Please Love Me

Please Love Me
Part 112


__ADS_3

"Ada apa ini? Kenapa kalian memeluk istriku seperti itu?" Tanya Jason yang baru saja pulang.


Ketiganya melepaskan pelukan. Dan menatap seseorang yang membuyarkan suasana kebersamaan ketiganya.


"Pengganggu!" Kata Al yang kemudian berdiri dan kembali duduk di kursinya.


Jason tak mempedulikan ucapan Al, dia kemudian menghampiri ayah mertuanya, mencium punggung tangannya, kemudian langsung mencium kening istrinya dan terakhir mendaratkan bibirnya di bibir Lily.


Alan menggeleng, dan Al mendengus dan memutar bola matanya malas.


"Kalau mau bermesraan di kamar saja, jangan disini, bikin sakit mata aja," kata Al meraih remote tv dan mengeraskan volumenya.


"Kalau iri bilang, makanya cari gadis yang bisa diajak mesra-mesraan," ketus Jason dirinya masih tidak terima karena Al memeluk istrinya, entah kenapa Jason masih saja cemburu karena itu, apalagi Jason tahu jika Al pernah menyukai Lily. Ya walaupun status mereka ternyata Kakak adik, tapi cemburu ya tetap saja cemburu.


Alan kemudian bangkit dari duduknya, malas mendengar perdebatan anak dan menantunya setiap kali berkumpul. "Ayah ke kamar dulu!" Pamitnya kemudian segera berlalu tidak ingin lama-lama disana.


Lily kemudian mengambil jas Jason yang disampirkan di lengan pria itu, padahal Jason tadi berangkat tidak memakai jas hanya kemeja saja, dan kini dia pulang dengan jasnya, jawabannya karena Jason menyediakan itu di mobil, jika memang ada keperluan mendesak yang mengharuskannya langsung ke kantor, dimanapun dirinya saat itu berada.


"Capek," kata Jason manja.


"Iya nanti aku pijitin," kata Lily dengan senyuman yang terukir di sudut bibirnya.


"Peluk dulu untuk menambah energi yang terkuras hari ini," kata Jason yang tanpa menunggu persetujuan istrinya langsung memeluknya erat.


"Peluk dulu untuk menambah energi yang terkuras hari ini," ucap Al menatap bantal sofa sambil menirukan suara Jason.


Lily dan Jason langsung melepas pelukan mereka dan menoleh ke arah Al.


"Gila!" Kata keduanya bersamaan.


Al yang kesal dikatai oleh Adik dan adik Iparnya, melempar bantal yang tadi diajaknya bicara ke arah keduanya. Lily bersembunyi di belakang tubuh suaminya dan Jason dengan cepat menangkap bantal yang dilempar Al, agar tak mengenai dirinya ataupun sang istri.


Dan setelah itu, pelakunya justru kabur meninggalkan tv dalam keadaan  yang masih menyala.

__ADS_1


"Untung Kakak Ipar, kalau bukan sudah aku lempar ke sungai," kata Jason Asal.


"Ih sayang jahat banget, masa Kak Al dilempar ke sungai,  lebih baik ke samudra saja," kata Lily tanpa merasa bersalah.


"Lah itu kamu malah lebih jahat sayang," Jason mencubit hidung istrinya gemas,  keduanya pun kemudian tertawa.


"Ke kamar yuk!" Ajak Lily mengedipkan sebelah matanya genit lalu menggandeng lengan suaminya.


"Dengan senang hati sayang," Jason tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh istrinya menuju ke kamar mereka.


***


Al yang mengendarai mobil tanpa tujuan kini justru memberhentikannya di halaman sebuah rumah sakit yang sangat familiar untuknya.


"Masuk, tidak, masuk, tidak, masuk," Al menghitung kancing kemeja yang dikenakannya, menimbang antara mau masuk atau tidak, tidak hanya menghitung sekali, tapi berkali-kali, hingga akhirnya Al pun memutuskan untuk masuk menuruti perhitungan dirinya pada kancing kemeja, kepintaran Al saat ini, sepertinya sedang disimpan dan tidak digunakan untuk sementara, karena jelas terbukti sekarang, kancing kemeja Al ada 5, dan jika Al menimbangnya dengan kata masuk terus, tentu saja hasilnya pasti masuk, entahlah Al sadar atau tidak sadar saat melakukannya.


Al berjalan menuju ke tempat dimana Kakak perempuan adiknya dirawat. Begitu sampai di pintu, Al kembali dilanda keraguan, apa alasan yang harus Al sampaikan di dalam nanti, dan lagi-lagi kepandaian Al disimpan, memangnya mendatangi orang yang dirawat di rumah sakit butuh alasan? Menjenguk ya menjenguk saja, kenapa harus mencari-cari alasan.


Al yang hendak membuka pintu, langsung mengurungkan niatnya, Al langsung berbalik badan dan akan melangkah, tapi..


Pintu di belakangnya kini terbuka lebar, dan terdengar seseorang berbicara dengannya.


"Nak Alvaro," suara  Vega terdengar menyapanya.


Al kemudian menggaruk tengkuknya dan berbalik badan, memaksakan senyumnya.


"Ehem, Eh Bibi," Al berdehem menetralkan keterkejutannya, saat Vega tiba-tiba ada di belakangnya.


'Kenapa berdiri di situ? Ayo masuk!" Vega kini mempersilahkan Al untuk masuk, menemui dan berbincang dengan putrinya.


Al bisa merasakan, Vega kali ini sedikit berbeda, wanita itu lebih ramah ketika menyambutnya. Dan entah kenapa Al merasa lega.


"Sayang, lihatlah siapa ini yang datang!" Kata Vega pada putrinya dengan senyuman yang teramat lebar.

__ADS_1


Dahlia langsung menyisir rambutnya dengan tangannya. Menegakkan duduknya, dan merapikan pakaiannya. Walaupun masih mengenakan pakaian pasiennya, tapi tetap saja harus rapi kan? apalagi di depan pria yang disukainya.


"Kak Al!" Ucap Dahlia yang berusaha tenang, walaupun jantungnya sudah berdetak tak normal.


"Oh hai," sapa Al.


"Kak Al kenapa kesini lagi?" Tanya Dahlia, dan Dahlia sontak saja merutuki dirinya sendiri karena mengatakan itu, tapi hanya dalam hati saja.


"Kamu gimana sih sayang, Nak Al ya pasti mau jenguk kamu, masa masih saja bertanya," ucap Vega yang menjawab pertanyaan putrinya.


"Oh ya, Ibu tinggal dulu ya, Nak Al Ibu titip Lia ya, Ibu harus pulang dulu, nanti akan kesini lagi," ucap Vega sengaja membiarkan putrinya lebih dekat dengan lelaki yang dicintainya.


Al hanya mengangguk, Dahlia melotot mendengar perkataan Ibunya, padahal Ibunya baru saja bilang tidak mau pulang, saat tadi Dahlia memintanya pulang dan sekarang, Ibunya tiba-tiba berpamitan pulang dan menitipkan dirinya pada Al. Dahlia bukan tidak tahu Ibunya melakukan itu, apalagi jika tidak untuk memberikan kesempatan agar dirinya bisa berduaan dengan Al.


"Bu!" Dahlia menatap Ibunya memberikan kode, agar Ibunya tidak meninggalkannya.


"Nak Ibu titip Lia ya," setelah mengatakan itu, Vega langsung buru-buru keluar, dan Dahlia hanya bisa menghembuskan nafas.


"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Al yang baru saja melihat ekspresi Dahlia.


"Tidak ada, Kak sebaiknya Kak Al pulang saja, istirahat, pasti Kak Al capek, apalagi kemarin seharian Kak Al sudah jagain aku," kata Dahlia merasa tidak enak pada pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang Dahlia tidak tahu apa artinya tatapan itu.


"Kamu butuh sesuatu? Tanya Al tanpa menanggapi perkataan Dahlia.


Dahlia hanya bisa menggeleng, tanpa niat membuka suaranya.


"Baiklah, kalau begitu istirahat saja," ucap Al yang kemudian duduk di kursi di samping brankar.


Dahlia pun hanya diam sambil memandangi Al yang kini sudah sibuk dengan benda pipih berbentuk persegi panjang yang dipegangnya.


Untuk kesekian kalinya Dahlia menghela nafas berat melihat sikap Al, yang kadang baik, perhatian, juga mengesalkan seperti sekarang ini, karena dia sibuk dengan dunianya sendiri dan mengabaikannya.


"Jangan melihatku seperti itu, awas nanti jatuh cinta!"

__ADS_1


Deg


Perkataan Al begitu mengejutkan Dahlia yang sedang sibuk dengan pikirannya. Sedari tadi Al ternyata memperhatikannya, itu yang Dahlia baru tahu.


__ADS_2