Please Love Me

Please Love Me
Bab 225


__ADS_3

Liora menghela nafas, kemudian berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Menatap lurus kedepan, kemudian menatap Ronald yang kini berdiri membelakanginya.


"Sekarang katakan! Aku akan menghormati apa yang kamu putuskan, seperti kamu menghormati keputusanku," kata Liora akhirnya setelah tadi terdiam memikirkan hal itu.


"Apa kamu juga mencintaiku?" Tanya Ronald ragu.


"Hmm, apa kamu tidak merasakannya?


"Sejak kapan?" Bukannya menjawab pertanyaan Liora, Ronald justru kembali bertanya.


"Entahlah."


Ronald kemudian berjalan mendekat dan duduk bersimpuh di hadapan Liora.


"El aku juga mencintaimu, sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah memiliki ketertarikan padamu, kamu berbeda dengan wanita-wanita itu."


"Itu yang membuatmu tertarik hingga akhirnya jatuh cinta padaku?" Ekspresi Liora kini berubah mendengar perkataan Ronald barusan.


"Bukan El, kamu jangan salah paham, intinya aku benar-benar suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu. Oke mungkin kamu tidak semudah itu percaya pada ucapanku, kamu pasti sudah mendengar dari keluargaku atau mungkin dari kakakmu, aku pria seperti apa, ya aku memang sering-sering berganti wanita dan mungkin kamu juga beranggapan jika ucapanku mungkin hanya rayuan saja, tapi El, yang aku katakan sungguh-sungguh, sekarang kamu tatap mata aku, lihatlah! Apa dimataku ada kebohongan?" Kata Ronald yang kini memegang kedua bahu Liora.


Liora menurut, benar apa yang Ronald katakan, dia tidak melihat kebohongan di mata pria itu.


"Tapi wanita-wanita itu…"


"Aku bisa jelaskan semuanya, tapi tidak sekarang, aku janji nanti, aku pasti akan ceritakan semuanya," ucap Ronald sungguh-sungguh.


"El aku mungkin memang tidak hanya punya satu wanita, tapi itu dulu El, sekarang setelah mengenalmu, aku meninggalkan mereka, aku memilihmu, karena apa? Karena hanya kamu yang benar-benar aku cintai, aku ingin berjuang, tapi mendengar keputusanmu kemarin, aku tidak punya pilihan lain selain menghormati keputusanmu, kamu tahu El mendengar apa yang kamu katakan kemarin, betapa sesak rasanya hatiku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu keputusanmu, terlebih kamu melakukan itu karena demi keluargamu."


Liora menangkup wajah Ronald agar pria itu menatapnya.


"Jika itu bukan keputusanku, apa kamu mau berjuang demi cinta kita?"


"Apa maksudmu? Itu bukan keputusanmu?" Ronald mengernyitkan dahi bingung mendengar ucapan Liora.


Liora melepaskan tangannya dari wajah Ronald kemudian mengangguk. Ronald bangun dan duduk di samping Liora.


"Aku terpaksa mengatakan itu, karena ada yang mengawasiku," bisik Liora.


"Ada yang mengawasimu?"

__ADS_1


"Ssstt! Jangan keras-keras!" Kata Liora menempelkan jari telunjuknya di bibir Ronald.


Ronald meraih jari telunjuk Liora kemudian meraih tangan Liora dan mengecup punggung tangannya, seketika membuat wajah Liora memerah bahkan jantungnya berdebar kencang. Liora menunduk, berusaha agar Ronald tidak melihatnya.


"Jadi maksudnya bagaimana? Kenapa kamu terpaksa mengatakan itu?" Ronald kini menggenggam tangan Liora erat, enggan untuk melepaskannya.


Liora menghela nafas panjang, setelah berhasil menetralkan detak jantungnya. Kemudian menatap Ronald yang kini tengah menatap tautan tangan mereka.


"Kak Max takut jika kita bertemu lagi, dan lebih takut lagi, jika aku tinggal kembali di apartemenmu, makanya dia menyuruh orang untuk mengawasiku, huft rasanya tidak enak terus diawasi seperti ini, kau tahu bahkan orang itu masih ada di depan," adu Liora.


"Jadi kemarin…"


"Iya, dan kau bukannya menjelaskan dengan lantang, malah pergi begitu saja," bibir Liora kini sudah cemberut mengingat kejadian kemarin.


"Maaf, aku benar-benar tidak tahu, aku kira kamu sudah memutuskan seperti itu, dan aku memilih untuk menghormati apapun keputusanmu, aku tidak ingin hubunganmu dan keluargamu renggang hanya karena aku," Ronald menatap Liora penuh sesal.


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, semua juga sudah berlalu. Terus apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Liora menatap Ronald, dalam hati berharap jika pria itu tetap akan melanjutkan hubungan mereka.


Ronald terdiam cukup lama, membuat Liora merasa was-was, tidak siap mendengar jawaban pria itu.


Ronald menunduk dalam, dan entah kenapa rasa kecewa menyelimuti hati Liora, Liora  berpikir jika Ronald pasti akan menolaknya dan tidak ingin menjalani hubungan dengannya.


"Ayo kita berjuang bersama-sama, aku akan berusaha untuk mendapatkan izin dari keluargamu, aku akan berjuang untuk cinta kita," ucap Ronald yang kini mengangkat wajahnya.


Liora berbalik badan dan langsung berlari memeluk Ronald, dan dengan senang hati Ronald pun membalas pelukannya.


"Tapi kita tidak boleh terlalu senang dulu, karena ku rasa perjuangan kita masih panjang," ucap Ronald mengingat Liora akan kenyataan bahwa semuanya takkan semudah itu bisa mereka dapatkan.


"Iya kau benar, kurasa kita harus diam-diam menjalani hubungan kita saat ini," ucap Liora sedih, karena tidak mungkin jika mereka harus terang-terangan jika Max saja masih belum merestuinya.


"Tapi tidak apa-apa, yang terpenting sekarang, aku tahu jika kamu mencintaiku," kata Liora yang kini melepaskan pelukan Ronald dan menatap pria itu.


Ronald tersenyum dan mencium kening Liora lama. Ternyata perasaannya sekarang tidaklah bertepuk sebelah tangan.


"Ehem, ehem!" Lily berdehem hingga Liora dan Ronald langsung memisahkan diri. 


Liora mendengus kesal saat Lily, kini justru berada disana dan mengganggunya. 


"Maaf mengganggu, tapi sebaiknya kalian jangan bermesraan disini," kata Lily menyuruh Liora dan Ronald bergeser, kemudian kini dirinya duduk di tengah-tengah di antara mereka.

__ADS_1


"Lily!" 


"Kenapa?" Lily menatap wajah Liora dan muka polosnya.


"Tidak apa-apa," Liora bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal karena Lily mengganggunya.


"Aku mengizinkan kalian berbicara disini, tidak tahu apa yang aku lakukan benar atau tidak," ucap lirih Lily.


Lily kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Apa kau menyesal sudah membantuku?" Tanya Liora yang kini duduk menghadap Lily.


Lily menoleh menatap Liora, meraih tangan Liora dan menggenggamnya.


"Aku tidak menyesal membantu Kak Liora, tapi aku hanya takut jika keputusanku membantu Kakak justru membuat Kakak terluka."


"Lily!" Liora langsung memeluk Lily erat.


"Aku janji, aku akan berusaha untuk membahagiakan El, aku akan berubah, aku tidak akan menyakitinya," ucap Ronald tiba-tiba yang sedari tadi hanya mendengar ucapan Liora dan Lily.


"Aku tidak butuh janjimu, aku hanya ingin kau membuktikan apa yang tadi kau ucapkan," kata Lily melepaskan pelukan Liora dan menatap Ronald.


"Ya, aku akan membuktikannya," ucap Ronald mantap.


"Lebih baik kita menonton tv," Lily mengambil remote dan menyalakan televisi.


Keduanya mengangguk, membiarkan wanita hamil itu, melakukan apa yang ingin dilakukan.


Ketiganya kini larut dalam acara yang ditontonnya.


Ronald melihat Lily dan Liora tampak fokus pada layar di depannya. Ronald pelan-pelan mengulurkan tangannya ke samping lewat sandaran sofa, tepatnya belakang kepala Lily yang kini duduk bersandar.


Ronald perlahan mengusap rambut Liora, membuat gadis itu langsung menoleh dan tersenyum melihat Ronald.


Liora kemudian mengangkat tangannya ke atas, mengulurkannya ke samping, menggenggam tangan Ronald, pandangan Liora dan Ronald lurus ke depan, dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain di belakang sofa.


Tak lama, terdengar langkah kaki mendekat, Lily tersenyum saat melihat bahwa suaminya lah yang datang. Tapi bukannya tersenyum, Jason justru terlihat seperti sedang marah.


"Sayang kemarilah!" pinta Lily agar Jason menghampirinya.


Bukannya menuruti apa yang istrinya katakan, Jason justru menatap tajam ke arah mereka.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?"


__ADS_2