Please Love Me

Please Love Me
Bab 207


__ADS_3

"Kenapa dia tidak bisa dihubungi?" Ronald tampak gelisah berjalan mondar-mandir sambil memegang ponselnya yang ditempelkan di telinga.


"Ayo Ronald, kita berangkat sekarang!" Kata Mike menghampiri putranya.


Hari mereka akan kembali ke negaranya, untuk mengurus kepindahan Davian sekalian menjemput Davian dan istrinya.


"Tunggu sebentar Yah," jawab Ronald yang tidak ingin pergi sebelum bisa menghubungi Liora.


"Ronald nanti kita terlambat," ucap Mike mengingatkan putranya bahwa mereka mungkin saja akan ketinggalan pesawat jika tidak berangkat sekarang juga.


Ronald menatap ayahnya kesal, "Ini semua gara-gara Ayah, kenapa memajukan jadwal kepulangan sembarangan, padahal kan seharusnya minggu depan, tahu begini semalam aku akan berpamitan padanya" gerutu Ronald.


Mike mendekat ke arah putranya, menempelkan punggung tangan ke dahi Ronald, "Tidak panas, tetapi kenapa sikapmu aneh belakangan ini? Apa ini karena gadis yang bernama Liora itu?" Tanya Mike menatap Ronald dengan tatapan menyelidik.


"Bukan urusan Ayah," kata Ronald menyeret kopernya berlalu lebih dulu.


"Sepertinya aku harus berterima kasih kepada gadis itu, karena sudah membuat putraku banyak berubah," gumam Mike tersenyum menatap punggung putranya yang semakin jauh.


*


*


*


"Sedang apa?" Jason duduk di samping istrinya, tangannya melingkar di tubuh Lily membawa sang istri agar bersandar padanya.


Lily menatap Jason dan menggeleng, "Sedang chat sama Jasmine, oh ya sayang nanti jadi kan kamu temani aku ke dokter?" Tanya Lily, meletakkan ponsel di sampingnya dan kini tangan itu memeluk suaminya posesif.


Jason tersenyum, "Tentu saja, mana mungkin aku tidak menemani istri untuk melihat perkembangan anak kita, sesibuk apapun aku, nantinya akan menjadikan kalian prioritas utamaku," Katanya kemudian menatap sang istri penuh cinta.


"Masa, terus bagaimana kalau Tuan Muda mu itu menyuruhmu bekerja, di saat misalnya aku akan melahirkan nanti?"


"Aku akan menolaknya cepat, kalau perlu aku akan mengundurkan diri jika sampai itu terjadi," jawab Jason yakin.


Dan Lily pun tertawa mendengar ucapan suaminya itu.


"Kenapa tertawa seperti itu? Tidak ada yang lucu," kesal Jason karena istrinya justru tertawa menanggapinya.


"Memang tidak ada yang lucu, hanya ingin tertawa saja," kata Lily.


"Atau mungkin kamu tidak percaya sama apa yang aku katakan tadi?" Tanya Jason menatap Lily penuh selidik.


"Tidak, tidak, bukannya aku tidak percaya, hanya saja jika kamu nanti berhenti bekerja, nanti kita mau makan pakai apa? Makan pake cinta saja tidak cukup sayang untuk membuatku kenyang, lagian kamu juga tau sendiri, makanku banyak."


"Ya sudah kita numpang makan saja sama Ayah," jawab Jason cuek.

__ADS_1


"Loh kok gitu, tidak bisa begitu dong sayang."


"Bercanda sayang, serius banget," Jason melonggarkan pelukan dan duduk menghadap istrinya, meraih tangan Lily dan menggenggamnya erat.


"Aku tidak mungkin membiarkan istri dan anak-anakku kelaparan, aku akan bekerja keras agar nantinya kebutuhan kalian terpenuhi, karena aku sayang kalian dan aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kalian."


Mendengar itu, Lily langsung berhambur ke pelukan suaminya. "Aku juga sangat menyayangimu."


"Oh ya Sayang!" Lily melonggarkan pelukan agar bisa menatap wajah Jason. Tangan Lily terulur dan menyentuh wajah suaminya.


"Aku ingin anak kita nanti mirip denganmu," kata Lily.


"Tapi aku maunya mereka mirip sama kamu gimana?" balas Jason.


"Ya udah mirip kita berdua, tapi sifatnya harus mirip aku, nanti kalau mirip kamu bisa-bisa rumah ini membeku," kata Lily yang mendapatkan ciuman di seluruh wajahnya.


"Oh ya, tapi bukankah sudah lama mencair ya?"


"Iya ayahnya, tapi kalau anaknya yang dingin nanti siapa yang mau nyairin?"


"Tentu saja pasangannya," kata Jason menatap istrinya setelah menghentikan aksinya.


"Sayang masih lama, kenapa malah membicarakan pasangan anak kita," Lily menepuk paha suaminya pelan.


"Haha ampun, iya iya aku minta maaf, ya sudah ayo turun! Ayah dan Liora pasti sudah menunggu kita untuk sarapan," ajak Jason pada sang istri. 


Melihat itu, Jason pun segera mengangkat tubuh istrinya.


"Ke kamar mandi dulu, aku mau cuci muka," kata wanita yang dalam gendongan Jason, menunjuk kamar mandi.


"Siap my queen," kata Jason langsung menuruti istrinya.


Lily hanya tersenyum, Jason menurunkan dan mendudukkan istrinya di atas closet.


"Kamu ngapain masih disini?" Tanya Lily yang melihat suaminya masih berdiri di depannya.


"Tentu saja menunggu, takutnya nanti kamu perlu sesuatu."


"Tidak, tidak, aku bisa sendiri, kamu keluar saja," kata Lily yang tidak mungkin membiarkan suaminya masih ada disana. 


"Baiklah ya sudah, aku tunggu di sana saja ya," jawab Jason menunjuk ke arah sofa.


"Kamu kalau mau turun dulu juga tidak apa-apa," kata Lily dan Jason menggeleng.


"Tidak, aku akan menunggumu disini," ucap Jason yang tidak mau mendengarkan ucapan istrinya dan malah kini sudah duduk.

__ADS_1


"Baiklah, aku hanya sebentar," setelah mengatakan itu, Lily pun segera masuk ke kamar mandi.


Jason mengambil ponselnya dan memainkannya sambil menunggu Lily.



"Kalian kapan jadi pindah ke lantai bawah? Kasihan Ale harus bolak-balik naik turun tangga," tanya Alan yang melihat Lily turun dari tangga, tidak ingin putri kesayangannya kelelahan apalagi kondisi Lily sedang hamil.


Lily dan Jason saling pandang, hingga akhirnya Jason mengeluarkan suaranya menjawab pertanyan Alan "Kemungkinan besok, hari ini rencananya mau pindahin barang-barang kita, soalnya kemarin-kemarin belum sempat."


Alan pun mengangguk mengerti, "Ya sudah ayo makan! Ayah harus ke rumah sakit, kalau butuh bantuan minta tolong saja sama Bibi, jika kalian tidak sempat lagi," ucapnya mengajak anak menantunya untuk makan.


"Oh ya Kak Liora kemana?" Tanya Lily yang tidak melihat keberadaan Liora.


"Liora sudah pergi sejak pagi-pagi sekali, dia bilang ada urusan mendadak, dia juga terlihat terburu-buru perginya," beritahu Alan yang memang tahu bahkan melihat kepergian Liora.


Jason dan Lily pun mengangguk, "Oh ya Ayah, nanti jangan lupa datang ke butik, untuk fitting baju Ayah," kata Lily mengingatkan.


Alan mengangguk mengerti, dan ketiganya pun kini makan dengan tenang.


*


*


"Terima kasih Pak," ujar Liora kemudian buru-buru turun dari taksi.


Liora masuk ke dalam dan segera masuk ke dalam lift, menekan sebuah angka dan berharap lift akan segera mengantarnya ke tempat tujuan.


Ting


Setelah lift terbuka, dengan cepat Liora keluar dan memencet bel, tapi tidak kunjung terbuka, Liora kemudian mengambil ponselnya, kemudian mencoba menghubunginya tapi nomor yang dihubungi nya justru tidak aktif, dengan cepat Liora berbalik dan kembali menuju lift.


Begitu sampai di bawah, Liora berlari keluar, menghentikan taxi dan mengatakan kepada sang supir tempat yang akan ditujunya.


Taxi pun segera melaju mengantarkan Liora, hingga tak lama mereka pun sudah berada di tempat tujuan.


"Sudah sampai Nona," ucap sang supir.


Liora segera turun setelah mengucapkan terima kasih.


Liora berlarian masuk mengedarkan pandangan kesana kemari, tapi dia sama sekali tidak menemukannya.


"Dimana kamu?" Gumam Liora menengok kanan kiri.


Langkah Liora terhenti saat mendengar pengumuman keberangkatan pesawat.

__ADS_1


Liora berjalan gontai mencari sebuah tempat duduk disana. Tampak gadis itu duduk sambil terus menatap ponselnya. Dan dirinya pun menoleh ke arah sampingnya saat melihat seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya.


__ADS_2