
Brak
Terdengar benturan cukup keras.
"Maaf sepertinya bagian belakang mobil menabrak pembatas jalan, lagian kenapa mobilnya tadi malah berjalan mundur?" Kata Lily minta maaf tapi ujung-ujungnya justru menyalahkan mobil.
"Tidak apa-apa, namanya juga baru pertama kali," kata Jason mencoba tetap tenang.
Kemudian Jason pun kembali mengajari Lily, dan akhirnya Lily bisa membawanya. Tapi Jason justru mual dengan cara berkendara Lily. Perutnya benar-benar terasa diaduk-aduk karena Lily terus saja berhenti mendadak. Pusing yang tadi hanya pura-pura menjadi pusing sungguhan.
Tapi syukurlah, jarak mereka tadi bertukar posisi tidak terlalu jauh dari rumah Jason, sehingga membuat Jason tidak sampai pingsan.
Setelah sampai di halaman rumah Jason, Jason pun langsung turun dari mobil mengeluarkan isi perutnya, melihat itu Lily jadi merasa bersalah, bukannya pria itu kondisinya membaik, kini justru semakin parah saja.
Lily pun turun dan berlari membantu Jason yang hampir limbung.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Lily khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja, tolong bantu aku ke dalam, kepalaku semakin pusing," ucap Jason lemah.
Lily memapah Jason untuk masuk ke dalam rumah. Tapi Lily kemudian kema
bali menoleh ke arah mobil Jason di parkirkan. "Tapi mobilnya," kata Lily kemudian menunjuk mobil pria itu.
"Biarkan saja, bantu aku masuk sekarang, aku ingin tiduran," ucap Jason yang memang saat ini benar-benar merasa tidak enak pada perut dan sakit pada kepalanya.
Lily melihat Jason, pria itu kini memang terlihat tidak baik-baik saja, dan tanpa banyak kata, Lily membawa Jason masuk dan membantunya menaiki tangga menuju kamar pria itu.
"Antar aku ke kamar mandi," pinta Jason dengan suara yang teramat pelan.
"Lily pun pasrah saja, bagaimanapun Lily harus bertanggung jawab atas kejadian ini, Jason seperti itu karena dirinya, apalagi Lily juga merasa bersalah karena sudah merusak mobil pria yang saat ini sedang dia papah.
"Aku tunggu di luar, jika sudah kamu panggil saja," kata Lily hendak meninggalkan Jason tapi segera tangannya itu ditahan oleh pria itu.
__ADS_1
"Kenapa harus keluar, tidak tunggu disini saja," kata Jason yang membuat wajah Lily memerah membayangkan hal yang membuatnya malu sendiri.
Tak
Jason menjitak kepala Lily pelan, "Jangan berpikir yang tidak-tidak," kata Jason yang menahan tawanya melihat ekspresi wajah Lily tadi.
"Siapa juga yang berpikiran tidak-tidak, kau sendiri pasti yang berpikiran aneh-aneh, jika tidak mana mungkin kau menahanku dan menyuruhku menunggumu di dalam kamar mandi, apa jangan-jangan kau merencanakan sesuatu?" Lily menatap Jason dengan tatapan menyelidik.
"Sembarangan saja, apa salahnya aku memintamu menunggu disini, aku hanya ingin membasuh wajahku saja, dan aku takut nanti terjatuh karena tidak berpegangan, karena kepalaku yang rasanya seperti berputar-putar," jelas Jason yang langsung membuat wajah Lily semakin memerah karena malu, ini semua gara-gara perkataan Jason tadi, hingga Lily memang sempat memikirkan hal yang iya-iya, bukan tidak-tidak lagi.
"Sudahlah cepat, aku akan menunggumu," kata Lily memalingkan wajahnya.
Jason tersenyum geli melihat Lily, hingga dia segera membasuh wajahnya dan setelahnya, Lily menuntun Jason untuk menuju ranjang dan membantu pria itu membaringkan badannya.
Terdengar suara ponsel berdering, Jason dan Lily sama-sama mencari suara ponsel, karena ternyata nada dering ponsel mereka berdua sama. Begitu mengambil ponselnya, ternyata yang berdering bukan milik Jason, dan Jason pun menatap Lily yang kini menempelkan ponselnya itu di telinga.
"Halo Kak Al," jawab Lily setelah panggilan terhubung.
"Ya, sebentar lagi aku akan pulang, maaf aku lupa mengabari, ya sudah aku tutup dulu teleponnya ya Kak, hmm tidak perlu Kak, aku bisa pulang sendiri," jawab Lily saat Al bertanya dengan khawatir kenapa dirinya belum pulang, bahkan tidak mengabari apapun, dan Al bahkan menawari akan menjemput tapi Lily menolaknya.
"Kak Al," jawab Lily singkat.
"Ada apa dia menelponmu?" Tanya Jason lagi benar-benar merasa penasaran.
"Kak Al hanya bertanya kenapa aku belum pulang," jawab Lily jujur.
"Ya sudah aku buatkan minuman hangat dan makanan untukmu, kau pasti lapar ini juga sudah masuk jam makan malam," kata Lily yang kini berjalan meninggalkan Jason, dan Jason hanya melihat Lily pergi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lily pun menuju ke kulkas, mencari ada bahan masakan apa saja di sana, kemudian mengambilnya dan kemudian diracik dan diolah menjadi makanan yang terlihat lezat.
Di tengah acara memasaknya, tiba-tiba ada sepasang tangan melingkar di perutnya membuat Lily begitu terkejut.
"Aku sedang memasak," jawab Lily gugup yang mendadak mendapat pelukan Jason dari belakang.
__ADS_1
"Ya aku tahu, lanjutkan saja! Aku tidak akan mengganggumu," jawab Jason yang menumpukan dagunya di bahu Lily sambil memperhatikan tangan gadis itu yang sedang berkutat dengan alat-alat dapur.
"Kamu begini saja sudah menggangguku, bagaimana aku memasak jika kamu memelukku seperti ini," kesal karena Jason tidak mengerti maksudnya. Bagaimana Lily akan konsentrasi memasak jika saat ini dia takut Jason mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang, apalagi Lily tidak bisa bergerak bebas untuk mengambil ini dan itu.
"Please, biarkan seperti ini! Aku sangat merindukanmu," Jason berbisik di telinga Lily.
Lily juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika saat ini dirinya pun sangat merindukan pria itu, tapi entahlah, Lily benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Sudah lepaskan," setelah beberapa menit Lily membiarkan Jason memeluknya sesuai keinginan pria itu, kini Lily meminta Jason untuk melepaskan.
"Lepaskan Jason!" Kata Lily lagi saat Jason enggan untuk melepaskan pelukannya.
Lily menghembuskan nafas panjang karena lagi dan lagi Jason tidak menuruti perintahnya. "Aku harus memindahkan dan membawa makanan ini ke meja makan," Lily menjelaskan kenapa dia meminta Jason melepaskan pelukan itu.
"Biar aku bantu," Jason mengalah, dia melepaskan pelukannya kemudian membantu Lily membawa beberapa makanan yang gadis itu masak ke meja makan.
Lily hanya membiarkan saja, pria itu membantunya, dia sedang tidak ingin berdebat.
Setelah selesai membawa semua masakan yang Lily masak, mereka berdua menarik kursi dan duduk di sana, kemudian mulai memakan makananya.
Suasana sangat hening hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu, baik Lily maupun Jason hanya diam sambil menikmati makanan mereka.
Jason menatap Lily hendak bicara tapi akhirnya mengurungkan niatnya dan itu tidak hanya sekali dua kali.
"Lily apakah kau benar-benar akan pulang? Kenapa tidak menginap disini lagi saja?" Jason berucap memecah keheningan.
Lily meletakkan sendoknya dan menatap Jason, saat mendengar apa yang pria itu tanyakan.
"Aku harus pulang, karena aku tidak enak pada Kak Al dan Ayahnya, apalagi aku tinggal di rumah mereka."
Uhuk uhuk
Jason yang sedang minum langsung terbatuk-batuk mendengar apa yang baru saja Lily katakan.
__ADS_1