat jam di dinding yang hampir menunjukkan waktu tengah malam.


"Lily melahirkan, El harus ke rumah sakit sekarang," jawab Liora setengah berteriak.


Dan dengan segera dia memasuki mobil menuju rumah sakit tempat Lily dibawa. Beberapa menit kemudian mobil Liora pun sudah sampai di halaman rumah sakit.


Liora melewati lorong mencari kamar rawat Lily, begitu dia sudah mendapatkan kabar dari ibunya dimana Lily sekarang.


"Akhirnya kamu sampai, kamu sama siapa?" Tanya Dea melihat sekitar, mencari siapa yang mengantar putrinya.


"Liora sendiri Bu."


"Kamu tidak apa-apa?" Dea memeriksa tubuh Liora memastikan jika putrinya baik-baik saja.


"Ibu, Liora baik-baik saja Bu, sekarang dimana Lily? Bayinya laki-laki atau perempuan?" Tanya Liora penasaran.


Dea tersenyum, kemudian menggamit tangan Liora untuk segera masuk.


"Kak Liora kau datang," ucap Lily tersenyum senang.

__ADS_1


"Tentu dong, aku harus datang melihat keponakanku, dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Liora lagi, karena belum mendapatkan jawaban dari ibunya.


"Perempuan," jawab Lily.


Kemudian arah pandang Liora tertuju pada sosok bayi mungil di pangkuan Alan. Liora mendekat dan duduk di samping pria yang sudah menjadi ayahnya, yah walaupun tanpa hubungan darah, nyatanya Alan tetap menyayanginya, layaknya putri sendiri.


"Cantik," ucap Liora mengelus lembut pipi bayi Lily.


"Terima kasih Bibi El," ucap Alan menirukan suara anak kecil. 


Dea kemudian menghampiri suaminya dan duduk di samping kanan pria itu. Dan kini Alan duduk diapit oleh dua wanita cantik itu.


Dea memperhatikan interaksi Alan dan Liora saat ini, dan dia tersenyum melihat keduanya. Dan karena begitu fokusnya menatap Alan dan Liora. Dea sampai tidak sadar jika kini Alan menoleh dan menatapnya.


"Kamu mau menggendongnya?" Tanya Alan pada sang istri. 


Dan tentu saja dengan senang hati, Dea segera mengambil alih bayi Lily dan meletakkan di pangkuannya. Alan kemudian bangun dan menghampiri putrinya.


Jason membiarkan ayah mertuanya duduk dan Lily tersenyum saat melihat ayahnya duduk kemudian menggenggam tangannya.


"Aku keluar dulu, jemput Ibu kamu," ucap Jason pada Lily setelah mendapat kabar dari sopir yang tadi dia perintahkan untuk menjemput Vega.


"Ibu sudah datang?"


Jason tersenyum dan mengangguk, Jason kemudian mencium kening Lily sebelum akhirnya dia pamit pergi.


"Selamat ya, Ayah ikut bahagia akhirnya Ayah memiliki seorang cucu," ucap Alan mengelus rambut putrinya.


Lily tersenyum, "Makasih ya, Ale juga tidak menyangka, sekarang bisa jadi seorang Ibu." Arah pandang Lily kini tertuju pada Liora yang sedang memperhatikan putrinya.


Alan pun mengikuti kemana arah pandang Lily, dia ikut tersenyum melihat sang istri yang kini tersenyum lebar memangku cucu mereka.


"Bu, aku juga ingin memangkunya," ucap Liora tiba-tiba.


"Bibi El mau memangku kamu katanya sayang," ucap Dea berbicara dengan bayi yang masih memejamkan mata.


"Sama Bibi El dulu ya?"


"Tunggu Bu, tapi aku takut, anak Kak Vano sama Kak Max aja aku tidak berani," kata Liora tiba-tiba.


Dea tersenyum, dan tetap memindahkan bayi Lily dipangkuan Liora, sambil mengarahkan Liora bagaimana caranya nanti menggendong bayi.


"Bagaimana? Mudah kan? Masih takut?"


Liora menggeleng, "Tidak Bu," jawabnya kemudian kini fokus pada bayi di pangkuannya itu.


Tak lama arah pandang mereka semua tertuju pada pintu yang terbuka, Jason dan Vega masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya Vega masih merasa malu pada Alan jika langsung berpapasan dengan pria itu, dia masih merasa tidak enak karena apa yang dulu dia lakukan pada Lily, apalagi pria itu, juga tidak banyak bicara, dan kini, saat melihat kedatangannya, Alan pun hanya diam menatapnya sekilas, kemudian segera mengalihkan pandangan dan Vega merasa tatapan Alan padanya seperti menandakan jika pria itu tidak menyukainya, makanya saat Lily meminta dia tinggal di rumahnya, Vega selalu berusaha menolaknya, karena dia benar-benar merasa sungkan pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2