Please Love Me

Please Love Me
Bab 318


__ADS_3

Jason yang hendak masuk ke dalam kamar anak-anaknya merasa heran saat melihat istrinya kembali naik dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar mereka.


Jason melanjutkan masuk, dan saat melihat anak-anaknya belum bangun, Jason memilih keluar dan menyusul istrinya.


Begitu masuk, Jason melihat istrinya berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang menempel di telinganya sambil terus menggerutu.


"Kenapa sayang?" Tanya Jason.


"Menghubungi Kak Al, tapi tidak dijawab-jawab."


"Mungkin Kak Al sibuk."


Lily menatap ponsel dengan layar menampilkan foto Al, panggil lagi dan batal.


Lily menghela nafas, melangkah dan duduk di atas ranjangnya.


Jason mendekat dan duduk di samping Lily.


"Kenapa? Ada masalah?"


Lily menatap suaminya dan mengangguk.


"Ayah berencana mengenalkan anak putri temannya pada Kak Al.


"Lalu?" Jason mengernyit, kala melihat istrinya yang tampak gelisah.


Lily memberengut kesal mendengar respon Jason.


"Kok lalu sih sayang, harusnya ayah tidak mengiyakannya, dan yang membuatku heran, kak Al justru setuju-setuju saja, makanya aku menelpon kak Al, mau mengatakan jika kak Al tidak suka, kak Al bisa menolak dan aku akan mendukungnya."


"Jadi karena itu?"


Lily mengangguk kemudian menatap suaminya, "Sayang, kamu bantu aku ya, tolong bilang sama ayah untuk membatalkan rencananya itu, aku tidak mau kak Al hanya terpaksa melakukan ini karena merasa tidak enak pada teman ayah itu."


"Maaf sayang, aku tidak bisa melakukannya, jika itu sudah menjadi keputusan Al sendiri."


"Sayang, aku yakin Kak Al terpaksa mengiyakan."


"Kenapa kamu seyakin itu? Bagaimana jika memang itu keinginan kakakmu," Jason kemudian mengangkat tubuh Lily dan mendudukan di atas pangkuannya.


"Lagian biarkan saja, mungkin dengan ini Al bisa move on, apa kamu mau, kakak kamu terus tersiksa pada perasaannya terhadap Dahlia. Kamu bahkan bisa melihat sendiri bagaimana hubungan Dahlia dan kekasihnya, mereka sudah bahagia. Lalu Al? Jadi biarkan dia mencoba membuka hatinya untuk orang lain, agar dia tidak terus terikat dengan perasaan yang hanya membuatnya semakin tersiksa. Biarkan kakakmu menentukan jalan bahagianya sendiri. Kakakmu sudah dewasa, dia pasti tahu apa konsekuensi dari setiap keputusannya. Jika dia memang mengiyakan, berarti dia memang sudah memikirkan hal itu," jason melingkarkan kedua tangan di perut istrinya dengan dagu yang dia sandarkan di bahu Lily.


"Aku sudah sering mengatakan bukan, kita tidak perlu terlalu ikut campur, aku tahu kamu adiknya, tapi sayang, kadang yang menurut pandangan orang lain baik, bukan berarti itu juga baik buat kita. Al pasti tahu yang terbaik untuk dirinya, dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Apa kamu mengerti?"


Lily mengangguk, Jason yang gemas menarik dagu Lily dan segera mencium istrinya itu.

__ADS_1


Tapi hanya sebentar karena tiba-tiba pintu didorong kasar.


"Cinta mengucek matanya, sedangkan Uli kini tengah menangis, keduanya masuk ke dalam kamar orang tuanya.


Lily segera beringsut lalu turun dari ranjang mengangkat tubuh putrinya yang kini tengah menangis.


"Cup, cup, kenapa menangis hmm? Sudah besar, bangun tidur masih nangis?" Ujar Lily sambil menghapus air mata di wajah putri keduanya itu.


Sedangkan Jason dia juga mengangkat tubuh Cinta dan mengajaknya ke kamar mandi, untuk sekalian mandi.


"Tadi Vian nakal, dia pergi ngajak kak Cinta, Uli mau ikut tidak boleh," ujar putri Lily itu disela-sela tangisnya.


Lily hanya tersenyum, tahu jika putrinya itu pasti habis bermimpi.


"La kan kak Cinta lagi mandi tuh sama ayah, tadi Uli juga ke kamar ibu sama kak Cinta."


"Uli juga mau mandi, nanti kak Cinta pergi ninggalin Uli."


"Iya, ibu ambil pakaian kalian dulu ya?" 


"Tidak mau, mau sekarang!" Berontak Uli yang tidak sengaja tangannya mengenai wajah Lily cukup kencang.


"Aduh sakit sayang."


Jason yang baru keluar dari kamar mandi untuk mengambil handuk yang tadi dia lupa bawah segera mengambil alih Aulia dari gendongan istrinya.


Lily menggeleng memegang wajahnya yang masih agak sakit.


"Biar anak-anak sama aku aja."


Lily mengangguk, kemudian berlalu keluar. Lily menuju kamar anak-anaknya dan mengambil pakaian mereka, kalau peralatan mandi tidak perlu karena memang sudah tersedia di kamarnya, mengingat Cinta dan Aulia juga sering mandi bersamanya.


Lily kembali ke kamarnya, saat hendak masuk, dia memilih menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik pintu, saat mendengar kedua putrinya tampak sedang berbicara serius.


"Ayo minta maaf sama ibu!"


Lily tersenyum saat mendengar Cinta yang kini berbicara.


Lily mengintip melihat bagaimana reaksi Uli.


Gadis kecil itu menggeleng sambil menunduk.


"Kenapa tidak mau minta maaf, adek salah walaupun adek tidak sengaja, jadi tidak ada salahnya bukan untuk minta maaf."


Uli lagi-lagi menggeleng. Sementara Lily mengusap air matanya, dia merasa terharu mendengar penuturan putrinya.

__ADS_1


"Kamu takut? Ibu tidak akan marah, sebentar lagi ibu kesini, nanti kakak temani kamu minta maaf sama ibu ya?"


Putri kedua Lily mengangkat wajah dan menatap kakaknya, kemudian mengangguk.


Lily menarik nafas, kemudian mendorong pintu yang tadi memang sudah terbuka.


"Ayo pakai baju dulu!" Ujar Lily meletakkan baju anak-anaknya di atas ranjang.


"Ayah mana?"


"Mandi."


Lily mengangguk mengerti.


"Ibu." Lily menatap Uli yang memanggilnya, dengan wajah menunduk dan tangan yang meremas ujung bajunya. Dengan sabar Lily menunggu putrinya itu berbicara.


"Uli minta maaf," ucapnya setelah beberapa menit Lily dengan sabar menunggu.


"Uli tadi tidak sengaja," tambahnya kemudian.


Lily tersenyum dia yang memang sudah selesai memakaikan pakaian anaknya  langsung saja memeluk kedua putrinya.


"Hmm ibu maafkan," jawab  Lily.


"Ada apa ini? Kok peluk-pelukan ayah tidak diajak," ucap Jason yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Pakai dulu pakaiannya ayah," ujar Lily dan Jason hanya mencengir lalu melangkah dengan cepat ke walk in closet. Tak lama dia kembali keluar dan memeluk ketiga perempuan yang sangat dia sayangi.


"Sudah kayak teletubies aja," gurau Jason yang kemudian mengurai pelukan mereka.


"Ibu, kak Cinta lapar."


"Ya sudah ayo turun! Tadi nenek sudah memasak makanan kesukaan kalian," kata Lily yang membuat kedua putrinya bersorak senang.


Bahkan Aulia dan Cinta kini menarik tangan Lily di sisi kiri dan kanannya dengan semangat. Soal makanan mereka memang nomor satu.


Jason berjalan mengikuti sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua putrinya.


"Cepat mau naik, Cinta lapar."


"Uli juga!" Ucap keduanya yang ingin naik ke kursi tapi kesusahan hingga Jason pun mendekat dan membantu Aulia karena Cinta kini sudah berhasil naik sendiri.


Lily mengambilkan makanan untuk anak-anak dan suaminya baru kemudian untuk dirinya sendiri. Mereka pun melahap makanan mereka hingga tandas.


Lily yang akan bangkit urung saat ayahnya memanggil dan mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Ale ada yang harus ayah jelaskan tentang kenapa ayah mengiyakan teman ayah untuk mendekatkan Kak Al dan putrinya."


__ADS_2